P(r)awira

Patung Demang Wanapawira di Piyaman Wonosari. KH/WG
Patung Demang Wanapawira di Piyaman Wonosari. KH/WG

Para ksatria, termasuk di dalamnya ratu, dalam ‘sistem kelas’ masyarakat ‘kraton’ atau ‘krajan’; segala hal yang berhubungan dengan konsep ‘ratu’ atau ‘raja’, dalam konsep ‘negara-bangsa’ yang konon disebut ‘demokrasi’ diwakili petinggi lembaga negara. Para ksatria adalah orang-orang yang personalitasnya dibentuk oleh, minimal, jawaban atas pertanyaan tentang ‘phala’: buah atau ‘woh‘ atas aksi, kerja, dan darma apa yang telah dan sedang dilakukannya bagi golongan ‘kelas’ lain yang ‘seakan’ terus dicoba dipayunginya. Para Ksatria, oleh karena hal ini, sering disebut ‘pahlawan’ bagi kelas ‘liyan’, atas kontribusinya mengalih-ubah kerja/aksi menjadi buah-buahan (‘palaning labuh-labet‘) yang ditanam. Kemakmuran, kedamaian, kerukunan, dan sebangsanya. Kelas lain bisa merasakan kenikmatan ‘buah’ ini. Secara psiko-seksual, baik personal maupun komunal, mereka ‘hamengku’ (memangku) dan ‘maku’ (memaku) bumi. Lahirlah ‘phala’; biji. Palawiji(a), wiji(a)pala.

Maka, ksatria adalah ‘phala’-wan (pahlawan): yang menanam biji (barangkali juga termasuk Gadjah Mada yang menanam ‘phala’ di rahim Ibu Ratu, Ibu Bumi; Sumpah Phalapa [Jawa Kuna ‘alapa’: menikmati], kemudian lahirlah Si Phala, si raja besar yang oleh ‘sejarah’ dikenang sebagai Hayam Wuruk; salah satu ‘phala’ Nusantara yang mampu menali berbagai ‘kelas’ (rumpun-bambu) di Asia Tenggara, bahkan hingga Asia, sebagai ‘mitra-satata‘) dan yang bekerja untuk menghasilkan biji. Para prajurit di kehidupan komunitasnya.

Jenis kehidupan yang dikabarkan: menjadi beradab.

Laku Demang Wanap(r)awira ‘mengonversi’ atau ‘mentransformasi’ ‘wana‘, dalam makna ‘hutan yang lebat pepohonannya, misterius, dan gawat’, menjadi ‘wana‘ yang menurut ukuran peradaban waktu itu lebih bisa ‘diatur’ oleh komunitasnya. Ia bisa disebut laku seorang pahlawan atau prajurit. Oleh aksinya, dibantu sang kakak yang mewakili kelas brahmin, ‘wana‘ yang hutan teralih-ubah menjadi ‘wana‘ yang tegal, yang kebun, yang pekarangan. Unsur ‘wana‘ yang sekarang cenderung berganti pakaian berbentuk kelahiran dusun, desa, pasar, juga kota praja. Sementara bagian yang tidak berubah (sebagai ‘mekanisme pertahanan diri’ rohaniyah/mental hutan; yang di waktu kini bisa diterjemahkan sebagai hutan-kota, atau konsep hijau; di saat yang bersamaan mekanisme-organik ini juga berupa situs keramat alamiah pohon besar di tengah kepadatan hunian manusia modern: dusun, desa, dsb) merupakan irisan antara ‘wana’ yang misterius-sakral dengan ‘wana‘ yang gamblang-profan. Wilayah semacam ini sekarang umum disebut ‘wana‘: lahan garapan para petani (Gunungkidul) menanam biji. Menyemaikan ‘phala‘.

Wanap(r)awira menanam ‘phala‘ di ‘wana‘ yang sari (Uma) sebagai alih-ubah ‘wana‘ yang menakutkan nan misterius (Durga; Gadhung Mlathi). Wana (yang telah terkonversi menjadi tegalan, dusun, kota, pasar, dsb.) adalah bentuk alih ubah Durga-Uma, juga Gadhung Mlathi-Sri. Maka, wana menjadi ‘wanasari‘; hutan yang menurut bahasa ‘kekuasaan’ dan ‘kekuatan’ manusia indah. Serumpun (sekelas) dengan Wanantara, Wana-adri, Wanagiri, dst. Wanasari adalah ‘phala‘, biji, yang ditanam oleh komunitas Wanasari, yang Wanap(r)awira sebagai prajuritnya, pahlawannya. Dalam relasinya dengan keperanan Wanap(r)awira di tengah komunitasnya. Namun sebagai perwalian wangsa Wanasari dan sekitarnya, dialah yang menanam biji kehidupan di bumi yang sebelumnya disebut Hutan Nangka Dhoyong itu.

Babal itu toh bakal gori. Gori, bukan dalam maksud ‘berdarah-darah’ ya, adalah bentuk awal nangka. Dan nangka, merupakan ‘phala‘ (buah) yang dipetik, dinikmati (kamukti) oleh wangsa Wanap(r)awira. Di wilayah Nangka Dhoyong. Ia, sang ksatria, harus memanah babal untuk mendapatkan Sang Putri; Rara Sudarmi: anak berjenis putri dari Ibu Bumi Wanasari. Dengan tumpahnya darah Si Puspawilaga, si bunga perang (ya, akhirnya, harus dengan darah juga; namanya juga ritus kesuburan). Pernikahan pun terjadi. Biji Si Wanap(r)awira mulai disemaikan di rahim bumi. Disuburkan dengan darah (air). Para kulawangsa, kulawarga, semakin ramai. Mereka berolah tani.

Biji adalah bakal buah, benih; semacam bentuk babal bagi nangka. Dalam proses bertani di kehidupan masyarakat Gunungkidul sekarang ini, biji (phala) harus dipersiapkan sungguh-sungguh. Dipilih. Dipilah. Disimpan. Di lumbung. Di pringgitan. Di senthong. Ditunggulah waktu yang tepat ketika akan ditanam. Para among tani memperjuangkan biji unggul agar nantinya dapat ‘tuwuh‘. Kuat bertahan. Meninggi. Maka tanah diolah. Dirabuk. Rerumputan ‘didhudhuhi‘, ‘didhangiri‘. Hama dijauhkan. Manuk ‘diwedeni’ (dengan Memedi Sawah). Satu siklus tanam sekelompok ‘tanduran‘ sedari perkawinan, hamil, lahir, dewasa, hingga panen, membutuhkan perjuangan berat, berliku. Termasuk pula usaha para petani. Di wana-tegalan.

Petani Gunungkidul setia mengolah lahan kering tadah hujan. KH/WG.
Petani Gunungkidul setia mengolah lahan kering tadah hujan. KH/WG.

Petani merupakan sebuah kelas yang di sistem kraton maupun negara (lazimnya) berada di ‘hirarki’ paling bawah. Namun hasil (phala) kerja mereka berguna untuk menghidupi kelas yang lain. Menyokong peradaban ‘wana‘ (tegalan, sawah, pekarangan) yang ‘asri’ (subur, indah) di Gunungkidul ini. Biji, tanaman, hingga hasil panen (yang selalu diupacarai) lah yang mengantarkan para petani sejajar dengan laku para ksatria; sebagaimana Wanap(r)awira (ksatria-hutan) melahirkan peradaban Wanasari. Bukankah nilai kap(r)awiran, keprajuritan, dan kepahlawanan sesungguhnya berproses justru pada pelaku yang menghadapi tingkat kesulitan yang berat? Seperti petani yang mengubah tegalan di undak-undakan batu kapur kemudian mampu merubahnya menjadi kemakmuran dan kebahagiaan? Nelayan dengan ombak yang tinggi; petani dengan sulitnya ‘wana‘ diolah; guru yang telaten mentransformasi murid yang bengal; dan sebagainya dan sebagainya?

Ya, mungkin demikian.

Reog Gagrak Gunungkidul, rupa seni pertunjukan olah kaprawiran para petani. KH/WG
Reog kaprajuritan gagrak Gunungkidul, rupa seni pertunjukan simbol-simbol kaprawiran kaum petani. KH/WG

Dan di setiap waktu kulawangsa Gunungkidul, yang dalam golongan kelas sosialnya tak harus sebagai ksatria, akan selalu melakukan aksi kap(r)awiran di bidangnya masing-masing. Kemudian di suatu waktu-mitis di saban tahunnya spirit ini diekspresikan sebagai reyog kap(r)awiran, keprajuritan, kepahlawanan; gambaran ketika ‘phala‘ (biji) tanaman padi, kacang, jagung, dsb. telah dipanen, lantas dibawa ke ‘omah‘ yang sesungguhnya: ‘diwangsulke‘ (dihaturkan kembali) kepada Tuhan Yang Hamong Tuwuh.

Rasulan.

Mereka, sebelumnya, dengan menunduk, menanam sebuah ‘phala‘ (biji). Mencumbui ‘wana-marta‘, melahirkan ‘wanamarta’ yunior: kemakmuran terus menerus (amarta). Kelak, para anak-cucu akan memanen ‘phala‘ (buah). Dari pohon ‘kal(a)pa’ (kalpataru) yang kokoh, kukuh laksana seorang p(r)awira.

Kap(r)awiran itulah leluhurnya.

___

Penulis: Wong Gunung.

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar