Pirografi, Seni Melukis Unik Yang Dikembangkan Di Gunungkidul

Ujang Wascom sedang mengerjakan pesanan lukisan. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Umumnya seni lukis menggunaan kertas dan kanvas. Belum lama ini seni lukis menggunakan media kayu atau biasa disebut Pirografi dikembangkan di Wonosari, Gunungkidul.

Lajang yang akrab disapa Ujang Wascom (38) warga Pandansari, Wonosari, Gunungkidul ini telah memulainya sejak sekitar setengah tahun lalu. Bisa dibilang peralihan profesi yang sebelumnya melayani jasa tattoo lalu menekuni Pirografi ini diawali ketidaksengajaan.

Ditemui Senin, (23/10/2017) Ujang menuturkan, momentum dirinya memulai Pirografi diawali saat ia diminta oleh saudara rekannya, Krisna, untuk membuat papan nomor meja dengan bahan kayu untuk sebuh rumah makan.

“Waktu itu sempat membandingkan beberapa pilihan cara menuliskan nomor meja. Akhirnya dipilih ditulis dengan alat pemanas atau solder,” terang Ujang mengisahkan hasil karya pirografi pertama kali buatannya.

Ide tersebut muncul karena dirinya sebelumnya pernah melihat seni lukis dengan teknik menggosongkan area gambar di sebuah laman internet. Semenjak membuat nomor meja ia kemudian mencoba mengembangkan kemampuannya dengan membuat beberapa karya lukisan.

Bersama Krisna kemudian Ujang membikin sebuah sanggar sebagai tempat produksi. Pengenalan karya melalui medsos untuk memasarkan seni Pirografi juga mulai dirintis. Ia melayani jasa lukisan wajah sesuai pas photo, foto keluarga, serta lukisan tematik lainnya.

“Biaya jasa tiap lukisan bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Paling rendah berkisar Rp. 300 ribuan. Jenis lukisan dengan harga tersebut biasanya selesai dalam 2 hingga 3 hari,” papar lelaki bertatto ini.

Sementara itu, untuk lukisan yang lebih besar dapat ia selesaikan antara 5 hingga 7 hari. Selain pesanan datang dari teman atau kenalan, ada pula dari orang yang datang dari luar daerah setelah melihat karya-karya Ujang yang terpublikasi. Ditambahkan, karya dengan harga rekor termahal yang berhasil dibuat dengan mengandalkan kelembutan gerak tangan tersebut pernah menyentuh nominal Rp. 5 juta.

Sambung dia, untuk papan kayu sebagai bidang gambar selalu digunakan kayu jati belanda. Kayu yang telah mendapat perlakukan oven tersebut dinilai paling ideal, awet dan tahan jamur. Semenjak pesanan semakin banyak dirinya mulai melengkapi alat gambar berupa beberapa jenis Pirografi Pen. Untuk memenuhi kebutuhan alat yang menunjang kemudahan melukis, beberapa alat lukis dibuat sendiri dengan memodifikasi perangkat alat-alat elektronik.

“Selama ini dalam satu bulan kami menerima order jasa lukis antara 5-6 lukisan. Semoga semakin ramai,” harap lelaki yang hobi memancing ini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar