Petani Semangka Gigit Jari Menjelang Lebaran

oleh
PALIYAN, Kabarhandayani, — Keinginan para petani semangka dan melon di Desa Sodo untuk panen raya menjelang datangnya Idul Fitri 2014, gagal tercapai. Sebagian besar tanaman mereka mati dan membusuk akibat hujan beberapa minggu yang lalu.
“Saat menanam semangka dan melon di bulan Mei 2014 lalu, target kami ingin panen raya beberapa hari menjelang Idul Fitri. Namun hujan yang terus turun beberapa minggu lalu, menggagalkan target kami,” ujar Warjo (40), petani semangka warga Desa Sodo, di lahannya, Kamis (24/07/2014).
Warjo menjelaskan hujan aneh beberapa minggu lalu telah membuat  panen semangka dipercepat  dari yang seharusnya dipanen minggu ini. Banyak buah semangka yang dibiarkan berserakan begitu saja di antara daun dan batangnya yang layu. Semak dan rerumputan pun dibiarkan tumbuh liar begitu saja.
“Sebenarnya masih ada sebagian buah yang bisa diambil dan dijual, meskipun hanya dihargai sebagai buah kelas B dan C yang harganya lebih murah dibandingkan buah kelas A atau super. Namun kebanyakan pemiliknya frustasi dan membiarkan buah-buah itu tergeletak di lahannya,” ujar Warjo
Untuk menutup biaya tanam, sebagian petani ada yang sudah menjual buah semangka dan melon yang tak membusuk. Semangka kelas B laku Rp 1.500,-/kilogram dan kelas C Rp 800,-/kilogram. Hal ini dilakukan untuk mengurangi tingkat kerugian.
“Agar kerugian tidak terlalu besar, semangka yang tersisa dijual. Biasanya semangka dan melon yang masuk kelas B dan C hanya dijual di pasar Sodo,” imbuhnya
Warjo terpaksa tidak dapat berlebaran seperti tahun lalu yang selalu membelikan baju pada anak dan istrinya. “Lebaran tahun ini kita jalani dengan sederhana karena memang sedang mengalami kerugian, jadi lebih baik uang sisa akan digunakan untuk modal musim tanam berikutnya,” pungkasnya. (Atmaja/Tty).

Komentar

Komentar