Petani Patuk Berhasil Terapkan Sistem Tanam Padi Jarwo Super

oleh
Penyemperotan agensia hayati di lahan pertanian Jarwo Super Desa Pengkok, Patuk. KH.

PATUK, (KH),– Teknologi Jajar Legowo (Jarwo) Super mungkin sudah seringkali terdengar, namun kelompok Tani di Desa Pengkok, Kecamatan Patuk sedang belajar bersama-sama dengan BPTP Balitbangtan Yogyakarta tentang teknologi ini.

Sebelum praktek penanaman, sebagaimana disampaikan Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Kabupaten Gunungkidul, Ir. Raharjo Yuwono, sebelum penanaman, tanah diolah menggunakan bajak dan garu. Pemberian bahan organik dan biodekomposer merupakan tindakan wajib untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Penanaman dengan jarak tanam legowo 2:1 menggunakan alat mesin Transplanter untuk efisiensi waktu dan tenaga tanam dilaksanakan oleh kelompok tani sejak tanggal 4 April 2019 lalu.

“Bibit yang digunakan adalah bibit umur muda 14 hari yang telah diberi selimut benih menggunakan Agrimeth,” kata dia, Kamis, (13/6/2019).

Dijelaskan, pertumbuhan dan karakter 3 VUB padi (Inpari 30 sub-1, Inpari 33 tahan WBC dan Inpari 43 Green Super Rice) dipelajari oleh petani dengan baik, sehingga saat ini petani telah mulai menyukai salah satu atau dua atau kesemua varietas tersebut.

Pengelolaan air menggunakan pipa AWD (pengairan basah kering) juga dipelajari bersama-sama untuk meyakinkan bahwa tanaman padi bukanlah tanaman yang harus digenangi air secara terus menerus sepanjang hidupnya, namun harus dikeringkan dalam periode waktu tertentu.

“Termasuk bagaimana cara Pengendalian hama penggerek batang padi, wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri dan penyakit blas dengan tepat juga dipelajari bersama-sama,” ujar Raharjo Yuwono.

Tak hanya itu saja, menyangkut pengaruh penggunaan biosinta (biosilika), feromon penggerek batang padi, bioprotektan, dan agensia hayati Beauveria bassiana, PGPR, dan Corynebacterium juga dievaluasi bersama-sama oleh petani.

Direncanakan awal Juli petani dapat menikmati hasil panen dengan baik. Penggunaan alat panen combine harvester nantinya, diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil panen serta mengurangi jumlah tenaga kerja dan mempersingkat waktu panen.

Menurut dia, hal terpenting dalam kegiatan ini adalah petani mempunyai pengetahuan, keterampilan dan sikap yang selalu terus lebih baik dalam mengelola tanaman padinya dimusim tanam selanjutnya. (Kandar)

Komentar

Komentar