Permintaan Sorgum Potensial, Sayang Petani Belum Mampu Penuhi Produksi

oleh
Harjono tetap mengupayakan Sorgum agar berhasil. KH/ Kandar.
Harjono tetap mengupayakan Sorgum agar berhasil. KH/ Kandar.

PLAYEN, (KH)— Uji coba sekaligus Demplot Tanaman Sorgum di Gunungkidul yang difasilitasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Playen pada Oktober 2014 silam sudah dinyatakan berhasil. Keberhasilan tersebut juga berbuah pengakuan dari 18 negara yang sempat meninjau langsung uji coba produksi tanaman ini.

Keberhasilan berupa penemuan varitas baru sorgum tersebut dinilai cocok untuk ditanam pada lahan pertanian Gunungkidul. Banyak pihak berharap penanaman dalam skala besar terus dikembangkan. Bahkan BATAN menginginkan adanya perluasan lahan tanam oleh para petani pelaksana demplot. Begitu juga Pemkab Gunungkidul, dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan sumber pangan alternatif atau lokal juga telah menghimbau dan mendorong untuk dikembangkan.

Faktanya, upaya tindak lanjut meliputi keseluruhan proses hingga panen sorgum siap jual atau diolah menemui banyak kendala. Adanya beberapa faktor penghambat ditengarai mengakibatkan upaya optimalisasi hasil agar berdampak nyata terhadap ekonomi petani penanam belum tercapai. Sebagaimana diungkapkan kelompok petani penanam, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidorahayu di Padukuhan Playen 1, mereka merasakan hal demikian.

Harjono, Seksi Komunikasi dan Pengembangan Gapoktan Sidorahayu beberapa waktu lalu mengutarakan, terdapat kendala mengenai faktor alam, berupa siklus musim yang berpengaruh pada minat petani untuk menanamnya. Apabila musim tanam pertama, masyarakat tetap lebih memilih menanam padi. Selain itu, gangguan lain pada saat menjelang masa panen, yakni adanya serangan burung pipit pemakan biji sorgum.

“Manfaatnya sebenarnya banyak. Pakan ternak, bahan baku roti dan kue, bahan minuman serta dapat juga menjadi bioetanol. Kendala penanaman, petani kebanyakan hanya dapat menanam sehabis musim tanam pertama (setelah menanam padi). Selain itu burung juga sangat menyukai biji sorgum,” jelas dia.

Karena itu, sambung dia, tanaman sorgum menurutnya juga tidak begitu cocok dengan tanah yang terlalu basah atau semi sawah. Pun demikian hal ini juga terkait minat warga, kebanyakan masih enggan menanam sorgum. Mereka lebih memilih padi sebagai tanaman utama saat musim hujan datang. Para petani berendapat, jaminan panen berikut hasil yang diperoleh dari menanam sorgum ini rendah, karena adanya kendala penjualan dalam hal kontinuitas dan jumlah tonase yang harus dipenuhi.

Ketika pihak peminat atau calon pembeli menginginkan ketersediaan sorgum secara kontinyu, dengan periode waktu teratur, petani penanam belum mampu menyediakannya. Diakui, semenjak pengujian tiga varitas sorgum unggul yakni jenis Samurai 1, Samurai 2, dan Pahat, banyak tanggapan positif dari luar daerah yang berminat membeli hasil panen itu.

Beberapa wilayah telah mengkomunikasikan untuk melakukan pemesanan, ada dari Kalimantan, NTB dan NTT. Ada pula permintaan benih sorgum yang digunakan untuk penyuburan bekas tambang. Ada juga pesanan dari wilayah Bali untuk pakan ayam aduan, tetapi petani tidak sanggup karena permintaan rutin dalam setiap bulannya.

“Kenyataannya kita belum mampu, tidak kita sanggupi mengirim permintaan satu ton tiap bulan ke Bali. Selain ketersediaan panen sepanjang tahun tidak ada, panen belum maksimal dengan adanya serangan burung. Ke luar wilayah, kita pernah melakukan pengiriman batang sorgum ke Bogor untuk dibuat sirup,” terang Harjono.

Apabila dirangkum, beberapa kendala tersebut di antaranya serangan hama burung pada fase pengisian biji atau sekitar umur 75 hari. Tanpa ada pencegahan, burung dapat menghabiskan 60 persen biji dari keseluruhan lahan.

Selanjutnya, yakni minat petani untuk menanam, hal ini dipengaruhi faktor kebiasaan yang kuat pada musim tanam pertama, ditambah dengan kecenderungan ketidakcocokan sorgum pada saat curah hujan tinggi. Ditambah lagi apabila dijual dipasar lokal, harga dirasa terlalu rendah. Sementara itu upaya melayani permintaan luar wilayah terkendala ketersediaan panen dan tonase yang kurang memenuhi permintaan.

Menurut BATAN, ungkap Harjono, jenis Samurai 1 tergolong sorgum manis (sweet sorghum). Tingkat kemanisan cairan nira dari batang jenis ini mencapai 12 derajat briks. Sorgum ini berpotensi sebagai bahan baku pembuatan bioetanol dan juga pakan ternak.

“Hitungan per hektar dari jenis Samurai 1 dapat dipanen 7,5 ton biji sorgum, juga berpotensi menghasilkan sekitar 1000 liter bioetanol,” ulasnya.

Lantas, sambung Harjono, jenis Samurai 2 merupakan sorgum hijau (green sorghum). Jenis ini memiliki biji lebih besar sehingga berpotensi 8,5 ton per hektar. Dengan masa panen 113 hari jenis ini cocok sebagai sumber pangan alternatif.

Harjono berpendapat, sebenarnya sorgum ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat petani di Gunungkidul, tetapi kendala-kendala yang ada hingga saat ini belum terpecahkan. Terkait antisipasi serangan burung, pihaknya sudah melakukan sejumlah eksperimen penanggulangan.

“Pertama buah dibungkus plastik tetapi menjadi busuk, lalu menggunakan kertas koran dan daun jati, tetap tidak maksimal. Hal ini juga berpengaruh pada penyerbukan,” papar dia.

Lalu, lanjut dia, melakukan pemasangan jaring yang dibentangkan di atas hamparan Sorgum, tetapi burung menyerang melalui samping. Terakhir, ia buat jaring-jaring kecil, berukuran 40 cm x 15 cm, jaring ini untuk membungkus satu hingga dua buah tangkai biji sorgum.

“Sehingga butuhnya sangat banyak, saya sudah buat 500-an jaring, mudah-mudahan berhasil,” harap dia.

Kini, Harjono menanam lagi jenis Samurai 2 pada lahan seluas 5000 meter persegi. Sementara, para petani lainnya menurun minatnya untuk menanam sorgum. Ia tetap bersikeras mengupayakan agar berhasil dengan jumlah panen maksimal.

Kelompoknya, menurut penuturan Harjono juga berencana melakukan upaya yang kedua kalinya setelah yang pertama kali gagal untuk mendapat sertifikasi benih dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Karena, ketika sudah bersertifikasi dapat menjual benih berlabel, kemudian nilai harga juga bisa distandarkan.

Berragam upaya petani Sorgum menanggulangi burung pemakan biji. KH
Berragam upaya petani Sorgum menanggulangi burung pemakan biji. KH

_____________

Beberapa catatan tentang sorgum:

Keunggulan Tanaman Sorgum: Tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, biaya produksi relatif lebih murah, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman.

Kegunaan Tanaman Sorgum:

  • Biji : Beras Sorgum, Tepung, Mie, dan bahan baku industri meliputi etanol, bir, sirup, lem, cat, pati termodifikasi.
  • Batang dan daun : Pakan ternak.
  • Nilai gizi : per 100 gram mengandung Kalori 332 cal, Protein 11,0 g, Lemak 3,3 g, Krbohidrat 73 9, Kalsium 28 mg, Besi 4,4 mg, Fosfor 287 mg, Vitamin B1 0,23 mg.

* dari berbagai sumber.

(Kandar)

Komentar

Komentar