Penyandang Disabilitas: Stop Stigma Difabel Hanya Menengadahkan Tangan

oleh
Saryono dengan berbagai burung peliharaannya. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Hari ini, Selasa, (3/12/2019) merupakan Hari Disabilitas Internasional. Momentum ini menjadi hari penting bagi penyandang disabilitas, sebab tujuan peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu kecacatan, hak-hak  fundamental para penyandang disabilitas dan integrasi para penyandang disabilitas dalam setiap aspek kehidupan utama seperti aspek sosial, politik, ekonomi dan status budaya masyarakat mereka.

Salah satu penyandang difabel asal Desa Wareng, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Saryono mengutarakan harapan, agar masyarakat lebih bijak menilai penyandang disabilitas. Masyarakat agar tak dengan mudah memberi stigma atau cap buruk bahwa difabel hanya mengandalkan bantuan dan mengharap belas kasihan.

“Kami juga ingin mandiri, meski awalnya sebagian memang mungkin butuh dampingan untuk pemberdayaan,” kata dia, Senin, (2/12/2019).

Sebagai seorang yang mengalami daksa kedua tangan, Saryono tetap gigih menatap hari esok. Pasca kedua tangannya diamputasi karena kecelakaan kerja di perantauan tahun 2012 silam tak sedikitpun menyurutkan semangatnya.

“Saya mengalami kecelakaan kerja tersengat aliran listrik, mau tak mau dua tangan harus diamputasi. Saya masih bersyukur masih tetap hidup. Usai tak lagi kerja di perantauan, saya usaha pelihara burung kicauan,” papar dia menceritakan singkat kisah perjalanan hidupnya.

Selain memelihara burung kicauan, Saryono membuka usaha jualan pakan burung dan pernak-perniknya. Usaha tersebut dinilai linier dengan kegiatan yang lebih dulu digeluti. Sejak tahun 2015 usaha jualan pakan burung mulai dirintis. Ia menyewa kios desa yang berada di sebelah lapangan Desa Wareng sebagai tempat jualan.

Pasang surut perjalanan usaha dirasakan sejak 2015. Ia juga mencoba mengikuti ragam usaha lain yang dinilai prospektif. Salah satunya jualan asesoris kandang burung. Dalam peroide waktu tertentu Saryono juga menyesuaikan burung peliharaan dengan jenis burung yang sedang naik daun.

“Pelihara burung bisa dibilang musiman. Kami ikuti saja itu,” kata dia sembari membersihkan kandang burung.

Beberapa kali ia juga mencoba membudidayakan tanaman sayur. Saryono selalu ingin memanfaatkan waktu luang. Apa yang bisa dikerjakan untuk menambah penghasilan maka akan ia lakukan.

Diakui, awal mula mengalami keterbatasan tidak lagi memiliki lengan yang utuh dengan jemari ia merasa kesulitan menjalani berbagai aktivitas. Namun spiritnya untuk memberikan pembiayaan bagi kelangsungan hidup dan biaya pendidikan anak membuatnya tak menyerah.

Ketua Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD) Desa Wareng ini berkeinginan agar teman-temannya sesama difabel tidak patah semangat untuk terus berusaha agar hidup mandiri. Kendati masih terus berusaha menegakkan tiang perekonomian bagi keluarganya sendiri ia juga bersemangat memotivasi teman-temannya di lingkup Desa Wareng agar berdaya.

“Bagi teman yang benar-benar terbatas beraktivitas ya kami memberi edukasi kepada keluarganya,” terang Saryono.

Penyandang disabilitas yang lain, Supriyadi juga tak kalah gigih dengan Saryono, meski kondisi kakinya tak sempurna, ia mampu mendirikan dan menjalankan usaha sablon.

“Saya mulai usaha sejak Agustus 2015, ya saya bikin segala jenis sablon, bisa kaos, sablon plastik, gelas, cetak,undangan, dan lain-lain,” terang Ketua Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkdiul (FKDG) ini.

Dirinya menegaskan ingin menunjukkan bawah dalam keterbatasan tetap mampu berusaha, berkarya hingga mandiri. (Kandar)

Komentar

Komentar