Pengrajin Gula Kelapa Di Nglipar Berupaya Tetap Bertahan

oleh
Gula kelapa saat dicetak. KH/ Bilal.

NGLIPAR, (KH),– Industri rumah tangga pembuatan gula kelapa yang dijalankan oleh masyarakat di Kecamatan Nglipar sebagian masih bertahan. Pengrajin gula kelapa di Nglipar kebanyakan berada di Padukuhan Ngangkruk dan Sriten, Desa Pilangrejo, dan beberapa yang lain berada di Desa Natah.

Warga pengrajin mengambil atau menyadap nira dari pohon kelapa milik mereka kemudian mengolahnya. Dalam hal pemasaran, produk warga tersebut biasanya dibeli oleh pengepul lokal. Atau terkadang dijual langsung ke konsumen dan sebagian lain dijual ke toko-toko kelontong.

Pengrajin gula jawa, Muryani (40), mengatakan, setiap hari masyarakat pengrajin gula melakukan produksi. Mulai dari penyadapan hingga produksi kemudian dijual.

“Mulanya wadah bambu (bumbung) yang digunakan untuk menampung air nira dituangi beberapa tetes air kapur sirih yang sudah diendapkan. Air kapur sirih tersebut sebelumnya direndami kulit kayu sampang dan tanaman tapas angin,” tutur Muryani.

Lanjutnya, Ramuan tersebut merupakan obat yang dipercaya bisa membuat kualitas gula menjadi baik dan alami. Gula berwarna kuning kecoklatan, keras namun mudah dipecah dan awet jika disimpan. Dalam pembuatannya tanpa menggunakan bahan kimia.

Di Bunga (mayang) kelapa yang sudah diiris tipis memotong setebal 0,5 cm kemudian dipasang wadah bambu tadi untuk menampung getah (nira). Proses penyadapan dilakukan pada pagi dan sore hari menggunakan alat pemiotong (sabit) khusus.

Nira yang sudah dikumpulkan kemudian disaring dan dipanaskan di api ukuran sedang namun stabil hingga membentuk karamel. Selama sekitar 2 jam sambil diaduk terus menerus. Cairan nira akan berubah menjadi sangat kental. Kemudian air nira yang sudah mengental dicetak ke dalam cetakan yang terbuat dari tempurung kelapa.

“Harga per gendel atau per keping gula mencapai Rp. 5000. Sebenarnya hasilnya lumayan,” ungkap Muryani. Sehingga apabila warga memiliki 10 pohon kepala, maka hasil yang akan diperoleh hampir mencapai Rp. 2 juta tiap bulan.

Semakin berkurangnya minat masyarakat karena resiko pekerjaan yang berbahaya, membuat hasil produksi dari waktu ke waktu tidak ada peningkatan.

Ditambah kurangnya kesadaran masyarakat untuk menanam kelapa untuk pemerajaan, juga menyebabkan stagnan bahkan kian berkurangnya jumlah produk gula jawa yang dihasilkan masyarakat setempat.

Benturan lain yang semakin memojokkan pengrajin gula yakni harga madu asli yang dihasilkan oleh lebah di hutan sekitar area penyadapan semakin menggiurkan. Masyarakat pun mulai melirik peluang budidaya lebah madu. Ini merupakan masalah nyata bagi para pengrajin gula kelapa karena lebah madu bisa menghisap nira yang disadap.

“Bahkan ada petani yang kehilangan separuh lebih niranya akibat diserbu lebah,” jelas Muryani lagi.

Guna mempertahankan keberadaan industri rumah tangga tersebut, pemerintah membentuk kelompok masyarakat produsen gula kelapa. Hadir mendampingi, mensuport, dan memberikan bantuan stimulan berupa uang dan peralatan. Bahkan beberapa dusun ditetapkan sebagai sentra industri gula kelapa. Namun hal ini belum dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktifitas gula kelapa. Sebab, minat masyarakat terhadap profesi ini kenyataannya semakin menurun. (Bial)