Pengajuan Dana Rekonstruksi Pasca Bencana Senilai Rp. 107 M Belum Jelas

oleh
Warga Jelok, Beji, Patuk, Gunungkidul melintas di jembatan darurat. Jembatan lama yang rusak sedang diperbaiki. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Dana yang diajukan ke pemerintah pusat guna penanganan pasca bencana alam banjir yang terjadi di Gunungkidul akhir 2017 lalu belum ada kelanjutan yang jelas. Dana yang diajukan tersebut sediannya akan digunakan untuk merekonstruksi ratusan rumah dan jembatan yang hancur.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edi Basuki MSi belum lama ini mengatakan, berdasarkan data BPBD terdapat sekitar 100 unit rumah  dan 7 jembatan hancur.

“Usulan permintaan bantuan rencanannya diperuntukkan bagi rumah yang rusak total. Selain itu juga untuk membangun jembatan,” katanya.

Sementara ini, korban yang rumahnya rusak total ada yang tinggal menumpang bersama anggota keluarga atau saudaranya yang lain. Ada juga yang masih dalam hunian sementara. Sedangkan untuk jembatan yang rusak, sementara waktu warga ada yang membuat jembatan darurat.

“Seperti warga di Padukuhan Jelok, mereka bikin jembatan darurat. Di wilayah lain guna pembangunan jembatan segera terealisasi, masyarakat juga membuat usulan pembangunan jembatan gantung ke bupati,” terangnya.

Pihaknya berharap segera ada kejelasan dari pemerintah pusat terkait usulan bantuan yang disampaikan. Jika nanti dana benar-benar turun pelaksanaan rekonstruksi akan segera dilaksanakan.

“Usulan juga disampaikan ke Kementerian Keuangan. Jika nanti dana turun, sebelum warga menerima akan ada tahap verifikasi agar tepat sasaran,” tukas Edi.

Terpisah, tokoh warga di Padukuhan Jelok, Sukriyanto menyebutkan, pasca jembatan yang menjadi akses warga rusak, dibangunlah jembatan darurat. Warga juga berusaha mencari donatur non pemerintah guna perbaikan jembatan dapat segera terlaksana. Ratusan warga di dua dusun saat ini telah memulai memperbaiki jembatan yang rusak. Beberapa bagian serta material jembatan lama yang masih dapat difungsikan akan dipakai lagi.

“Jika nanti hujan tiba, jembatan darurat praktis tidak bisa dipakai. Kemudian jika jembatan yang akan dibangun lagi belum selesai kami terpaksa kembali memanfaatkan perahu untuk penyeberangan,” jelas Sukriyanto. (Kandar)

Komentar

Komentar