Penelitian: Ada Hambatan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Di Gunungkidul

Pelaksanaan Desiminasi hasil penelitian terkait penyeloenggaraan pendidikan inklusif di Gunungkidul. KH/ Wibowo.

WONOSARI, (KH),– Pendidikan Inklusif yang dicanangkan pemerintah Indonesia sejak tahun 2009 belum berjalan dengan optimal di Gunungkidul. Hal ini terungkap setelah dilakukan penelitian pada sektor pendidikan inklusif di daerah Pesisir DIY telah dilakukan oleh Yayasan Edukasi Anak Nusantara (YEAN) yang bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Direktorat Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK), dan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2015.

“Terdapat beberapa kendala yang dialami guru dalam proses implementasi pendidikan inklusif di sekolah,” terang Ketua YEAN, KPH Wironegoro usai mengahadiri Desiminasi Hasil Penelitian yang digelar di Pemkab Gunungkidul, Selasa, (29/8/2017).

Berdasar hasil peneletian kendala-kendala tersebut diantaranya; ketidakmampuan guru dalam mengidentifikasi karakteristik siswa berkebutuhan khusus, belum adanya rancangan pembelajaran yang mengakomodasi keragaman kebutuhan siswa di kelas; serta adanya kesulitan guru untuk mengelola iklim kelas.

Kendala-kendala tersebut menggambarkan masih terdapatnya barriers (hambatan) dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Salah satu pendekatan dalam pembelajaran agar dapat meminimalisasi hambatan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah Universal Design for Learning (UDL).

Untuk itu, lanjut KPH Wironegoro, guna meminimalisir hambatan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Yogyakarta, YEAN, Univesity of Sydney serta Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta, mengembangkan penelitian dalam mengimplementasikan prinsip UDL tersebut di sekolah inklusif di Gunungkidul. Pihaknya lalu mendesiminasikan hasil penelitian yang berjudul Developing a Strategy for Building Teacher’s Capacity to Supportt All Children in Pesisir Gunungkidul.

Sementara itu, salah satu asisten peneiliti, Tya Inayatilah menuturkan, Pendekatan UDL ini menekankan bagaimana guru dan pengembang kurikulum dapat mengidentifikasi dan meminimalkan hambatan melalui perencanaan pembelajaran yang efektif dengan berfokus pada engagement.

“Selain itu dilakukan juga pengajaran bermakna yang dapat dilihat lewat berbagai macam kegiatan untuk mengukur pemahaman siswa. Penelitian ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru tentang prinsip UDL. Serta meningkatkan kapabilitas dan sensitivitas guru dalam menemukan dan meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kelas sehingga siswa mampu menghargai perbedaan,”urainya.

Dalam kesempatan  yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Bahron Rasyid mengungkapkan, di Kabupaten Gunungkidul ada 240 sekolah yang telah menyelenggarakan pendidikan inklusif.

“Seluruh guru sudah mendapatkan pelatihan dan seluruh sekolah sudah memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus,” kata Bahron. Sambung dia, dalam desiminasi hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat perubahan pemahaman guru mengenai pendidikan  inklusif. Guru  memahami  bahwa penyelenggaraan  pendidikan  inklusif  di kelas adalah pendidikan yang mempertimbangkan keragaman kebutuhan siswa. Guru juga mampu membuat profil siswa di dalam kelas serta memodifikasi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan prinsip UDL.

Diinformasikan pula, penelitian sebelumnya melibatkan 4 sekolah dasar inklusif di Kecamatan Purwosari, Kabupaten  Gunungkidul dengan 12 orang  peserta. Penelitian ini  berlangsung  dalam rentang bulan Agustus 2016 –April 2017. (Wibowo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar