Penderita Radang Ginjal: Kenapa Minuman Kemasan Itu Tetap Dijual?

A’ad, penderita sakit ginjal karena terlalu banyak minum minuman kemasan. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH)— Di Bangsal Dahlia, A’ad terbaring lemas. Ia menjadi salah satu penghuni sementara kamar bersama dalam satu kawasan ruang yang memang dikhususkan untuk rawat inap pasien anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari.

Senin, (27/3/2017) lalu, seluruh tempat tidur yang tersedia dibangsal Dahlia penuh terisi. Namanya saja kamar khusus anak-anak, kegaduhan suara rengekan dan tangisan balita cukup sering pecah terdengar hingga riuh. Kondisi bising itu nampaknya membuat pemilik nama asli Miftahul Ashad Humam tidak betah.

Lelaki yang sudah tidak kekanak-kanakan lagi ini menampakkan raut kekecewaan mendalam atas tindakannya selama ini. Selain fikirannya pusing menghadapi hiruk pikuk bangsal pengguna BPJS JKN atau sering disebut ruang kelas III itu, ia juga begitu menyayangkan atas vonis dokter bahwa organ vital di dalam tubuhnya bermasalah.

“Kata dokter radang ginjal, atau ginjal terinfeksi. Yang jelas ginjal saya yang sakit. Ternyata ini disebabkan rentetan perilaku saya saat sejak masih TK,” tutur A’ad membuka perbincangan.

Kebiasaan yang dilakukan A’ad memang keterlaluan. Sejak TK ia terbiasa meminum minuman kemasan beraneka jenis dan varian, mulai yang memiliki rasa buah, teh, dan sesekali minuman bersoda. Tiap jam istirahat atau sehabis olahraga untuk melepas dahaga hampir selalu ia minum minuman kemasan tersebut, baik yang bentuknya gelas atau botol.

Ternyata kandungan dalam minuman yang biasanya berwarna cukup mencolok itu tak seluruhnya terurai di dalam tubuh. Tetapi justru menyebabkan kerusakan ginjal A’ad. Pertama kali merasakan sakit, ia mengaku menahan rasa yang tidak enak dibagian perut, seolah isi perut penuh, semacam masuk angin.

Badanya juga demam. Setelah beberapa kali berobat pada akhirnya pelajar yang duduk di kelas VII salah satu SMP di Wonosari ini harus merasakan jarum suntik infus. Ia juga dipaksa menjalani serangkaian tahapan pengobatan atas sakit yang dideritanya.

Pengawasan ketat atas dirinya dilakukan dokter yang dibantu perawat. Secara periodik diperhatikan mengenai perkembangan naik turunnya berat badan, kondisi air kencing, dan pengawasan asupan makanan atau minuman.

“Sebelum masuk rumah sakit badan saya bengkak, berat badan naik antara 5-10-an kilogram. Saya menyesal terlalu banyak meminum minuman kemasan itu,” keluh A’ad.

Apa mau dikata waktu tak bisa diputar. Ia hanya berharap penanganan dokter terhadap dirinya membuahkan hasil. Ginjalnya sembuh dapat berfungsi normal kembali. Ia pun berusaha kooperatif, menuruti apa saja perintah dokter. Salah satunya hanya akan minum air putih saja.

Ia cukup heran, dan pertanyaan besar yang ada dibenaknya itu memang tak mudah untuk dijawab. “Kenapa minuman kemasan itu tetap dijual jika jelas-jelas berbahaya bagi kesehatan?,” tanya A’ad. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar