Pencegahan Bunuh Diri Perlu Kerjasama Lintas Elemen dan Lintas Sektoral

Wabup Gunungkidul Immawan Wahyudi berdiskusi terkait peristiwa bunuh diri dan upaya penanganannya. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Rentetan peristiwa bunuh diri dengan cara gantung diri mewarnai dinamika masyarakat Gunungkidul pada awal tahun 2017. Baru sampai dengan 2 Februari 2017, tercatat sebanyak 7 peristiwa bunuh diri dengan cara gantung diri. Sebaran kejadiannya ada di berbagai wilayah Gunungkidul. Yang perlu menjadi perhatian, rentang usia pelaku justru didominasi usia masih produktif.

Sementara itu, data di Polres Gunungkidul menunjukkan, jumlah kasus bunuh diri pada awal tahun 2017 ini hampir sama dengan peristiwa tahun 2016 lalu. Posisi pada awal Februari tahun lalu (2016), juga terdapat 7 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Bedanya satu kejadian percobaan bunuh diri berhasil diselamatkan.

Meski bukan termasuk kejadian luar biasa, rentetan peristiwa bunuh diri yang beruntun terjadi dan tergolong tinggi pada awal tahun ini membuat semua pihak prihatin. Dapat dilihat melalui media massa juga media sosial, masyarakat merespon agar sesegera mungkin dilakukan penanganan nyata oleh pihak-pihak yang terkait.  Ada yang dengan tegas menyatakan, rentetan peristiwa ini merupakan “lampu peringatan” bagi Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul berikut jajarannya untuk segera melakukan langkah nyata.

Tindakan riil Pemkab Gunungkidul memang sudah semestinya segera dilakukan tidak hanya dalam level rapat-rapat atau koordinasi tingkat eksekutif. Bagaimanapun sudah menjadi tugas pokok pemerintah untuk bertindak nyata melindungi jiwa dan raga seluruh warga masyarakat.

Di sisi lain, pada 10 September 2016 lalu, Pemkab Gunungkidul telah membentuk Satuan Tugas Pencegahan Bunuh Diri yang dinamakan Satgas Berani Hidup. Logika umum memahami, risiko kejadian bunuh diri memang tidak lantas hilang dengan dibentuknya satgas tersebut. Namun, kiprah satgas dalam tindakan riil baik preventif maupun kuratif sungguh-sungguh sangat dinantikan warga masyarakat.

“Permasalahan bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul ini memang kompleks. Kami juga terus memonitor peristiwa bunuh diri yang terjadi di awal tahun ini. Kami turut merasa prihatin beberapa kejadian bunuh diri juga terjadi pada warga yang masih berusia produktif bahkan masih tergolong anak muda. Dulu para pengamat yang menyatakan faktor dominan kejadian bunuh diri karena kondisi ekonomi atau kemiskinan. Namun fakta terbaru menunjukkan, kejadian bunuh diri terjadi di berbagai kalangan. Entah masyarakat mampu atau tidak mampu, terpelajar atau kurang terpelajar, juga relijius atau tidaknya seseorang, ” ujar Wakil Bupati Immawan Wahyudi, ketika Tim KH melakukan wawancara mendalam sekaligus berdiskusi tentang kejadian bunuh diri dan upaya pencegahannya yang dilakukan oleh Pemkab Gunungkidul (2/2/2017).

“Kami di Pemkab Gunungkidul saat ini memang sudah membentuk Satgas Pencegahan Bunuh Diri. Pak Bambang Sukemi Kabag Kesra sebagai Ketua Tim Satgas. Setelah pembentukan satgas, kalau tidak salah sudah pernah dilakukan sekali koordinasi. Kami sedang menata kembali SOTK (struktur organisasi dan tata kerja), sehingga kami memang belum melakukan langkah riil,” terang Immawan.

Penelusuran KH, Satgas tersebut memang sudah dibentuk tahun lalu. Draft modul penanganan kejadian bunuh diri dan langkah-langkah pencegahan termasuk siapa harus mengerjakan apa sebenarnya juga telah ada. Proses penyusunan draft modul tersebut juga telah dimatangkan dengan pelibatan SKPD terkait, kepolisian, dan masyarakat. CPMH (Pusat Kesehatan Mental Masyarakat) Fakultas Psikologi UGM juga turut membantu memberikan masukan dalam modul tersebut, sehingga “bola panas” bergulirnya langkah nyata satgas tersebut kini berada di tangan eksekutif Pemkab Gunungkidul.

“Dugaan berbagai faktor penyebab bunuh diri dari berbagai penelitian dan pemberitaan telah sering diungkapkan. Dalam ranah psikiatri itu disebut pemicu atau stressor. Tetapi di balik itu, ada permasalahan berat terkait aspek psikis atau mental yang dihadapi oleh pelaku. Di sinilah sebenarnya orang-orang terdekat, keluarga, dan juga masyarakat dapat berperan dalam mencegah tindakan bunuh diri,” ungkap dr Ida Rochmawati, SPKJ yang juga turut serta mengikuti wawancara mendalam di kantor Wakil Bupati tersebut.

Ida menerangkan, berdasarkan pendalaman kasus per kasus bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul, pada saat terjadinya peristiwa bunuh diri pelaku pada umumnya dalam kondisi depresi. Depresi berarti menunjukkan kondisi kesehatan jiwa itu tidak atau kurang sehat. Ia juga memiliki catatan, beberapa pelaku bunuh diri sebelum melakukan tindakan bunuh diri kondisinya sedang dalam perawatan kesehatan, sengaja meninggalkan perawatan kesehatan, atau sebelumnya pernah mendapatkan perawatan kesehatan. Menurutnya, ini menjadi catatan penting dalam penanganan pencegahan bunuh diri.

“Melakukan upaya pencegahan bunuh diri sebenarnya juga melakukan perubahan mindset yang terbangun dalam masyarakat. Pencetus tindakan bunuh diri itu selalu multifaktor. Perlu penanganan yang menyeluruh. Memang, ranah yang paling berpengaruh secara langsung adalah faktor kesehatan mental atau kesehatan jiwa. Berbicara tentang kesehatan jiwa, terus terang kami juga menghadapi tantangan besar. Yang utama, meski ikatan sosial masyarakat itu masih sangat tinggi, saling tolong-menolong, tetapi stigma berupa aib atau sesuatu yang membuat malu itu masih dilekatkan pada penderita masalah kejiwaan dan juga keluarganya. Contoh sederhana, masyarakat masih memandang sinis, mengolok-olok ketika melihat pasien kami yang sedang duduk mengantri di Poli Jiwa,” ujar Ida.

Stigma negatif bagi para penyandang masalah kejiwaan masih menjadi tantangan besar. Menurutnya, ini sebenarnya terkait erat dengan upaya pencegahan bunuh diri yang bisa dilakukan oleh semua pihak.

“Setiap terjadi peristiwa bunuh diri sesungguhnya menjadi peringatan agar kita semua tidak mencemooh pelakunya. Luka batin yang dialami suami atau istri, anak-anak, orang tuanya itu sungguh berat. Itu juga memerlukan upaya penyembuhan yang tidak mudah agar segera kembali dalam suasana hidup secara normal dan produktif. Oleh karena itu, sudah semestinya tidak dilakukan pemberian label atau cap negatif kepada keluarga dan pelaku. Media massa sebenarnya sudah tidak pantas mengolok-olok pelaku dan keluarganya dengan memakai istilah nekad ngendhat. Ingatlah, keluarga dan sanak famili yang sedang menderita, mengapa masih ditambah sakit dengan istilah yang kontra produktif dengan upaya pencegahan bunuh diri itu,” imbuh Ida.

“Pendalaman dan ikut merasakan suasana hati keluarga pelaku terhadap kasus per kasus tentang bunuh diri itu memang perlu dilakukan. Kami memiliki catatan yang lumayan lengkap terhadap kasus per kasus bunuh diri di Gunungkidul sejak tahun 1995/1996. Sebagian besar kasus bunuh diri memang dengan cara gantung diri, tetapi ada pula dengan nyemplung sumur atau luweng, atau minum baygon. Setiap kasus bunuh diri itu memang unik latar belakang situasinya,” ujar Wage Dhaksinarga, aktivis seni teater rakyat dari Trowono Paliyan yang sempat merekam kejadian-kejadian bunuh diri di Gunungkidul dalam buku berjudul “Tali Pati”.

“Benar, peristiwa bunuh diri tidak serta merta bisa disimpulkan karena faktor ekonomi, terlilit utang tak terbayarkan, lelah menghadapi penyakit bertahun-tahun, putus cinta, atau kagol karena harapannya tidak terpenuhi. Faktor rajin beribadah atau tidak juga bukan penentu, karena saya pernah mendapati pelaku bunuh diri saat sore hari masih sholat maghrib dan ngobrol, tetapi malam harinya ternyata gantung diri. Ini menunjukkan kompleksitas permasalahan bunuh diri. Satu hal yang perlu dicatat, dalam peristiwa bunuh diri memang terdapat kegoncangan jiwa yang dihadapi pelaku dan menimbulkan luka mendalam keluarga yang itu membutuhkan penanganan tersendiri. Karena itu, upaya pencegahan bunuh diri memang menjadi pekerjaan besar. Perlu penangangan semua elemen dan sektor,” terang Wage.

Lebih lanjut, Wage juga memaparkan adanya bangunan pemikiran yang tertanam kuat dalam masyarakat Gunungkidul dari kisah-kisah sejarah dan mitologi yang berkembang dan turun-temurun. Pertama, adalah mitos “pulung gantung” yang di beberapa wilayah masih tertanam kuat sebagai penyebab, meskipun kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Kedua, adalah kisah “pati obong” dan moksa-nya Prabu Brawijaya di Ngobaran. Ketiga, adalah kisah “suduk slira“-nya Rara Lembayung putri Ki Ageng Giring, kisah bunuh diri yang heroik untuk menopang nama besar Mataram. Kisah-kisah tersebut, menurut Wage terkadang dipakai sebagai “pembenaran” dan sebagai “penutup”kasus bunuh diri yang terjadi di masyarakat agar terlihat tidak sebagai “aib” masyarakat.

Menurut Wage, memaknai ulang terhadap kisah-kisah sejarah dan mitologi yang turun-temurun tersebut perlu dilakukan sebagai salah satu faktor “membongkar” bangunan pemikiran dan “membangun kembali” bangunan pemikiran dalam konteks fungsional saat ini.

“Dalam satu kasus paska bunuh diri yang terjadi di Paliyan, warga sekitarnya selama beberapa hari terus menabuh lesung dan kothekan setiap malam. Menurut masyarakat setempat, tetabuhan yang dilakukan beberapa malam tersebut telah membuat mereka tenteram dan tenang kembali. Mereka meyakini, pulung gantung yang gentayangan di desa tersebut telah tidak mengganggu mereka. Saya melihat, bahwa lelaku kothekan yang dilakukan masyarakat sebenarnya merupakan upaya untuk mendatangkan energi terdalam dari diri mereka sehingga mereka mampu melawan pengganggu ketenteraman di desanya. Upaya-upaya tradisonal masyarakat tersebut sesungguhnya tidak beda dengan upaya-upaya penguatan keyakinan diri dan penguatan secara komunal,” urai Wage.

Senada dengan hal tersebut Wakil Bupati Imawan juga berpendapat, bahwa wilayah Gunungkidul atau dulu dikenal sebagai “Wana Asri” ini masih menyimpan hal-hal yang belum terselami. Menurutnya, ada tradisi-tradisi, misalnya ruwatan, slametan, rasulan yang sebenarnya tidak dipandang secara salah kaprah. Ritual-ritual tradisi tersebut menurut Wabub sesungguhnya merupakan doa dan pengharapan manusia untuk berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kehidupan umat manusia dalam alam seisinya selalu dalam lindunganNya. Ia sepakat, bahwa langkah-langkah penanganan pencegahan bunuh diri perlu memperhatikan kearifan masyarakat melalui tradisi turun-temurun tersebut.

“Prinsipnya kita memang harus terus berusaha, lintas elemen, lintas keilmuan, lintas sektoral secara terus-menerus. Kita perlu menentukan target-target capaian dalam langkah preventif dan kuratif penanganan permasalahan bunuh diri ini. Kita harus terus berusaha, dan hal-hal yang di luar kemampuan manusia, kita berserah dan memohon ridho Allah SWT. Segera akan kami koordinasikan agar dalam pertemuan atau rapat selanjutnya memprioritaskan permasalahan ini. Sekali lagi terimakasih,” ucap Immawan mengakhiri pembicaraan. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar