Penanggulangan Depresi Berbasis Masyarakat Sangat Dibutuhkan

oleh
Pelatihan singkat penanggulangan depresi digelar IMAJI bersama President University bagi komunitas dan pemuda Gunungkidul. KH/ Yudhis.

WONOSARI, (KH),– Fakta bahwa depresi menjadi faktor risiko paling tinggi kejadian bunuh diri di Gunungkidul benar adanya. Sebagaimana data yang dimiliki Polres Gunungkidul, untuk setiap tahunnya rata-rata lebih dari 40 persen pelaku sekaligus korban bunuh mengalami depresi. Sementara faktor risiko berikutnya yakni: karena sakit menahun, gangguan jiwa berat, masalah ekonomi, dan lain-lain.

Sehingga, menanggulangi depresi merupakan langkah kongkrit upaya menekan angka kejadian bunuh yang merupakan dampak klimaks dari depresi tersebut, demikian dikatakan Ketua Yayasan IMAJI, Jaka Yanuwidiasta di sela kegiatan Pelatihan Singkat Menanggulangi Depresi bagi kaum muda yang berlokasi di Disdikpora Gunungkidul, Minggu, (24/11/2019) lalu.

Bahkan Jaka menyebut, jika dicermati mendalam, faktor risiko selain depresi yang dialami pelaku sebelum mengambil tindakan mengakhiri hidup pun sebetulnya melalui fase depresif. Hanya saja gejala yang nampak dipermukaan dianggap bukan sebagai gejala depresi.

“Materi yang diberikan seputar mengenali depresi dan cara penanggulangannya. Juga disampaikan materi pertolongan pertama psikologis (psychological first aid),” terang Jaka.

Agenda tersebut terlaksana berkat kerja sama dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi President University Jababeka Bekasi.

Sasaran pelatihan adalah anggota berbagai komunitas kaum muda Gunungkidul. Di antaranya: Info Cegatan Gunungkidul (ICG), Ikaragil, IKG, Pondok Pesantren, Komunitas Gunungkidul Menginspirasi, Karangtaruna, Difagana, FKDG, dan lain-lain. Karena peserta sosialisasi dibuka untuk umum, banyak di antaranya mendaftar secara perseorangan. Peserta yang hadir melebihi batasan kuota 100 orang. Tidak sedikit jumlah pendaftar yang tidak dapat diakomodir minatnya untuk hadir.

Menurut Sekretaris IMAJI, Basuki Rahmanto, antusiasme masyarakat utamanya golongan usia muda terhadap pengetahuan seputar kesehatan jiwa khususnya persoalan depresi cukup tinggi. Sehingga apabila ada komentar miring oknum pejabat di sektor terkait yang justru menyebut bahwa sosialisasi tak ada gunanya terhadap persoalan kesehatan jiwa dan penanggulangan bunuh diri ditengarai sebagai bentuk alibi saja.

“Disampaikan lebih dalam, dengan harapan peserta memahami secara komprehensif apa itu depresi, gejala, penyebab, diagnosis, dan cara menanggulanginya,” kata Basuki.

Harapan selanjutnya, mereka (peserta) dapat menolong diri sendiri dan menolong sesama yang sedang menghadapi krisis dalam perjalanan kehidupannya. Peserta pelatihan juga dapat menjadi agen perubahan dan dapat melawan stigma (pandangan yang keliru dan menyesatkan) terhadap permasalahan kesehatan jiwa.

Peserta diharapkan juga dapat menjadi relawan sosial, bertindak aktif menolong sesama di lingkungan terdekatnya, dan menghubungkan dengan fasilitas kesehatan terdekat dan/atau tenaga profesional kesehatan apabila diperlukan penanganan lebih lanjut.

Harapan IMAJI terkait peserta pelatihan agar menjadi relawan direspon positif. Sebagaimana disampaikan Yeni Yustiani, dirinya meminta pendalaman tingkat lanjut mengenai skill dan ketrampilan menjadi relawan, berikut mendapat pengalaman langsung penanganan atau pertolongan pertama orang yang mengalami depresi.

“Dibutuhkan pula wadah relawan sebagai penggerak kesehatan jiwa,” kata Yeni.

Senada dengan Yeni, peserta lain, Triyono menilai, ketrampilan dapat melakukan pertolongan pertama dalam menangani kecelakaan bencana alam dan depresi yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan.

“Saya butuh ketrampilan dan kemampuan yang mumpuni untuk memberikan pertolongan pertama bagi orang yang mengalami kecelakaan yang berakibat cidera fisik dan juga menolong orang yang mengalami depresi,” ujar Triyono. (Kandar)

Komentar

Komentar