Pemuda dan Remaja Wareng Sharing Cegah Nikah Dini dan KDRT

oleh
Pertemuan pemuda dan remaja Wareng 1 bersama LSM Setia Mitra. Foto: Hari.
Pertemuan pemuda dan remaja Wareng 1 bersama LSM Setia Mitra. Foto: Hari.

WONOSARI,(KH)— Tidak bisa dipungkiri akhir akhir ini semakin marak kejadian pernikahan usia dini. Pernikahan dini juga ditengarai menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian. Perceraian bisa terjadi karena tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga, selain itu kurang dewasanya pemikiran serta masih labilnya emosi juga menjadi penyebab pokok.

LSM Setia Mitra mengadakan acara diskusi remaja bertempat di Balai Padukuhan Wareng 1, Desa Wareng, Kecamatan Wonosari pada Minggu (12/4/15). Acara ini dihadiri peserta dari kalangan remaja yang masih sekolah SMP/SMA sederajat berjumlah 30 anak.

Dalam acara ini LSM Setia Mitra berusaha menghilangkan sekat antar remaja dan orang dewasa tentang topik pernikahan usia dini, karena selama ini sebagian orang tua menganggap membahas tentang pernikahan dini, kasus kekerasan seksual dan semacamnya adalah hal tabu dan anak tidak boleh mengetahuinya. Padahal, dengan mengetahui dan memahami, para remaja dan pemuda menjadi lebih baik lagi karena orang tua juga berperan penting dalam pendidikan dan perlindungan anak.

Ely Royati, Ketua LSM Setia Mitra mengatakan, membaur dengan para remaja bisa berdampak positif, karena remaja akan merasa nyaman bercerita dan berinteraksi soal topik yang kita bicarakan. Itu membuat diskusi dan saling bertukar pengetahuan akan dapat lebih cepat masuk ke dalam pemikiran dari masing masing personal.

Diskusi dalam acara ini penekanannya lebih kepada pengenalan kepada remaja tentang dampak yang akan timbul jika melakukan pernikahan dini, secara biologis alat teproduksi anak belum matang sehingga belum siap ini bisa memicu infeksi kandungan dan kanker. Dari segi psikologis, pernikahan dini juga berpengaruh pada kondisi mental yang masih labil pada anak, hal ini juga berpengaruh pada pengambilan keputusan karena sebagian dari pelaku pernikahan dini belum mengetahui hak dan kewajiban dalam sebuah pernikahan.

Tidak bisa dipungkiri, pernikahan dini juga berpengaruh pada aspek ekonomi karena para pelaku pernikahan dini, karena masih ikut bersama orang tua. Secara ekonomi belum mapan bahkan juga ada yang pengangguran ini bisa berakibat tidak tercukupinya kebutuhan sehari hari dan pemicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dengan diskusi ini diharapkan remaja lebih bisa memahami bahwa menikah itu bukan sesuatu yang mudah intuk dijalani karena butuh persiapan yang matang dari berbagai aspek.
“Semoga para remaja menjaga pergaulan, dan bisa lebih dekat dengan orang tua masing masing, sehingga kedekatan dengan orang tua terjaga. Hal itu membuat anak bisa tahu kemana dia harus bercerita dan berbagi,” pungkas Ely. (Hari)