Pemkab Gelar Curah Pendapat Temukan Model Penanganan Bunuh Diri

Curah pendapat Satgas Berani Hidup dan berbagai elemen merumuskan penanganan bunuh diri. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Perhatian terhadap fenomena tingginya bunuh diri di Gunungkidul semakin intens. Berbagai langkah upaya penekanan jumlah kejadian terus ditempuh Pemkab. Pertemuan pembahasan mengenai bagaimana tindakan teknis oleh Pemkab, berbagai sektor dan unsur masyarakat kembali dilakukan, Rabu, (8/2/2017).

Rapat yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati (Wabup) Gunungkidul, Dr Immawan Wahyudi, MH, diikuti oleh Sekda, Ir Drajat Ruswandono, Kabag Kesra, Bambang Sukemi dan sejumlah unsur yang tergabung kedalam Satgas Berani Hidup bertujuan untuk merumuskan tindakan. Satgas yang sedianya akan menjadi tim penanggulangan meliputi perwakilan dari Dinkes, Polres, Kodim, Kemenag, Disdikpora, KNPI, LSM, pakar psikologi dan sejumlah tokoh masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut Immawan menyampaikan, Pemkab berkomitmen untuk memfasilitasi semua pihak yang ingin berkontribusi meski telah ada kelembagaan yang telah terbentuk. Seperti para pelaku budaya atau pemerhati kejadian demi kejadian bunuh diri secara lengkap. Sebab, hal tersebut dapat menjadi bagian rumusan penanganan.

“Setelah ada brainstorming dari segenap elemen dan ahli dibidang yang erat dengan persoalan bunuh diri diharapkan dapat menemukan seperti apa tindakan yang harus dijalankan,” harap Immawan.

Dirinya sepakat bahwa mindset harus dirubah. Berdasar telaah pustaka dan keterangan pengalaman orang yang bergelut dengan masalah kejiwaan menyimpulkan bahwa bunuh diri tidak sebatas masalah kemiskinan atau ekonomi, penyakit, dan faktor keagamaan tetapi lebih kepada faktor depresi atau psikologi dari banyak pemicu.

“Segera menemukan model penanganannya, tindakan riil didukung tim Satgas yang berisi stakeholder mewakili SKPD dan seluruh unsur. Leading sectornya tentu pihak yang secara langsung menangani bidang psikologi atau kesehatan jiwa,” pinta Immawan.

Selain itu, dirinya juga meminta kepada Pers untuk membuat formulasi pemberitaan yang tepat serta mengandung  edukasi dan pemberdayaan. Sebab, menurut teori psikologi sesuatu yang diulang-ulang sedikit banyak dapat memicu ide bunuh diri ditiru.

Sementara itu, Sekda Gunungkidul, Ir Drajad Ruswandono MT mengucapkan terimakasih kepada pihak yang memiliki passion untuk serius menangani image negatif yang sudah melekat di Gunungkidul sejak lama ini.

“Menjadi hal yang kontraproduktif apabila semangat Gunungkidul berbenah menuju daerah tujuan wisata terkemuka dan berbudaya tetapi membiarkan hal yang jelas-jelas ‘mengganggu’ kenyamanan masyarakat,” terangnya.

Psikiater senior RSUD Wonosari, dr. Ida Rochmawati, MSc., Sp.KJ (K) menambahkankan, bunuh diri yang terjadi sekian lama sungguh ironis apabila bukan menjadi sebuah isu penting. Adanya amanat UU tahun 2014 tentang kesehatan jiwa dapat dijadikan landasan melaksanakan langkah nyata.

“Harusnya upaya penanganan menjadi skala prioritas secara sistem, semua pihak tergugah bahwa mestinya tidak punya pilihan lain bahwa bunuh diri harus segera diatasi. Perlunya juga diterbitkan SK dan regulasi yang sifatnya ‘memaksa’,” pinta dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar