Pementasan Teater Kembang-Kembang Ledek Selipkan Cerita Bunuh Diri

oleh
Pementesan festival teater tradisi Gunungkidul. KH.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Gantung diri kerap menjadi perbincangan hangat masyarakat Gunungkidul. Bukan saja karena Gunungkidul sebagai  daerah dengan angka kasus bunuh diri  terbilang tinggi, tapi upaya penanganan gantung diri yang diraskaan belum terbilang efektif. Peserta Festival Teater Tradisi Kabupaten Gunungkidul 2019 wakil dari Kecamatan Wonosari menyelipkan cerita akhir hidup seorang penari ledhek di seutas tali pada adegan puncak tangga dramatik. Pementasan kelompok teater ini layak ditonton pegiat sosial untuk melihat secara kritis kasus gantung diri di Gunungkidul.

Naskah realis “Kembang-Kembang Ledek” karya Tisan Cahya menyajikan konflik kehidupan seorang penari ledhek bernama Warti merawat ibunya dari hasil saweran sebagai penari ledhek. Tetapi, sampai menginjak dewasa, Warti tak mengetahui keberadaan bapaknya.

Teka-teki mencari tahu keberadaan seorang Bapak akhirnya terjawab dari pengakuan ibu yang hidup sebagai janda miskin. Warti memperoleh jawaban walau harus terpukul mendengar pengakuan sang ibu, bahwa bapaknya pergi meninggalkannya hanya lantara terpikat penari ledek. Hati Warti hancur lebur. Warti menyesal hidup sebagai penari ledek layaknya perempuan jahanam yang merampas hati bapaknya.

Naskah bahasa Jawa dengan khas “celetukan” dikemas segar oleh sutradara Lilik Wysa. Kolaborasi  pemain segala usia, dari usia anak, remaja, muda, hingga orang tua memperkuat ruh tiap adegan wakil kota Wonosari ini.

Ditemui disela kegiatan gladi bersih, Lilik mengatakan, proses mengikuti event ini sengaja dipersiapkan sebagai energi baru membangun teater di Gunungkidul. Sanggar Seni Pujo Sumakno (SSPS) memperkuat Wonosari dengan menitikberatkan pada proses yang memberikan materi penting dan tidak boleh diabaikan para pemain yang terlibat.

Dari peran tokoh utama, pemain pembantu, hingga tim artistik tetap berkewajiban mengikuti rangkaian proses latihan yang terbilang cukup ketat.

“Tidak asal comot orang. Semua harus ikut proses ini dengan ketat agar mengenal baik materi dasar teater dari olah tubuh, olah vokal, sampai olah rasa,” kata Lilik.

Mantan Master Hipnotis itu juga menambahkan, penampilan Kembang-Kembang Ledek layak ditonton masyarakat secara luas. Selain ceritanya segar, penampilan teater Wonosari ini dikemas dengan sajian yang lebih akrab dan “merakyat”. Makna pementasan mengajak setiap peristiwa dihadapi masyarakat tidak disimpulkan sebagai perkara yang sederhana seperti hal-hal yang mitos dan diluar nalar manusia. Akan tetapi, lanjut dia, perlu dicari akar persoalan yang menyebabkan luka batin seseorang dan penanganannya.

Ia mengatakan, pesan dalam pementasan Kembang-Kembang Ledek sebenarnya bukan pada  visualisasi bunuh diri, melainkan pesan penting orang yang dianggap ‘gila’ di tengah mayoritas masyarakat yang sudah ‘keblinger’ oleh kebenaran yang hanya karena kesepakatan bersama yang belum tentu ideal dengan kebenaran.

Teater Wonosari tampil urutan ketiga setelah Tanjungsari menampilkan Naskah Sumini dan Kecamatan Paliyan membawakan Pasar Bubrah pembukaan malam pertama festival. Adapun, setelah penampilan Wonosari, masih tiga kecamatan yang semua kelompok tampil berdurasi 30 menit, yakni Purwosari naskah Sumbangan Dari Potangan, Kecamatan Patuk dengan naskah  Wiro Kleco, dan Kecamatan Gedangsari naskah Ngrumat Warisan.

Fastival Teater Tradisi Kabupaten Gunungkidul 2019 akan berlangsung selama tiga malam yakni 29, 30, dan 31  Oktober 2019 diikuti 18 kecamatan. Ada enam Kecamatan yang akan tampil setiap malam dipusatkan di Balai Desa Wiladeg Karangmojo.

“Penampilan Kembang-Kembang Ledhek ini hendaknya tidak hanya berkutat di panggung featival. Tetapi layak dipentaskan keliling ke desa untuk semakin mengenalkan teater kepada masyarakat  di Gunungkidul yang memang baru mengenal teater era  sekitar 2002,” pungkas Endro Guntoro pegiat Teater Wonosari disela menyaksikan gladi bersih. (red)

Komentar

Komentar