Pedhet Lahir Berkepala Dua Jadi Tontonan Warga

Anak sapi/ pedhet yang lahir dengan dua kepala. foto: Catur Handana.

PURWOSARI, (KH),– Anak sapi atau pedhet yang lahir dengan kelainan genetik gemparkan warga di Padukuhan Gumbeng, Desa Giripurwo Kecamatan Purwosari, Jum’at, (20/10/2017) malam. Sapi milik warga setempat, Sugiyat lahir memiliki dua kepala. Sementara bagian tubuh lainnya normal.

Tak heran peristiwa tersebut membuat warga masyarakat berdatangan ingin melihat langsung kondisi sapi yang langka itu. Warga berduyun-duyun mendatangi kandang sapi yang berada di Hutan Jorongan.

Anak keempat dari induk sapi milik Sugiyat tersebut berhasil lahir berkat bantuan dari Petugas Kesehatan Hewan dari UPT Puskeswan Kecamatan Panggang, Antar, yang kebetulan juga membawahi wilayah Kecamatan Purwosari.

Menurut Antar, berdasar pengamatan terlihat anak sapi tersebut mengalami dempet wajah di bagian pipi. Kepala anak sapi memiliki dua mulut, empat mata namun hanya memiliki dua telinga.

“Sementara bagian leher dan tubuh terhitung normal. Memiliki empat kaki dan satu ekor. Kepala bagian kanan lebih aktif dibanding kepala bagian kiri,” terang Antar.

Sambung Antar, secara ilmiah kasus anak sapi yang lahir berkepala dua tersebut diakibatkan kelainan selama masa kebuntingan. Ada beberapa hal yang menjadi kemungkinan menjadi penyebab kelainan ini.

“Bisa jadi persoalan pakan, karena sapi bunting butuh nutrisi yang baik. Penyebab lain adalah adanya pembelahan janin sapi yang tidak sempurna. Sehingga kemungkinan seharusnya sapi tersebut adalah sapi kembar tapi gagal menjadi kembar,” beber Antar memberikan penjelasan.

Selain itu, lanjutnya, dapat pula disebabkan karena faktor keturunan. Dengan kata lain sejak dari benih saat kawin suntik telah membawa sifat resesif atau semacam ada kelainan atau kecacatan hingga terbawa ke anak sapi. Atau dapat pula disebabkan adanya kelainan dari induknya.

Sementara itu, pemilik sapi, Sugiyat mengaku merasa tidak ada hal aneh selama masa kebuntingan induk sapi miliknya. Kondisinya normal seperti masa-masa bunting anak yang pertama hingga ketiga.

“Anak sapi ke-empat ini berasal dari indukan jenis simental yang berumur sekitar 11 tahun dengan hasil perkawinan Inseminasi buatan (IB),” tuturnya.

Dengan ukuran kepala yang lebih besar anak sapi tersebut masih kesulitan berdiri. Menurut penuturan Catur Handana, salah satu perangkat Desa Giripurwo yang berada di lokasi menilai kondisi sapi juga cukup lemah. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar