Panen Kacang Tanah Terkendala Air Hujan

oleh
Panen Kacang Tanah dengan disiram air dahulu. KH/Sugeng
Panen Kacang Tanah dengan disiram air dahulu. KH/Sugeng

KARANGMOJO,(KH) — Kemarau panjang di desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul  bagian selatan dan sekitarnya membuat para petani harus memutar akal untuk memanen tanaman kacang tanah dari ladang dan sawah. Tanaman kacang jenis ini rata-rata sudah siap panen, petani dibingungkan dengan kurangnya curah hujan beberapa pekan terakhir.

“Jika tidak segera dipanen, daun serta batangnya mengering dan sulit untuk dicabut, kalau menunggu hujan di kondisi cuaca saat ini tidak bisa diharapkan turun hujan” ucap Mbah Narto salah seorang warga Grogol VI, Bejiharjo, Karangmojo.

Untuk mengatasinya warga menggunakan air sumur untuk mengairi ladang di sekitar rumah, sedang untuk di sawah sebagian membeli dengan tangki besar dan ada yang membawa dari rumah dengan jrigen untuk sawah yang tidak jauh dari rumahnya.

Sedikit berbeda dengan Wiji (64), yang memanfaatkan air kalen (sungai kecil) sisa hujan beberapa minggu yang lalu untuk mengairi tanamannya, selain dengan air kalen, ia juga memanfaatkan air bekas cucian yang telah dikumpulkan.

Ia pun harus mencari pangkal batang untuk menyirami tanamannya agar air yang terbuang tidak sia-sia. 

“Kesulitannya saat mencari pangkal batang tanamannya, karena air yang digunakan sedikit jadi harus disiramkan di pangkal batangnya,” tuturnya.

“Kalau disiram biasa hanya akan kena daunnya, air tidak masuk tanah pada pangkal batang tanaman”, imbuhnya.

Warga mengairi tanaman mereka pada sore hari dan memanen pada keesokan harinya. Hal tersebut membuat tanaman lebih mudah untuk dicabut dari tanah.

Sedang warga yang kesulitan air, mereka langsung mencabuti tanamannya lalu di duduhi (mengais sisa kacang tanah yang belum ikut tercabut menggunakan gathul) meski memakan waktu 2 sampai 3 hari.(Sugeng)

Komentar

Komentar