Pandangan NU Gunungkidul Terhadap Sikap Intoleransi Yang Semakin Menyebar

oleh
Sarasehan tokoh NU Gunungkidul pada peringatan Hari Santri Nasional. KH/ Kandar
Sarasehan tokoh NU Gunungkidul pada peringatan Hari Santri Nasional. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Diperingatinya Hari Santri Nasional pada sabtu, (22/10) kemarin, merupakan bentuk penghargaan untuk mengenang keberadaan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu komponen sejarah terbentuknya NKRI.

Peringatan secara nasional salah satunya dilaksanakan dengan menggelar 1 Milyar Shalawat Nariyah. Sepertihalnya di Gunungkidul, sebanyak 355 majelis berpartisipasi terhadap gerakan tersebut. Selain itu pesan yang ingin disampaikan menyertai hari spesial bagi warga NU ini mengenai sikap intoleransi beragama yang semakin melebar.

Sebagaimana diungkapkan Ketua Tanfidziyah NU Gunungkidul, H Arief Gunadi, ia tidak menampik adanya dampak kecamuk politik yang ada di ibukota juga dapat mengalir sampai ke daerah termasuk juga di Gunungkidul, ia menegaskan bahwa warga NU Gunungkidul memiliki pendirian bahwa sikap toleransi adalah harga mati.

“Sehingga sudah tidak ditafsirkan lagi dalam hal kepemimpiman, dalam hal beriteraksi sosial, dan dalam hal lain yang mempunyai nilai kemaslahatan yang sama, soal perbedaan akhidah, perbedaan keyakinan, dan agama itu tidak bisa dihindari karena itu Sunatullah,” ujarnya.

Sambung Arif, Allah bisa saja menjadikan semua makhluk penduduk di bumi ini beragama Islam semua, tetapi kenapa Allah tidak menjadikannya demikian, inilah salah satu bentuk bahwa Ihtilaku baaina rohmatun, Perbedaan yang ada dikehidupan masyarakat itu sebagai rahmat.

“Maka sebagai manusia itu, pandai-pandailah menempatkan diri, bahwa kita sebagai makhluk sosial bahwa kita membutuhkan orang lain, dan barangkali orang lain itu juga termasuk orang yang beragama lain. bahka dengan binatang saja kita harus santun,” urainya.

Masing-masing manusia, demikian ia melanjutkan,harus menyadari kalau dalam hal koidah yang harus diyakini atau konteks dalam berkeyakinan adalah Lakum dinukum waliyadin, yang artinya agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku.

“Kemudian dalam konteks amaliyah  maka yang dipakai pedoman, Yaklana amaluna Yalamu a’malukum, yang artinya amalanmu ya amalanmu, amalanku ya amalanku. Sehingga sudah tidak ada lagi mempersoalkan ini ibadahnya sah atau tidak, agamanya itu bagaimana tetapi yang jelas kita mempunyai keyakinan terhadap amalan kita, terhadap agama kita yang akan menjadi jalan untuk keslamatan kita, itulah Rahmatan lil alamin,” tandasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar