Pameran Babadseni#4 “Ngurug Tela” IPG Dibuka Tadi Malam

oleh
Pembukaan Pameran Seni Rupa di eks Kantor Disparbud Gunungkidul. KH/Gemma.
Pembukaan Pameran Seni Rupa di eks Kantor Disparbud Gunungkidul. KH/Gemma.

WONOSARI, (KH)— Pembukaan pameran seni rupa yang digelar pada sabtu malam (18/04/15) berlangsung meriah. Agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG)  ini dibuka secara resmi oleh Guntari, dari Disbudpar DIY mewakili Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berhalangan hadir.

Acara pembukaan dihadiri tamu undangan dari berbagai macam kalangan. Para pejabat Pemkab Gunungkidul yang hadir antara lain Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi, Ketua DPRD Gunungkidul Suharno, Camat Wonosari Iswandoyo, beberapa Kepala Desa di Gunungkidul.

Pameran ini digelar hingga tanggal 24 April 2015 ini. Dalam peresmiannya dimeriahkan pertunjukkan seni angklung oleh warga Kepek, Wonosari. serta seni macapat yang dibawakan oleh Pirmo Hadi Wiyono (91).

Herlan Susanto SAE, Ketua IPG dalam sambutannya mengatakan, para seniman mengharapkan adanya ruang apresiasi untuk pementasan, Ia mengatakan tanggal 27 April 2015 tempat berkarya para perupa (Eks Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gunungkidul) harus segera dikosongkan, dikembalikan ke pemerintah daerah.

“Surat pemberitahuan pengosongan tempat tersebut ditanda tangani oleh Sekda Gunungkidul. Sehingga perupa kebingungan mau berkarya dimana lagi.” keluhnya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutan yang dibacakan Guntari menyatakan, olah kesenian di Gunungkidul akhir-akhir ini meningkat. Lebih lanjut dikatakan, seni menurut Aristoteles adalah peniruan terhadap alam tetapi sifatnya harus ideal. Menurut Plato dan Rousseau seni adalah hasil peniruan alam dengan segala seginya. Sedangkan Ki Hajar Dewantara berpandangan, seni adalah perbuatan manusia yang timbul dari perasaan dan bersifat indah sehingga timbul menggerakkan jiwa perasaan manusia. Hal itu bisa dilihat dari adanya generasi muda Gunungkidul yang berkompeten di bidang seni, juga munculnya komunitas seni dan kegiatan pameran seni Gunungkidul.

Dalam sambutan tertulis tersebut juga disebutkan, sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melihat ini sebagai potensi dan menyediakan tempat untuk aktivitas mereka (perupa). Karena dari tahun ke tahun, kegiatan yang berbasis seni dan budaya ini, para perupa yang tergabung dalam Ikatan Perupa Gunungkidul justru menjadi sentral yang seragam dalam menyampaikan keadaan identitas Gunungkidul. Pameran seni visual ini diharapkan dapat mempererat ikatan solidaritas dengan merepresentasikan kearifan lokal dalam cakupan yang lebih luas, yang pada akhirnya bisa lebih meningkatkan apresiasi masyarakat  khususnya Gunungkidul.

Sri Sultan HB X menghimbau kepada penyelenggara kabupaten Gunungkidul dan pihak-pihak terkait lainnya agar lebih gencar menyelenggarakan kegiatan seperti ini. “Saya optimis jika kegiatan semacam ini dapat terealisasi dengan baik, kreativitas seni visual karya perupa Gunungkidul akan lebih maju dan berkembang lebih baik lagi.”ungkap Guntari membacakan pidato dari Sri Sultan.

Salah satu pengunjung bernama Adit, pelajar SMA 2 Wonosari mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat. Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memberikan ruang kepada perupa Gunungkidul. “Mendorong kawula muda untuk memperjuangkan seni, dan selebihnya untuk pemerintah Gunungkidul untuk menyediakan wadah-wadah dan tempat apresiasi untuk mereka berjiwa seni agar mereka dapat menuangkan karya seninya,”ujarnya.

Herlan saat ditemui KH di akhir acara mengungkapkan, pembukaan acara ini berlangsung sukses. Ada peningkatan animo masyarakat menyambut pameran ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap ditahun selanjutnya dapat terselenggara lebih sukses. (Gemma)