Paket Pendongkrak Ekonomi: Pulutan Kembangkan Wisata Dan Sistem Pertanian Mina Padi

oleh
Konsep wisata satu paket dengan lahan sawah sistem mina padi di Desa Pulutan. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH),– Bosan suasana hiruk pikuk kota, atau sengaja ingin menyingkir sejenak dari bisingnya lalu lintas yang padat, maka mengunjungi desa, sawah, dan destinasi yang masih alami dapat menjadi alternatif.

Apalagi, selain masih natural daerah tujuan memiliki daya tarik lain. Mengunjunginya, benar-benar dapat menjadi penawar ampuh melipurkan berbagai keletihan. Tak jauh dari ibu kota kabupaten, suasana khas pedesaan lengkap dengan hamparan sawah menghijau dapat ditemukan di Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul.

Di sisi utara, desa yang berbatasan dengan Kecamatan Playen ini merupakan hamparan lahan pertanian berupa sawah irigasi. Kini kawasan sawah ditata sedemikian rupa serta dilengkapi berbagai spot penunjang menyambut pengunjung yang datang. Ada gazebo, aula terbuka, lapak kuliner, kamar mandi, serta spot swafoto.

“Pada dasarnya view kawasan sawah cukup menarik. Layak menjadi tempat refreshing. Maka kami tamabahkan program kepariwisataan lokal selain program pertanian,” kata ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Wartono belum lama ini.

Awalnya, keberadaan sumur bor dengan debit air melimpah membuat siklus pertanian padi dan berbagai sayuran dapat berjalan sepanjang tahun. Kelompok tani setempat dalam setahun terakhir juga mencoba inovasi menerapkan sistem pertanian mina padi. Dirasa berhasil, skala sistem pertanian mina padi akan diperluas.

Di luar bidang pertanian tersebut, BUMDes lantas melirik peluang lain. Kebiasaan gemar berfoto serta tingginya minat orang-orang mengunungi kawasan pedesaan yang permai menjadi alasan dibangunnya sarana pendukung kegiatan wisata.

“Khusus program wisata, pembangunan sarana pendukungnya menghabiskan dana desa Rp. 140 jutaan. Setelah dilengkapi berbagai sarana pendukung dan spot swafoto pengunjungnya semakin ramai,” ujar Wartono menambahkan.

Dikatakan, pengunjung kawasan yang kini disebut Lembah Desa tersebut ramai saat Minggu pagi atau hari libur di sore hari. Berdasar retribusi parkir, setidaknya kedatangan mencapai 200-300-an pengunjung saat hari libur. Pedangang kuliner siap menyambut pengunjung dengan sajian Pecel, Pepes Udang, Nasi Tiwul, Wedang Ronde, Dawet, dan berbagai sajian khas desa lainnya.

Selain dapat berfoto dengan background panorama sawah yang hijau, pengelola menambahkan spot foto berupa patung kayu burung terbang dan kuda serta gubuk.

Kedepan, Wartono berharap, wisata dapat dikembangkan dalam bentuk edukasi seputar lingkungan dan pertanian bagi anak-anak. Meliputi pengetahuan seputar cocok tanam, cara membajak serta kegiatan pengenalan permainan tradisional.

Lebih jauh disampaikan, wisata lokal dan program pertanian mina padi yang dikelola dinilai berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Menurut Wartono, lahan sawah yang berpotensi untuk diterapkan sistem mina padi sekaligus pengembangan program wisata mencapai dua hektar. Pihaknya juga berencana akan membuat jalur melingkar kawasan persawahan yang sedianya untuk rute sepeda atau kendaraan ATV. (Kandar)

Komentar

Komentar