Paimo Tetap Semangat Berkeliling Menjual Alat Pertanian

oleh
Paimo, Penjual alat pertanian, Foto: KH/ Maria Dwi Anjani

WONOSARI, (KH) — Gunungkidul memiliki masyarakat yang mayoritas memiliki pekerjaan sebagai petani. Hal ini mengingat luasnya lahan tropis pertanian yang cocok untuk bertanam.

Kondisi ini banyak membuat petani tradisional bergantung pada sejumlah piranti untuk bertani. Walaupun terbilang alat tradisional tetapi masih banyak yang mengGunakannya sebagai alat yang wajib ada di rumah.

Keberadaan alat-alat pertanian tradisional tersebut kini dirasa mulai jarang ditemukan. Barang-barang tersebut kini hanya bisa didapat di sejumlah pasar tradisional yang hanya buka saat hari pasaran jawa tertentu.

Adalah Paimo yang hampir 30 tahun menggantungkan hidupnya dengan berjualan alat-alat pertanian seperti sabit, gathul, cangkul dan pisau. Kendati saat ini berbagai alat yang lebih modern terus bermunculan, bahkan teknologi dalam bertani kian canggih, ia percaya bahwa pekerjaan yang dilakoninya hingga kini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Warga Kedung, Karang Tengah, Wonosari ini saat akan ditemui Kabar Handayani masih nampak khusuk menjalankan shalat dhuha di masjid kompleks Sewokoprojo. Gerobak berwarna hijau kuning yang digunakan untuk berkeliling dan menjajakan alat-alat pertanian ia parkirkan tepat di depan masjid. Saat itu masih nampak lengang, hanya dia seorang yang berada di dalam masjid. Seusai menjalankan ibadahnya ia berkenan menceritakan  kisah hidupnya.

Ayah dari tiga orang anak ini sudah 29 tahun mendorong gerobak berisi alat-alat pertaniannya. Perkantoran dinas menjadi tempat-tempat langganannya untuk berjualan. Sebelumnya ia merupakan penjual rujak, namun hanya beberapa waktu saja, kemudian berpindah profesi.

“Saya ngerasa kalau berjualan makanan di saat bulan puasa hanya akan membuat orang-orang kepengen, makanya saya memilih profesi ini,” ucapnya.

Ketika ditanya berapa omset yang ia kumpulkan dalam satu hari, lelaki yang juga berprofesi sebagai petani ini mengaku tidak selalu berhasil membawa uang setiap harinya.

“Tidak pasti, saya pernah tidak bawa uang saat pulang. Saya serahkan kepada Tuhan. Yang jelas selama ini keluarga saya dicukupkan untuk sekedar makan dari pekerjaan saya berjualan alat pertanian,” imbuhnya.

Ia lebih lanjut menjelaskan, keunggulan alat pertanian yang ia bawa adalah awet. Dengan bahan dasar dari baja, ia meyakinkan alatnya tidak kalah dengan alat lain yang tidak terbuat dari baja. (Maria Dwi Anjani)

Komentar

Komentar