Nilai Dan Makna Yang Terkandung Dalam Upacara Adat

Sarasehan di Dinas Kebudayaan Gunungkidul. KH/ JNE

WONOSARI, (KH),–Upacara adat tradisi di Gunungkidul masih kental dilakukan walaupun sebagian ada yang mempertentangkan. Ditegah pertentangan kenyataannya masyarakat masih memegang teguh dan mempertahankan bahkan melestarikan adat tradisi tersebut.

Pemerintah daerah hingga Propinsi DIY dengan kepemilikan status istimewa gencar melakukan upaya untuk melestarikan berbagai adat tradisi dan budaya yang ada. Terlebih adat tradisi yang turun temurun dari nenek moyang.

Drs. Bugiswanto, pakar kabudayan Jawa yang sekaligus Ketua Dewan Kebudayaan Propinsi DIY, dalam saresehan tentang upacara adat di Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Jum’at (16/06/2017) membeberkan dengan detail nilai dan makna yang terkandung dalam upacara adat.

Ia mengawali menjelaskan dengan pengertian “Kebudayaan”, mengutip pendapat Poerwodarminto, jelasnya, bahwa kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat dan sebagainya. Lain lagi kalau menurut Koentjawaningrat, Kebudayaan itu adalah seperangkat sistem ide, gagasan, norma perilaku dan hasil karya seperti adat, istiadat , hukum kesenian dan lain-lain.

Kebudayaan itu, lanjut Drs. Bugiswanto, ada unsur-unsurnya, diantaranya sistiem religi (kepercayaan, agama), sistem ilmu pengetahuan (kosmologi), sistem kemasyarakatan atau kekerabatan (silsilah), sistem mata pencaharian, sistem kesenian, bahasa komunikasi dan sistem teknologi.

Pengertian upacara adat atau upacara tradisional adalah rangkaian kegiatan atau tindakan manusia ditata oleh adat yang berlaku dalam masyarakat yang berkaitan dengan kepercayaan. Hal ini karena dorongan perasaan manusia untuk melakukan tindakan-tindakan dalam mencari hubungan dunia gaib, sebagaimana pendapat Koentjaraningrat.

“Kalau menrut Mohammad Damami, upacara adat adalah merupakan ekspresi keagamaan yang dilaksanakan kelompok setempat yang berlangsung sejak lama secara turun temurun wujudnya aturan-aturan atau sistem perbuatan,” bebernya.

Memayu hayuning bawono adalah manusia senantiasa menjaga keselarasan (harmoni) antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan manusia dengan alam. Diluar diri manusia ada kekuatan lain yang bersifat supranatural datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa. Ada yang namanya sangkan paraning dumadi. Masih kata Bugiswanto, asal usul manusia dari Tuhan Yang Maha Esa akan kembali kepada-Nya.

“Maka dalam menghadapi segala sesuatu masalah akan memohon pertolongan dengan jalan mengadakan ritual atau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” terangnya.

Bugiswanto juga membeberkan berbagai macam dan bentuk upacaya adat. Ada yang bersifat kelompok dan individu. Contoh upacara adat yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat tertentu pada tempat-tempat tertentu dengan tatacara secara turun temurun diantaranya; bersih desa atau merti dusun, sedekah laut atau pisungsung, jaladri, gumbregan, selikuran, labuhan atau laranganNyadran dan lain sebagainya.

Kalau yang bersifat individu biasanya dilaksanakan karena menghadapi fase-fase kehidupan, upacara adat daur hidup atau siklus kehidupan Ia menjelaskan dengan detail,  fase dalam kandungan seperti Ngebor- bori, Ngloroni, Neloni, Ngapati, Nglimani, Nganemi, Mitani atau tingkeban, Ngewoloni dan Nyangani. Fase kelahiran, mendem ari-ari, brokohan, sepasaran atau puputan, selapanan supitan, tarapan dan pernikahan.

“Kalau fase kematian ada Surtanah, Telung dino, Pitung dino, patang puluh dino, satus dino, setahun atau mendak pisan, rong tahun atau  mendak pindo, sewu dino atau “entek’e geblage”,” tutur Bugiswanto.

Masih banyak lagi upacara-upacara adat yang dilakukan ditengah-tengah masyarakat khususnya di DIY. Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat adalah nilai ketuhanan, nilai mental dan moral, nilai etos kerja, nilai toleransi dan nilai gotong royong yang bisa dipetik.

Nilai Ketuhanan, semua adat baik yang bersifat kelompok maupun individu memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapatkan keselamatan serta ucapan syukur segala sesuatu yang telah diberikannya.

Nilai Mental dan Moral, karena terbangun dari unsur kepercayaanya maka mendorong manusia untuk berbuat baik sebagai bekal kembali padanya (sangkan paraning dumadi).

Nilai Etos kerja, karena dari kepercayaanya Tuhan Yang Maha Esa memberi segala yang diminta oleh manusia namun harus dilakukan dengan bekerja dilandasi dengan berdo’a.

Nilai Toleransi, melalui upacara adat  tidak membedakan berbagai agama, keyakinan serta status sosialnya.

Kemudian nilai Gotong Royong, dengan melaksanakan upacara adat terbangun gotong royong dengan tidak membedakan status sosialnya, pungkas Bugiswanto. (JNE)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar