“Ngulir Sejarah” Kegiatan Karang Taruna Tanamkan Jiwa Peduli Sejarah Pada Anak

oleh
Anak-anak SD Desa Gari saat berada di salah satu titik pemberhentian kegiatan rute fun bike atau “Ngulir Sejarah”. KH

WONOSARI, (KH)— Dewasa ini perkembangan teknologi dan pengaruh dari globalisasi kian pesat, tidak hanya berimbas pada orang dewasa saja namun juga anak anak. Imbas yang berdampak langsung dapat dirasakan seperti banyak anak-anak yang sudah terpengaruh dengan adanya gadget. Hampir sepanjang hari mereka habiskan untuk bermain gadget entah itu bermain sosmed ataupun game online.

Itu berarti mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di rumah tanpa mengenal kondisi lingkungan sekitar. Padahal tidak sedikit tempat menarik sekaligus bersejarah yang dapat dijelajahi anak. Mungkin terbesit beberapa fikiran “apa sih sejarah itu?” atau bahkan terasa kuno dan membosankan saat mendengarkannya.

Sebagai wujud dari kepedulian kepada generasi muda yang kelak menjadi calon tulang punggung negara,  maka program sekolah alternatif “BELADEGA” Karangtaruna Mekar Pandega Desa Gari kembali membuat kegiatan, kali ini berupa kegiatan “Ngulir Sejarah”.

Salah satu koordinator kegiatan, Mutiara Kumala mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan fun bike atau sepeda gembira yang diperuntukan untuk anak-anak sekolah dasar khusus kelas 3 hingga kelas 6 yang dikemas dengan memberikan edukasi kepada anak anak tentang wawasan sejarah serta potensi wisata yang ada di Desa Gari. Dengan cara mengenalkan lingkungan sekitar yang dianggap bersejarah atau mempunyai cerita asal usul historis pada mulanya. Diantaranya seperti Agrowijil, Kaligari, Kaliripan, dan lain sebagainya.

Menurut Kumala, dipilihnya tempat tersebut dilatarbelakangi dengan adanya pasar Ekologi Argowijil. Konon dahulu kala bernama Gunung Wijil, merupakan sebuah pegunungan yang ditambang secara besar-besaran selama puluhan tahun oleh masyarakat untuk bertahan hidup, sehingga berakibat menjadi lahan kritis yang memprihatinkan, kemudian seiring berjalannya waktu dilakukan  reklamasi oleh Kementrian Lingkungan Hidup sebagai langkah pemulihan lahan. Serta diikuti pembangunan pasar yang diharapkan menjadi alternatif penggerak roda perekonomian masyarakat dikemudian hari.

“Selain memiliki cerita sejarah yang panjang, tempat ini juga memiliki legenda bagi masyarakat sekitar. Letaknyapun di Padukuhan Gari dimana merupakan dusun cikal bakal berdirinya Desa Gari,” terangnya.

Tempat penting selanjutnya adalah Kaligari dan Kaliripan. Disitu terdapat sumber mata air  dan  bukti fisik  peninggalan bersejarah yang disinyalir kuat kedudukannya penting dan menjadi pusat aktifitas masyarakat di zaman itu.

Sambung Kumla, kegiatan ini dinilai sangat efektif dan efisien terutama untuk anak anak, seperti kata pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, hal inilah yang mencoba dibidik oleh pengurus sekolah alternatif BELADEGA. Dimana bersepeda merupakan  kegiatan yang amat menyenangkan dan menyehatkan serta disukai oleh anak anak, lalu disela sela bersepeda akan diselipkan informasi mengenai sejarah serta potensi wisata warisan budaya yang ada.

Melalui kegiatan ini diharapakan anak-anak tidak akan merasa bosan lagi dengan pelajaran sejarah yang monoton. Anak-anak mampu mengambil pembelajaran sehingga menjadikan mereka lebih bersemangat, tertanam dalam diri masing masing untuk selalu menghargai dan peduli akan pentingnya mencintai alam serta mengenali sejarah dan budaya setempat.

sehingga akan berdampak  pada makin besarnya rasa cinta dan kebanggaan terhadap desa sendiri. Maka dalam kegiatan kali ini, “Ngulir Sejarah” menjadi alternatif pembelajaran kepada generasi muda yang diharapkan mampu menjadi media pengenalan aset desa dengan kemasan kegiatan yang menyenangkan.

Kegiatan “Ngulir Sejarah” ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, 9 April 2017 dengan start dan finish di Balai Desa Gari. Tentunya diharapkan bukan hanya anak-anak di Desa Gari saja, akan tetapi anak-anak diluar atau selain Desa Gari dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. (Kandar)

Komentar

Komentar