Napak Tilas Kopi di Gunungkidul

oleh
Sajian kopi di salah satu kafe di Gunungkidul. Foto: Istimewa.

WONOSARI, (KH).- Kopi dan budaya ngopi sudah menjadi trend akhir-akhir ini. Dapat dilihat dari perkembangan konsumsi kopi dan maraknya kedai kopi dan café di Indonesia. Tak terkecuali di Yogyakarta. Tercatat ratusan kedai kopi muncul di beberapa tahun terakhir. Sedikit berbeda dengan perkembangan kopi di Gunungkidul. perkembangan kopi di Gunungkidul tidak semasif kota-kota besar seperti Yogyakarta, tapi perkembangan kopi dua tahun terakhir cukup pesat. Dapat disaksikan dari semakin banyaknya kedai kopi yang muncul di dua tahun terakhir ini. Awal tahun 2016 hanya terdapat 3 kedai kopi yang menyeduh kopi asli, awal tahun ini tercatat sudah lebih dari 15 kedai kopi yang menyajikan kopi asli di Gunungkidul.

Namun banyak yang belum tahu bahwa budaya ngopi di Gunungkidul sudah ada sejak lama. Dalam sejarah di Gunungkidul, tercatat sudah terjadi beberapa kali penanaman kopi di Gunungkidul yang mana puncaknya terjadi di tahun 90-an, di mana Dinas Pertanian dan Perkebunan pada masa itu (orde baru) melakukan penanaman kopi di beberapa titik di Gunungkidul, terutama Gunungkidul bagian utara seperti Patuk, Nglipar, Ngawen, Semin.

Ada catatan juga bahwa di tahun yang sama kopi juga pernah ditanam di Gunungkidul bagian selatan, di daerah Rongkop dan perbatasan Wonogiri-Gunungkidul. Namun sayangnya karena tidak ada tindak lanjut dalam proses paska panen dan dianggap tidak menguntungkan, banyak petani yang lebih memilih menghabisi tanaman kopinya untuk diganti dengan komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Beberapa sisa tanaman kopi di tahun itu masih bisa dijumpai di Patuk, Nglipar, Ngawen, dan Manyaran (Perbatasan Semin-Wonogiri). Namun Awal mula budaya ngopi di Gunungkidul sendiri masih belum diketahui sejak kapan. Selain karena tertutup dengan budaya ngeteh yang lebih kental, juga karena minimnya informasi terkait budaya ngopi di Gunungkidul. Tapi dapat dibuktikan, bahwa budaya ngopi muncul sebelum penanaman tahun 90-an tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan Ngopi Walik dan Ngopi Klethus.

Ngopi walik adalah cara minum kopi tubruk panas yang mana piring tatakan ditaruh terbalik di atas gelas dan keduanya dibalik kemudian diminum pelan-pelan dari tepi piring tatakan yang mengeluarkan kopi pelan-pelan dan dalam kondisi sudah tidak panas lagi. Cara meminum kopi seperti ini dapat kita jumpai di berbagai lokasi di Pulau Jawa terutama daerah Pantura seperti daerah Tuban.

Sedangkan ngopi klethus adalah menikmati kopi pahit sambil ‘nglethus’ atau menggigit gula jawa atau gula aren. Dua cara menikmati kopi ini sudah turun-temurun diajarkan warga Gunungkidul terutama bagian utara.

Selain itu ditemukan pula tanaman kopi yang umurnya diperkirakan lebih dari 20 tahun. Ditandai dengan lingkar batang yang sangat besar dan kulit kayu yang sangat tebal serta banyak cabang ranting yang berukuran besar. Selain itu tidak lagi produktif dalam menghasilkan buah kopi. Beberapa hal di atas menunjukkan bahwa budaya ngopi sudah ada jauh sebelum tahun 90-an. Sayangnya hingga saat ini belum ditemukan catatan sejarah terkait budaya ngopi di Gunungkidul.

Komentar

Komentar