Minat Pemuda Nglanggeran Menjadi Petani Makin Berkurang

oleh
Triyana Purba (40), pemuda Dusun Nglanggeran Kulon yang setia menekuni dunia pertanian. KH/Tugi.

PATUK, (KH),– Minat pemuda Nglanggeran menjadi petani ditengarai makin berkurang. Hal ini dinyatakan oleh Triyana Purba (40), salah satu pegiat Desa Wisata Nglanggeran yang sehari-hari masih menekuni pertanian di dusunnya.

“Saya memang menjadi salah satu pegiat Desa Wisata Nglanggeran. Namun, pekerjaan pokok saya mengurusi lahan pertanian tidak pernah saya abaikan,” ujar Triyana. Ia menggarap bidang tanah sawah warisan orang tuanya di Dusun Nglanggeran Kulon. Dari tanah sawah dengan pengairan sepanjang tahun tersebut, ia mampu memproduksi padi 3-4 kali panen dalam setahun. Ia mengaku, kebutuhan bahan pokok beras tercukupi dari hasil panenan sendiri. Artinya, Triyana mampu mengupayakan swasembada beras dari usaha pertaniannya.

Triyana juga mendapatkan tambahan hasil dari mengolah pekarangan, berupa  berbagai sayuran, palawija, kakao dan durian. Ia juga beternak kambing, karena hijauan makanan ternak tercukupi dari pekarangan dan pematang sawahnya.

Triyana mengaku, sejak masih SD sudah diajari orang tuanya untuk bertani. Dengan membantu pekerjaan orang tua bertani selepas bersekolah, ia menjadi tahu harus mengerjakan apa saja seirama dengan musim pertanian yang dijalani orang tuanya.

Selepas lulus SMK, Triyana sempat merantau dengan menjadi TKI di Korea Selatan. Selama 5 tahun, dari 2000-2005, ia bekerja sebagai operator mesin di sebuah industri.

Sepulang dari merantau, Triyana tinggal di desa, dan bekerja apa saja yang bisa dilakukan. Hasil selama merantau, ia wujudkan untuk membantu kebutuhan orang tua dan sebagian diwujudkan untuk membuat rumah tinggal di dusun, yang ia tempati saat ini.

Booming ekowisata Desa Wisata Nglanggeran terjadi mulai tahun 2010. Triyana tercatat sebagai salah satu pengurus Karang Taruna yang ikut merintis dan membangun Desa Wisata Nglanggeran. Minat wisatawan terhadap Nglanggeran ternyata berkembang pesat, sehingga akhirnya dibentuklah Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran.

Meski turut aktif menjadi pengelola desa wisata, Triyana tidak meninggalkan dunia pertanian.

“Gimana ya, sejak kecil, saya sudah akrab dengan dunia pertanian. Membajak sawah, menanam, menyiangi, memupuk, menyemprot hama, sampai memanen itu sudah terbiasa. Lantas, yang utama saya itu sudah berkeluarga, sudah menanggung anak dan istri. Jadi, tidak mungkin saya tidak bertani. Hidup saya ditopang dari bertani. Dari kegiatan membantu wisata itu dapat tambah-tambahnya,” ungkap Triyana.

Ditanya tentang bagaimana minat anak-anak muda untuk menggeluti dunia pertanian, Triyana terdiam sejenak. Ia tampak tidak enak hati untuk mengatakan bahwa minat anak-anak muda untuk bertani semakin berkurang.

“Anak-anak muda, apalagi yang lebih muda dari saya, saat ini lebih suka nongkrong. Lebih suka main handphone,” ungkapnya. Dari puluhan rekan sebayanya, Triyana mengaku hanya beberapa orang yang serius menekuni dunia pertanian. Ia menyebut beberapa nama teman sebanyanya, yaitu: Bagas, Wagino, dan Giyanto. Menurutnya, ketiga teman sebayanya itu yang benar-benar serius menjadi petani.

“Semakin susah mendapati anak muda yang mau bertani. Rata-rata yang bertani seusia saya, cuman berapa orang yang masih muda. Mungkin karena belum ‘ketanggor butuh’, sehingga masih malas-malasan bertani,” timpal Hadi Purwanto (60), Ketua Gapoktan Desa Nglanggeran.

Indonesia termasuk Gunubgkidul, sesungguhnya memang sedang menghadapi permasalahan serius perihal ketersediaan bahan pangan, agar mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Pangan menjadi kebutuhan pokok yang teramat penting dan strategis. Ketersediaan pangan goyah, negara atau wilayah bisa mengalami kekacauan. Semoga masih ada anak-anak muda yang setia pada bidang pertanian, meskipun auranya tidak segemerlap pariwisata atau industri lainnya. (Tugi).

Komentar

Komentar