Meski Tangan Diamputasi Eko Sugeng Mampu Jadi Barista Handal

oleh
Eko Sugeng, Difable yang menjadi barista. KH
Eko Sugeng, Difable yang menjadi barista. KH

YOGYAKARTA, (KH),– Perjalanan hidup seseorang kadang tidak seperti apa yang direncanakan. Tanpa diduga aral dapat menghampiri siapapun.

Seperti yang dialami Eko Sugeng, seorang pemuda warga Kabupaten Sleman. Karena musibah tersengat aliran listrik tahun 2002 kedua tangannya terpaksa harus diamputasi. Hal tersebut sempat membuat Eko jatuh. Seolah tak ada harapan lagi dengan masa depannya.

Namun dengan tekad yang kuat, Eko mampu bangkit dari keterpurukan bahkan perjalanannya membuat inspirasi bagi banyak orang.

Di tengah keterbatasan fisik dengan kondisi tangannya yang tak lagi utuh, ia mampu menjadi penyaji kopi atau barista profesional.

Ditemui belum lama ini, pria 35 tahun ini sudah menekuni rutinitas menjadi barista sejak setahun lalu. Berawal dari pelatihan barista yang dilakukan oleh Pusrehab Yakkum, tempat dia dan kaum disabilitas di Yogyaakarta lainnya bernaung, bapak 1 anak ini dapat bangkit dari keterpurukan.

“Sempat terpuruk karena kondisi fisik tidak lagi sempurna. Saya kesulitan dalam mengembangkan diri utamanya ketika hendak mendapatkan pekerjaan,” ujarnya ketika acar Temu Inklusi Nasional di Playen Gunungkidul Oktober 2018 lalu.

Berkat ketekunannya, saat ini Eko bekerja sebagai barista di Kedai Kopi Capable Jalan Kaliurang, Sleman, yang dikelola oleh Yayasan Yakkum.

Eko tidak sendiri, ada 7 penyadang disabilitas lainnya yang tergabung dalam Kedai Kopi Capable. Bukannya tanpa kendala, Eko sempat terkendala dengan peralatan kopi, khususnya yang berbentuk mesin.

Dengan kedua tangan yang tak sempurna, Eko sempat kesulitan menggunakan mesin porta untuk membuat kopi latte. Tidak mau menyerah, Eko bersama bengkel khusus yang memproduksi alat bagi difable memodifikasi mesin kopi tersebut. Sehingga bisa digunakan bagi kaum disabilitas.

“Bagi saudara penyandang disabilitas seperti saya jangan mudah menyerah. Percaya saja bahwa dengan kemauan, tidak ada yang tidak mungkin,” pesan Eko memberi semangat bagi sesama penyandang disabilitas.

Kini, setahun berjalan bekerja di kedai kopi, keinginan Eko mengembangkan diri semakin besar. Eko bermimpi bisa mandiri dengan mmiliki kedai kopi sendiri agar bisa lebih bermanfaat bagi penyandang disabilitas lainnya. (Kandar)

Komentar

Komentar