‘Merobohkan Belenggu’ Kisah Perjuangan Mbok Sathis Melepaskan Pasung Antok

Mbok Sathis, merawat Antok dengan kasih yang tiada batas agar sembuh. IMAJI

RONGKOP, (KH),– Harta benda tak terkira jumlahnya dikorbankan. Hal itu ditempuh seorang ibu sepuh yang akrab dipanggil Mbok Sathis demi kesembuhan keponakannya, Seto yang mengalami gangguan jiwa. Kedengarannya seolah absurd, bagaimana tidak, 12 tahun Seto hidup dalam belenggu pasung, namun kini dapat dilepaskan.

Saat ditemui Mei lalu, Mbok Sathis bercerita bagaimana upaya dan perjuangannya agar keponakan yang kini berganti nama menjadi Antok tersebut lepas dari jerat pasung. Untuk ukuran warga biasa yang tinggal di Desa Botodayakan, Kecamatan Rongkop, biaya pengobatan yang dihabiskan terhitung luar biasa banyak.

Demi keponakan yang diasuh sejak umur 16 bulan itu Mbok Sathis rela menjual sapi dan tanah tegalan/ ladang. Bahkan lahan pekarangan turut laku demi kesembuhan Antok. Patut disayangkan, sebab usaha yang menghanyutkan banyak biaya tersebut tidak membuahkan hasil berarti. Waktu itu upaya pengobatan secara medis dan terapi kesehatan jiwa oleh lembaga kesehatan jiwa belum menjadi langkah yang ditempuh secara optimal.

“Dibawa juga ke timur sana. Ya dukun dan segala macam ditempuh,” kisah mbok Sathis begitu serius menggambarkan spirit cinta kasih yang tiada batas kepada keponakannya.

Mbok Sathis mengaku hampir seakan hilang akal, upaya apalagi yang akan ditempuh. Belum lagi pandangan buruk atau stigma dari masyarakat di lingkungan ia tinggal menjadi beban pikiran yang tak kalah hebat.

Seiring berjalannya waktu, akses pengobatan semakin terbuka. Perhatian terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dari instansi terkait semakin baik. Tak dipungkiri Kecamatan Rongkop memiliki jumlah ODGJ yang tinggi di Gunungkidul. Sehingga perhatian terhadap hal tersebut banyak mengarah ke wilayah di sisi timur Gunungkidul ini. Lantas atas saran beberapa tokoh warga disertai petugas Puskesmas di Kecamatan Rongkop, Antok dirawat di RSJ Puri Nirmala Yogyakarta.

Antok  harus berada di Puri Nirmala tiga bulan lamanya. Tak hanya itu, Antok juga masih bolak-balik dibawa ke Grhasia Pakem, Yogyakarta. Meski begitu, perasaan bahagia dan lega mulai Mbok Sathis rasakan. Bagaimana tidak, kondisi kesehatan jiwa Antok semakin membaik. Remaja ini mulai mengenali jati dirinya.

“Sekarang masih rutin minum obat. Saya selalu tanya obatnya masih ada tidak? Jika hampir habis saya langsung minta tolong remaja sekitar mengambilkan obat di Puskesmas,” tutur Sathis riang.

Basuki Rahmat, Petugas Medis di Puskesmas Rongkop. IMAJI

Kesungguhan Basuki Rahmat, Petugas Medis Puskesmas Rongkop

Kesembuhan antok tak lepas dari peran seorang petugas medis dari Puskesmas Rongkop, Basuki Rahmat. Ia sungguh berniat agar penyandang ODGJ di Rongkop satu demi satu sembuh. Basuki bahkan bisa dibilang bersedia bekerja melebihi beban pekerjaan yang diberikan instansi tempatnya mengabdi.

Saat ditemui Basuki menggambarkan kondisi Antok sebelumnya. Kata Basuki, Antok tidak mengenali orang lain, ibunya saja tidak kenal.Apalagi orang di luar lingkungan keluarganya.

“Saat ini tanya saja dia (red, antok), Pak Kadus siapa? nama Pak Lurah siapa? sekarang Antok tahu dan mengenal,” tutur Basuki.

Ungkapnya, tahun ini merupakan pengobatan tahun kelima yang dijalani antok secara medis. Disamping itu terapi psikososial juga sangat membantu kondisi kesembuhan Antok.

Sungguh proses pengobatan yang tidak sebentar. Dengan sabar Basuki sering mengunjungi kediaman Antok, mengajak berkomunikasi dan menyemangati. Basuki Rahmat merupakan salah satu sosok penting dibalik kesembuhan Antok.

“Penerapan pengobatan terapi yang paling pertama atau paling penting ialah komunikasi yang baik. Disertai niat sungguh-sungguh ingin agar ODGJ sembuh. Maka saya yakin sembuh. Lantas yang ke-2 menerapkan bahwa dia harus dianggap seperti saudara,” tandas Basuki.

Menurutnya, yang paling berperan adalah keluarga dan lingkungan. Lingkungan jelas sangat berpengaruh. Saat ini pandangan buruk dari lingkungan di seputar ODGJ tinggal berangsur semakin berubah. Cukup baik. Basuki sering mengajak berdiskusi sekaligus memberikan pemahaman tentang bagaimana berinteraksi dengan ODGJ, antara lain tindak membedakan, tidak melakukan diskriminasi dan tidak menganggap seperti orang yang berbeda.

Ia meminta ke tokoh atau Kepala Dukuh setempat agar ODGJ diajak kerja apa saja. Panen padi warga, kerja bakti lingkungan dan sebagainya. Hal tersebut sebagai bentuk terapi aktivitas/ kerja. Sementara waktu, upah bagi ODGJ atas pekerjaannya bukan yang utama, akan tetapi hal tersebut sebagai terapi agar mereka merasa diterima di lingkungan. Selain itu juga agar tidak banyak melamun di rumah.

“Jika aktivitasnya sudah bagus sangat membantu penyembuhan. Tidak memungkiri masyarakat umum yang belum paham saat ini mencari enaknya saja, yakni melakukan tindakan ekstrim menyingkirkan atau membuang ODGJ. Tetapi itu tidak memecahkan masalah,” ujar Basuki menyatakan sangat tidak setuju atas tindakan sebagian masyarakat yang cenderung tidak memiliki kepedulian terhadap ODGJ.

Sambung Basuki, sebelumnya banyak juga masyarakat yang tidak tahu, tetapi kesembuhan Antok saat ini menjadi contoh di desa-desa di seputar Rongkop, bahwa ODGJ bisa disembuhkan. Asal, tindakan tulus memperlakukan sebagaimana manusia normal pada umumnya nyata ada. Lagi-lagi Basuki tegaskan, bahwa terapi lingkungan dan terapi aktivitas sangat membantu.

“Banyak pihak yang harus berperan, pusat kesehatan, pejabat desa, Polsek, keluarga dan masyarakat. Di lingkup kecamatan leadershipnya harus Puskesmas. Di kecamatan Rongkop memang sudah disepakati menjadi wilayah yang ramah terhadap ODGJ,” tukas Basuki. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar