Menyibak Tabir Penghuni Rumah Peradaban Gua Braholo Rongkop

Gua Braholo di Desa Semugih, Kecamatan Rongkop. KH/ Kandar

RONGKOP, (KH),– Sejak awal Oktober lalu, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Badan Penelitian Dan Pembangunan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian di Goa Braholo, di Desa Semugih, Kecamatan Rongkop.

Kegiatan ini dilakukan sebagai lanjutan ekskavasi yang pernah dilakukan sebelumnya sejak tahun 1996. Hasil pada penelitian di Gua Braholo sebelumnya masih terbilang minim. Hingga penelitian yang dilakukan pada tahun 2001 silam menunjukkan hasil yang masih berada dalam level awal.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Arkeometri Dan Konservasi Pusat Arkeologi Nasional, Drs. E. wahyu Saptomo M. Hum., pada kegiatan sosialisasi hasil penelitian arkeologi di situs Gua Braholo, Selasa, (24/10/2017) lalu.

Wahyu Saptomo berharap, penelitian kali ini diharapkan dapat menunjukkan hasil yang lebih lengkap. Menemukan fakta baru yang lebih jelas sehingga bisa direkonstruksi. Manfaat lain, salah satunya guna pemberdayaan dan pemanfaatan sumber daya arkeologi Gua Braholo untuk khasanah keilmuan atau pendidikan serta asset wisata budaya minat khusus.

“Indonesia sangat kaya dengan sumber daya arkeologi, hal ini menarik perhatian dunia. Sebab, 60 persen fosil purba di dunia ada di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, dalam pemaparan, Peneliti arkeologi di Situs Goa Braholo, Dr Thomas Sutikna menjabarkan rentetan sejarah secara umum mengenai arkeologi Indonesia dan temuan-temuan kegiatan ekskavasi yang diperoleh khususnya di Gua Braholo.

Menurut Sutikno, secara geografis Indonesia sangat strategis, berada atau diapit benua Asia dan Australia. Indonesia layaknya periuk, semua aspek arkeologi di dunia hampir semua ada. Ungkap dia, cikal bakal penghuni Nusantara atau Indonesia berasal dari kontinen penduduk Eurasia. Mulanya terjadi sejak pada masa Glasial-Interglasial dan Migrasi.

“Glasial sama dengan zaman es, dimana terjadi empat kali sepanjang sejarah bumi. Ketika zaman es semua air laut beku, sehingga wilayah Indonesia bagian barat yang sering disebut paparan Sunda  atau Sundaland, meliputi Kalimantan, Sumatra, Semenanjung Malaysia, Jawa dan Bali masih bersatu atau terhubung dan tidak dibatasi lautan. Air laut kala itu surut atau kering,” papar Sutikna.

Sambungnya, Zaman es terakhir terjadi 19.000 tahun yang lalu, kemudian berakhir sekitar 10.000 tahun lalu. Pada saat itu air laut turun sampai 120 meter. Hal tersebut menyebabkan adanya ‘jembatan darat’ sehingga banyak fauna juga manusia purba dari kontinen Asia bisa menyeberang. Maka sampailah Manusia Purba dan Hewan Purba di Indonesia.

Pulau Bali menjadi ujung paparan Sunda pada masa itu. Dengan demikian persebaran jenis fauna di wilayah paparan Sunda terdapat kesamaan. Batas paparan Sunda dalam hal persebaran hewan dibatasi istilah garis hipotesis atau garis khayal bernama garis Wallace. Wilayah yang terletak di sebelah barat garis Wallace, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali merupakan tempat penyebaran fauna Asiatis.

Ditemukan Fosil Gajah Asia (Elephas maximus)

Ekskavasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Gua Braholo. KH/ Kandar.

Fosil atau fragmen tulang beberapa fauna langka Asiatis ini juga ditemukan di Gua Braholo. Terdapat fosil lebih dari 30 jenis fauna baik yang hidup di laut, air tawar dan darat ditemukan di Gua dengan tinggi 15 meter dan luas keseluruhan 1.170 meter peregi ini.

“Musang, anjing hutan, landak, rusa, kerbau, sapi, kancil, babi hutan, monyet, ular sanca, dan kura-kura. Terdapat pula temuan fragmen tulang hewan besar seperti badak, banteng, kuda nil dan gajah asia (Elephas maximus) atau yang ditengarai sebagai Stegodon,” papar lelaki kelahiran Gunungkidul ini. Disebutkan, penggalian semakin ke dalam, fragmen tulang yang ditemukan berasal dari jenis fauna yang semakin besar pula.

Mengenai keberadaan manusia purba, pada penelitian 1998 di Gua Braholo telah ditemukan dua individu rangka manusia. Manusia tersebut merupakan manusia modern awal yang hidup sekitar 10.000 tahun lalu.

Sebagaimana diketahui, Manusia Purba modern, Homo Sapiens yang pertama kali keluar dari Afrika sekitar 100 ribu tahun lalu, kemudian bermigrasi sampai di Asia Tenggara sekitar 60.000 sampai 70.000 tahun yang lalu. Lalu keturunannya tiba di Paparan Sunda termasuk di Nusantara sekitar 50.000 tahun yang lalu. Di Indonesia fosil manusia purba jenis ini ditemukan di Wajak, Jawa Timur. Dikenal dengan sebutan Homo Wajakensis.

Literatur lain menyebutkan, kedatangan manusia modern di Nusantara terjadi secara bergelombang. Migrasi yang kedua datang dari Asia Daratan, wilayah yang sekarang menjadi Vietnam pada sekitar 30.000 tahun yang lalu. Kemudian Migrasi ketiga adalah kedatangan penutur berbahasa Astronesia dari Formosa sekitar 5.000-6.000 tahun yang lalu. Bukti dari ilmu arkeologi menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu tahun yang lalu.

Peneliti arkeologi di Situs Goa Braholo, Dr Thomas Sutikna. KH/ Kandar

Lebih jauh disampaikan, Manusia penghuni Gua Braholo telah mulai membuat peralatan dari tulang dan kerang. Alat berupa berbagai lancipan,berbagai jarum, pisau, alat serut dan alat upam. Kerang-kerang laut tersebut dibawa dari pantai selatan. Di level 7.000 tahun lalu, manusia penghuni Gua Braholo juga telah mengenal seni.

“Di Gua Braholo juga ditemukan hiasan berupa manik-manik dari cangkang kerang laut. Berdasar fosil yang ditemukan pada salah satu individu sudah mengenal sistem penguburan primer. Sementara yang lain mengenal sistem penguburan sekunder,” jelas Sutikna lagi.

Keberadaan tulang belulang fauna yang cukup melimpah di Gua Braholo membuktikan bahwa gua tersebut digunakan sebagai tempat bermukim. Sebagian dari tulang dan cangkang itu merupakan sisa-sisa makanan manusia yang hidup pada awal kala Holosen itu. Para arkeolog sepakat menyebut Gua Braholo sebagai rumah peradaban.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Ruly Adriadi menambahkan, Goa Braholo telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya berdasar kepulusan Gubernur DIY Nomor: 349/ KEP/ 2012/ tentang penetapan Cagar Budaya. Pemkab Gunungkidul juga telah menetapkannya sebagai Daftar Warisan Budaya melalui keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul Nomor: 033/KPTS/ WB/ 2014 tentang Daftar Warisan Budaya.

“Saat ini dalam proses penetapan cagar budaya menurut undang-undang RI No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” tuturnya.

Ruly menandaskan, nilai penting Gua Braholo cukup tinggi, yaitu merupakan salah satu lokasi yang difungsikan sebagai tempat hunian masa pra sejarah dengan rentang waktu lama yang mengandung bukti sisa-sisa kehidupan masa lampau yang lengkap. Keberadaan Gua Braholo juga menunjukkan kompleksitas kegiatan manusia yang beragam, mulai dari industri peralatan, penguburan dan kegiatan sehari-hari.

Untuk tahun ini Dinas kebudayaan DIY akan melakukan tindak lanjut dengan mendokumentasikan gua dengan teknologi 3D laser scanner dan penjagaan awal potensi gua. Sementara, direncanakan pada 2018 mendatang akan dilakukan kajian terkait pengembangan dan pemanfaatan situs Goa Braholo. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar