Mengikat Sejarah Cuwelo dengan Balutan Budaya

oleh

SEMANU, kabarhandayani.– Puncak acara bersih desa atau rasulan Cuwelo digelar pada Jumat (15/8/2014) dengan kirab budaya dan pentas kesenian. Ribuan warga turut serta dalam kirab yang berpusat di Balai Padukuhan Cuwelo Kidul, Desa Candirejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul.
Prosesi kirab diawali dengan mengambil gunungan dari 7 padukuhan. Seluruh grup kesenian dan warga kemudian berbondong-bondong mengarak gunungan tersebut menuju Balai Padukuhan Cuwelo Kidul.
Prayoto Samadikun (45), Ketua Panitia menjelaskan, dulunya Cuwelo merupakan sebuah desa yang terdiri dari Padukuhan Gebang, Soka, Cuwelo Kidul, Cuwelo Lor, Kropak, Pace dan Mranggen. Tujuh padukuhan tersebut kemudian melebur menjadi desa Candirejo. “Bersih desa ini rutin kita laksanakan setiap tahun,yang lokasinya berpindah-pindah. Namun mulai tahun ini kegiatan dipusat di Balai Padukuhan Cuwelo Kidul dengan alasan mengenang sejarah Cuwelo, serta letaknya di tengah dan strategis,” jelasnya.
Lanjut Prayoto, Bersih Desa Cuwelo diramaikan dengan pertandingan sepak bola, penampilan 14 band dari 7 padukuhan pada Rabu (13/8/2014), pagelaran kethoprak dengan mengambil sejarah Ki Ageng Cuwelo pada Kamis (14/8/2014), puncak acara yakni kirab budaya dan pentas seni pada hari ini dan ditutup dengan wayang kulit pada malam harinya.
Prayoto menungkapkan, seluruh rangkaian acara ini menghabiskan dana sekitar 60 juta yang merupakan hasil iuran swadaya masyarakat. Dengan iuran sejumlah Rp 70.000,00 per KK terkumpul dana 42 juta dan sisanya berasal dari iuran pemain reog, Paguyupan Putra Cuwelo (PPL) se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).
Menurut Prayoto, rasulan merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas rejeki yang diberikan. Selain itu, rasulan dapat menyatukan masyarakat yang terdiri dari berbagai strata sosial. “Rasulan merupakan bentuk rasa syukur dan semangat gotong royong antar warga. Selain itu, acara yang digelar juga merupakan bentuk hiburan bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Camat Semanu, Wastana yang hadir dalam acara tersebut mengajak seluruh warga masyarakat untuk terus melestarikan budaya rasulan. Pasalnya, rasulan mengandung nilai luhur yang tinggi, seperti perwujudan rasa syukur kepada Tuhan dan meningkatkan gotong royong antar warga masyarakat.
“Mari kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas nikmat rejeki dan kesehatan. Semoga di tahun-tahun selanjutnya pelaksanaan rasulan semakin dapat meningkatkan persatuan antar warga,” pungkasnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar