Mengenang Jaman Gaber: Masa Krisis Pangan Tahun 60-an

oleh
Lahan gersang Petak 5 (Wanagama) pada tahun 1960an. Dok: Fakultas Kehutanan UGM.

Berawal dari penjualan satu persatu barang berharga miliknya. Dimulai dari hewan ternak, kandang ternak, pintu dan jendela rumah, genteng rumah, kayu-kayu penopang rumah, sampai semua rumah habis dijual hanya untuk makan. Setelah itu pergi ke kota Wonosari mengais-ngais makanan. Sasarannya tentu saja pasar Wonosari. Sekarang namanya pasar Argosari.

Rumah orang tua saya kebetulan persis berhadapan dengan belakang Pasar Argosari yang hanya dibatasi oleh pagar besi berduri. Saya melihat sendiri, setiap hari ada saja orang yang meninggal di pasar itu karena kurang gizi. Istilahnya waktu itu HO (hongerudim). Daging tubuh membesar tetapi kalau ditekan tidak kembali. Karena terlalu banyak minum saja.

Saat itu, bagi yang mempunyai rejeki berlebih, setiap hari diminta urunan membuat bungkusan nasi tiwhul dan lauknya. Seiklhasnya. Keluarga saya termasuk beruntung. Usaha orang tua yang tadinya jualan pakaian, beralih jualan bahan pangan gaplek dan gaber. Saya ikut berjualan.

Tempe Mlanding Menjadi Penyelamat Gizi

Bagi keluarga yang beruntung dan masih mempunyai anak-anak kecil, hal yang dapat menolong sehingga tidak terjadi generasi yang hilang karena kekurangan gizi adalah thiwul dan tempe mlanding. Tempe yang dibuat dari biji petai China (mlanding atau manding). Daun muda tanaman petai China dipakai buat lalapan. Tempe kedelai ada tetapi mahal saat itu. Karbohidrat dapat dipenuhi dari thiwul, sedangkan protein dipenuhi dari tempe mlanding ataupun tempe kedele.

Secara politik, Jaman Gaber bisa dikatakan bagian implikasi dari kebijakan pemerintah Soekarno untuk “berdiri di kaki sendiri”.  Kebutuhan rakyat harus dapat dipenuhi dari kekayaan yang ada di bumi sendiri. Begitulah arti sederhananya. Sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang berorientasi kaptalisme.

Politik rejim Soekarno waktu itu lebih condong pada Rusia dan China. Berlawanan politik dengan Amerika dan sekutunya. Bersamaan dengan itu, konfrontasi dengan Malaysia juga sedang memuncak. Anggaran Negara dipakai lebih untuk membangun angkatan perang.

Komentar

Komentar