Mengenang Jaman Gaber: Masa Krisis Pangan Tahun 60-an

oleh
Lahan gersang Petak 5 Playen Gunungkidul pada tahun 1960-an. Dok: Fakultas Kehutanan UGM.

KH,- Jaman Gaber merupakan masa sulit makan yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 1963. Bagi warga Gunungkidul yang pada tahun itu sudah cukup umur, merasakan sulitnya pangan tidak akan pernah terlupakan. Saya sendiri salah satu warga asli Gunungkidul, saat itu berumur 12 tahun, masih di Sekolah Dasar kelas 6. Beras tidak ada di pasar, dan masyarakat tidak mampu membeli beras.

Gaber adalah ampas tepung tapioka atau bungkil ketela pohon yang dikeringkan. Sekarang gaber dipakai untuk campuran makanan ternak. Gaber menjadi bahan pangan pokok saat terjadi krisis pangan di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 1963, sehingga dikenal Jaman Gaber.

Mengapa Terjadi Jaman Gaber?

Posisi Indonesia dalam hal pangan sudah sangat memprihatinkan. Laju penyediaan pangan utama tidak bisa mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Besar dan macam jumlah impor pangan sudah memasuki ke dalam fase mendekati kehilangan kedaulatan pangan. Bahkan beberapa referensi mengatakan, ibarat penyakit kondisinya sudah memasuki stadium empat.

Kebanyakan orang sepertinya tidak pernah merasakan, bagaimana memproduksi bahan pangan itu sesungguhnya memerlukan proses panjang. Kebijakan pangan harga murah sesungguhnya mempunyai implikasi negatif pada masyarakat banyak, yang terkesan tidak menghargai proses produksi pangan.

Untuk generasi sekarang yang tidak pernah mengalami jaman gaber, mungkin tidak pernah merasakan makan gaber dan bulgur. Gaber adalah ampas tepung tapioka atau bungkil ketela pohon yang dikeringkan. Bulgur berasal dari jagung kering yang di pecah-pecah kecil. Bulgur merupakan bantuan Amerika saat krisis pangan di Gunungkidul. Di Amerika bulgur untuk makanan ternak.

Gambaran Kondisi Saat Jaman Gaber

Saat jaman gaber, terjadi fenomena yang sangat menyentuh hati. Beras menjadi barang sangat langka dan susah didapat. Banyak orang tidak bisa membeli beras karena kalau ada harganya mahal sekali.

Orang-orang desa yang kekurangan pangan pada pergi ke kota Wonosari, ibukota Kabupaten Gunungkidul. Mereka mencari kerja buat bisa makan. Karena peluang kerja juga susah, sebagian juga karena sudah tidak punya apa-apa lagi.

Berawal dari penjualan satu persatu barang berharga miliknya. Dimulai dari hewan ternak, kandang ternak, pintu dan jendela rumah, genteng rumah, kayu-kayu penopang rumah, sampai semua rumah habis dijual hanya untuk makan. Setelah itu pergi ke kota Wonosari mengais-ngais makanan. Sasarannya tentu saja pasar Wonosari. Sekarang namanya pasar Argosari.

Rumah orang tua saya kebetulan persis berhadapan dengan belakang Pasar Argosari yang hanya dibatasi oleh pagar besi berduri. Saya melihat sendiri, setiap hari ada saja orang yang meninggal di pasar itu karena kurang gizi. Istilahnya waktu itu HO (hongerudim). Daging tubuh membesar tetapi kalau ditekan tidak kembali. Karena terlalu banyak minum saja.

Saat itu, bagi yang mempunyai rejeki berlebih, setiap hari diminta urunan membuat bungkusan nasi tiwhul dan lauknya. Seiklhasnya. Keluarga saya termasuk beruntung. Usaha orang tua yang tadinya jualan pakaian, beralih jualan bahan pangan gaplek dan gaber. Saya ikut berjualan.

Tempe Mlanding Menjadi Penyelamat Gizi

Bagi keluarga yang beruntung dan masih mempunyai anak-anak kecil, hal yang dapat menolong sehingga tidak terjadi generasi yang hilang karena kekurangan gizi adalah thiwul dan tempe mlanding. Tempe yang dibuat dari biji petai China (mlanding atau manding). Daun muda tanaman petai China dipakai buat lalapan. Tempe kedelai ada tetapi mahal saat itu. Karbohidrat dapat dipenuhi dari thiwul, sedangkan protein dipenuhi dari tempe mlanding ataupun tempe kedele.

Secara politik, Jaman Gaber bisa dikatakan bagian implikasi dari kebijakan pemerintah Soekarno untuk “berdiri di kaki sendiri”.  Kebutuhan rakyat harus dapat dipenuhi dari kekayaan yang ada di bumi sendiri. Begitulah arti sederhananya. Sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang berorientasi kaptalisme.

Politik rejim Soekarno waktu itu lebih condong pada Rusia dan China. Berlawanan politik dengan Amerika dan sekutunya. Bersamaan dengan itu, konfrontasi dengan Malaysia juga sedang memuncak. Anggaran Negara dipakai lebih untuk membangun angkatan perang.

Jaman gaber terjadi sebenarnya bukanlah karena wilayah Gunungkidul yang tandus atau curah hujan kurang. Wilayah tandus di Gunungkidul hanya terbentang di wilayah pegunungan bagian selatan. Daerah utara yang membentang dari barat sampai ke timur adalah tanah subur dengan kedalaman top soil yang masih lebar, lebih satu meter. Curah hujan setiap tahun juga masih normal, sekitar 3000 mm.

Yang memicu terjadinya susah pangan adalah lebih karena hama tikus yang menggila. Hama tikus memakan semua hasil panen. Obat-obatan hama tikus tidak ada waktu itu. Sehingga, terjadilah bencana bencana kelaparan.

Alam Tropis yang Menyelamatkan

Orang mungkin bertanya tanya. Mengapa Jaman Gaber bisa cepat berlalu? Apakah kerja pemerintah begitu hebat waktu itu? Tanpa mengesampingkan kinerja pemerintah dalam mengatasi Jaman Gaber waktu itu, teratasinya Jaman Gaber lebih terbantu karena faktor alam tropis.

Hama tikus hilang dengan sendirinya karena mati kurang pangan. Ini sama seperti juga manusia. Begitu tikus berangsur hilang dan musim hujan tetap berlangsung, hamparan lahan tumbuh dengan cepat tanaman jawud dan canthel. Sekarang, jawud rupanya hanya menjadi makanan burung. Tanaman canthel sejenis dengan tanaman jagung. Kedua tanaman ini menjadi sumber makanan alternatif. Berangsur angsur bencana kelaparan teratasi.

Darimana tanaman jawut dan cathel itu. Tidak ada yang aneh sebenarnya. Itulah kehebatan sumberdaya alam tropis basah munsonal. Orang yang tinggal di wilayah ini harus bersyukur karena diberi “warisan” alam oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kemampuan “recovery” yang sangat tinggi.

Adanya unsur tanah subur dan tersedianya air merupakan prasarat alam yang telah ada (given). Wilayah Gunungkidul termasulk didalamnya. Tanaman jawut dan canthel muncul karena sel biji kedua tanaman ini mempunyai kemampuan tetap hidup dalam kondisi kering. Pemindahan secara alami oleh burung juga berperanan.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Jaman Gaber memberi pelajaran pada kita dalam hal budaya menghargai makanan. Kebijakan harga makanan murah —beras terutama— salah satu sisi negatifnya adalah berkembang budaya tidak menghargai nasi. Betapa sengsaranya kalau setiap perut lapar tidak ada nasi. Dalam kondisi seperti ini, uang tidak mempunyai arti apa-apa. Coba perhatikan kalau kita sedang menghadiri pesta. Banyak sisa makanan yang tidak dimakan, karena mengambilnya kebanyakan. Cermin budaya tidak menghargai makanan.

Perlu dicontoh bagaimana ibu-ibu bangsa Jepang mendidik anak menghargai makanan sejak kecil. Sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat Jepang pada waktu makan, saat makan nasi diambil dan ditaruh dalam mangkuk kecil. Menjadi budaya orang Jepang bahwa makanan yang sudah diambil harus habis. Jadi waktu mengambil disesuaikan dengan kebutuhan.

Cara mendidik anak yang dilakukan ibu-ibu orang Jepang untuk menghargai nasi dimulai saat anak mulai bisa makan sendiri. Nasi yang sudah diambil dalam mangkuk kecil harus habis. Saat hampir akhir makan, masih tersisa butiran nasi yang menempel dalam mangkuk. Anak kecil tentu tidak bisa mengambilnya pakai sumpit. Kemudian si ibu mengajarinya dengan cara mencelupkan sumpit pada kuah. Nasi yang menempel lekat dengan mangkuk jadi mudah diambil dengan sumpit.

Dari sisi lain, meledaknya jumlah penduduk akhir-akhir ini memberikan perkiraan akan terjadi krisis pangan yang kedua. Diperkirakan terjadi pada tahun 2017. Dunia sekarang dijejali dengan 7 milyar penduduk. Penduduk Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan akan berjumlah 300 juta. Sejumlah 167 juta jiwa di antara tinggal di Jawa.

*****

Diceritakan oleh Sahid Susanto pada tanggal 18 April 2014. Catatan Redaksi: Prof. Dr. Ir. Sahid Susanto, MS. adalah guru besar Teknologi Pertanian UGM. Kisah tersebut ditulisnya di Cerita Fakta Sumber Daya Alam Tropis, Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Komentar

Komentar