Mengenali Remaja Dan Sebab-Sebab Perilaku Menentang

oleh
Ardi Primasari, M.Psi.,Psikolog

GUNUNGKIDUL, (KH),– Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan kejadian yang viral di media sosial yakni peristiwa seorang guru yang dianiaya oleh sekelompok siswa. Dalam video tersebut terlihat bahwa guru ditendang oleh beberapa siswa.

Kejadian memprihatinkan tersebut menjadi topik hangat dikalangan guru, orangtua, masyarakat bahkan pemerintah. Kondisi tersebut tentu saja menimbulkan pertanyaan, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, siapa yang salah?”. Ada kemungkinan menyalahkan siswa, menyalahkan guru atau menyalahkan keluarga siswa tersebut. Orangtua dan guru menjadi rancu, perlakuan apa yang tepat dilakukan untuk anak dan remaja saat ini.

Dengan perlakuan halus, kadang anak jadi melawan, melonjak dan kurang menghargai, dan jika diperlakukan dengan keras atau kasar, dirasa juga tindakan kurang tepat.

Peristiwa melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang siswa kepada guru tersebut merupakan salah satu bentuk perilaku melawan. Pada remaja, perilaku melawan atau membangkang didasari pada dua hal yaitu untuk melawan aturan dan melawan otoritas orang dewasa.

Remaja ingin mencari kebebasan dengan melawan  orang  dewasa seperti melawan guru, orang tua atau orang dewasa yang bisa mengontrol dirinya. Mereka ingin menunjukkan identitas diri dan pengakuan dirinya (Pickhardthm 2009).

  • Berdasarkan hasil penelitian muthakir mengenai perilaku yang dilakukan pada siswa SMA, ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan perilaku menentang pada remaja menurut Ganiron, dkk., (2017), antara lain:Remaja mencari perhatian. Di rumah, remaja terkadang kurang mendapat perhatian dari orang tua. 56% responden penelitian mengatakan setuju bahwa ia kurang diperhatikan oleh orang tua dan 44% lainnya mengatakan sangat setuju bahwa orang tua tidak memberi perhatian kepadanya. Remaja membutuhkan perhatian orang tua, terutama pada saat dirinya sedang mengalami masa-masa sulit. Orang tua yang sibuk bekerja dan tidak memberi perhatian kepada anaknya, akan berpengaruh buruk terhadap perilaku dan masa depan anak.

 

  • Pengaruh teman. Teman dapat member pengaruh baik dan buruk sekaligus. 59% dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa mereka memiliki perilaku melawan karena pengaruh teman. Pertemanan memberi konstribusi besar dalam membentuk perilaku dan kepribadian remaja.

 

  • Depresi pada remaja. Remaja bisa mengalami depresi dan seringkali tidak terdeteksi. Beberapa orang tua menganggap bahwa remaja yang menunjukkan perilaku tidak normal adalah sesuatu yang wajar dan dianggap sebagai bagian dari remaja mencari perhatian orangtua. Penolakan dari orangtua saat remaja mengatakan bahwa dirinya merasakan depresi membuat remaja semakin tidak berdaya dan putus asa.

 

  • Masalah relasi pada remaja. Remaja yang sudah mulai jatuh cinta dan tertarik pada lawan jenis, ketika mengalami penolakan memicu perilaku melawan. Penolakan orang tua akan perasaan jatuh cinta-nya pada lawan jenis mendorong remaja untuk melawan dan menentang.

 

  • Konflik keluarga. Remaja yang tinggal di dalam lingkungan keluarga yang sering bertengkar, beradu mulut dan saling membenci membuat cenderung tertekan. Remaja cenderung menyalahkan dirinya atas pertengkaran orangtua. 69% remaja mengatakan bahwa permasalahan emosi yang dialaminya bersumber dari keluarga yang tidak damai dan tidak harmonis.

 

  • Masalah Study di sekolah. Remaja seringkali mengalami kesulitan belajar di sekolah. Remaja yang mengalami kesulitan belajar ditambah dengan masalah perceraian orangtua, cek-cok pada orangtua, kurangnya perhatian orangtua, dan pengaruh buruk teman mendorong remaja memiliki perilaku menentang dan melawan.

 

  • Mencari Kebebasan. Mencari kebebasan adalah bagian dari proses remaja menuju dewasa. Mereka memiliki kebutuhan untuk mencoba hal baru.

Menjadi orang tua dari anak yang sudah remaja tidak selalu mudah. Usaha orangtua memberikan yang terbaik pun, kadang kala menjadi salah dalam persepsi anak remajanya.

Hal ini dikarenakan orangtua selalu dianggap berbeda pendapat dengan dirinya dan teman-temannya. Remaja merasa orangtua dan dirinya hidup dalam dunia yang berbeda. Begitu komplek masalah yang dihadapi remaja. Meskipun demikian, rumah adalah tempat penting pertama bagi anak menerima nilai-nilai dalam hidupnya. Rumah adalah sumber pembentukan nilai dan sikap bagi remaja, yang akan membantu remaja untuk mengambil keputusan ketika dirinya berada di luar rumah.

Berkaitan dengan peristiwa guru yang di-bully oleh siswanya, perlu diketahui bahwa perilaku melawan dan menentang pada anak dimulai dari in-konsitensi dalam menegakkan aturan.

Guru hendaknya tetap bersikap penuh belas kasih dan ketulusan dalam membimbing, sekaligus bersikap tegas dalam menerapkan aturan dan ketentuan yang berlaku. Guru yang tidak konsisten dalam melaksanakan aturan membuat siswa merasa ada “angin” untuk mengambil otoritas.

Oleh karena itu, perlu dibuat kontrak belajar yang sama-sama nyaman, adil dan konsekuen, baik bagi siswa dan guru. Misalnya: disepakati bersama bahwa ada konsekuensi tertentu jika anak terlambat. Sebaliknya, juga perlu konsekuensi tertentu yang disepakati jika guru terlambat. Tentunya perlu diiringi dengan reward/ hadiah yang pantas bagi anak yang taat dan konsekuen dengan aturan. Hadiah dapat berupa pujian, pemberian benda sederhana atau penghargaan dalam bentuk lain.

Demikian pula halnya di lingkungan rumah. Orangtua, yakni antara ayah dan ibu yang tidak sependapat dalam mengasuh dan mendidik anak, membuat anak merasa bisa mengambil alih otoritas dan menjadi “raja” di rumah. Ayah dan ibu harus sama-sama sepakat dalam mendidik anak dan konsekuen dalam menegakkan aturan di rumah. Aturan yang adil dibuat bersama dengan anak dan dijalankan dengan konsisten. Anak akan sulit menghargai orang tua yang meminta dengan keras anaknya belajar di jam belajar, sementara di jam yang sama orang tua menonton sinetron.

Anak-anak akan lebih menghargai jika di jam belajar, orang tua pun tidak menyalakan TV dan menemani anak belajar. Ketika orang tua meminta anak belajar keras, maka konsekuensinya orang tua tidak menonton sinetron kesukaanya dan mendukung anak belajar.

Baca Juga: Bawa Sajam Saat Ke Gunungkidul, Rombongan Suporter Bola Diamankan

 

Oleh karena itu, jawaban atas pertanyaan “apakah harus bersikap lembut atau bersikap keras pada anak remaja” yaitu bersikap lembut dan tegas dalam satu waktu. Perkataan dan perlakuan kita kepada remaja bersifat  “lembut”, tetapi aturan yang sudah ditetapkan bersama-sama dengan anak remaja perlu dilaksanakan secara “tegas”.

Penulis: Ardi Primasari, M.Psi.,Psikolog

(Lahir di Paliyan, Gunungkidul. Psikolog dan Dosen Psikologi, Lulusan Magister Profesi Psikologi Klinis UGM, senang membaca, menulis, dan menyanyi)

***

Referensi: Ganiron, dkk (2017) Evaluating the factors affecting high school student rebellion. World Scientific News (159-176). www.scientificnews.com

Komentar

Komentar