Mengenal Sendratari Adat Andong Sari, Peserta Gelar Potensi Budaya Dari Giripurwo

Pementasan Sendratari Adat Andong Sari, Peserta Gelar Potensi Budaya 2017 se DIY dari Desa Giripurwo. KH

SEMANU, (KH),– Sabtu, 28 September 2017 lalu dilaksanakan Gelar Potensi Desa Budaya se DIY. Untuk Kabupaten Gunungkidul pelaksanaannya bertempat di Balai Budaya Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul.

Sebanyak 15 desa budaya se Gunungkidul menampilkan fragmen di atas panggung beragam kesenian, upacara adat yang dikemas kedalam seni pertunjukan, serta pementasan mengenai narasi asal usul suatu wilayah.

Sebagaimana yang disampaikan dalam Sambutan Bupati Gunungkidul, Badingah S.Sos, pada saat pelaksanaan kegiatan, meminta agar Gelar Budaya dapat dimanfaatkan oleh para pelaku atau pegiat budaya dan masyarakat di desa budaya dengan menyuguhkan hasil seni atau kebudayaan terbaik.

Pihaknya menekankan kepada pegiat, dan masyarakat umum bahwa keragaman budaya adalah aset yang sangat berharga. Selain semua bertanggung jawab untuk menjaga juga memiliki kewajiban untuk mewariskan kepada generasi penerus.

Sementara itu, Ketua Dewa Budaya Gunungkidul, CB Supriyanto mengungkapkan, dalam gelar potensi budaya juga dipamerkan oleh peserta berupa kuliner, seni rupa, kerajinan dan cagar budaya.

“Dalam kegiatan ini juga diadakan penilaian dari para pengamat yang terdiri dari akademisi, seniman, dan  budayawan,” tutur CB Supriyanto. Dari keseluruhan pementas yang berasal dari 56 desa budaya se DIY akan diambil juara 1,2 dan 3, serta juara harapan 1 dan 2. Secara berurutan masing-masing akan mendapatkan Rp. 15 juta, Rp. 12,5 juta, Rp. 10 juta, Rp. 8 juta dan Rp. 5 juta.

Menjadi salah satu peserta, Desa Budaya Giripurwo berhasil dengan apik tampil mementaskan sendratari adat Andong Sari. Sutradara sekaligus penata iringan, Andhi Tri Laksana, S.Pd memaparkan, Sendratari adat Andong Sari berasal dari kisah cerita rakyat di desa setempat.

Andhi menguraikan narasi terkait tarian, pada suatu musim kemarau panjang, dimana daun-daun berguguran, tanaman meranggas tak lagi bertunas, sawah ladang kering kerontang, dan tanah merekah, semua orang juga merasa kehausan.

“Konon waktu itu, ada seorang janda bernama Mbok Ranti. Dengan tekad bertahan hidup, ia mencari air di sebuah sumber air atau belik di dekat pertapaan Andong Sari yang berada di pinggir laut selatan di wilayah padukuhan Klampok, Desa Giripurwo,” beber Andhi.

Setelah beberapa lama, ia hanya mendapatkan air setengah kendi. Sesampainya di perkampungan ia bertemu dengan banyak orang yang sedang kehausan. Semua berharap dapat minum, kemudian meminta air yang dibawa Mbok Ranti.

Mbok Ranti berusaha mempertahankan air tersebut. Namun, kendi yang dibawa mbok Ranti dapat direbut salah satu warga. Kemudian terjadilah perebutan kendi antara warga satu dengan yang lain.

“Karena semua memperebutkan, kendi tersebut jatuh ke tanah dan pecah. Semua terhenyak,” lanjut pendamping budaya Kecamatan Panggang ini.

Sambung dia, Mbok Ranti meratap, air yang hanya sedikit dan ia peroleh dengan susah payah di suatu tempat yang jauh terbuang sia sia. Ratapan kesedihan dan harapan dirasakan semua orang.

Hingga mereka tersadarkan, hanya doa dan pengharapan pada Tuhanlah yang dapat dilakukan. Kemudian semua sepakat untuk melaksanakan doa pengharapan tersebut dengan sebuah upacara adat minta hujan di pertapaan Andong Sari.

Pelaksanaannya diawali dengan defile bregada prajurit Andong Sari, kemudian diikuti bregada pembawa sesaji yang dipimpin seorang rois lalu diikuti semua warga, Saat bregada upacara adat tersebut tiba di pertapaan Andong Sari kemudian diadakan ritual. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar