Mengenal Masjid Tiban, Masjid Panggung Beratap Ilalang Di Gunungkidul

oleh

NGAWEN, (KH),– Masjid Tiban yang berada di Padukuhan Gambarsari Desa Jurang Jero Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu bangunan warisan budaya yang telah ada sejak masa Islam.

Bangunan masjid ini berjenis panggung, berdinding anyaman bambu dan beratap daun ilalang. Rangka penyusun bangunan yang tidak begitu besar itu mengandalkan bahan dari kayu.

Nama Tiban berasal dari bahasa jawa yang berarti ‘tiba-tiba’ ada di tempat itu. Masyarakat banyak yang menyebut bahwa tidak diketahui siapa yang mendirikan masjid itu. Namun, setelah KH melakukan penelusuran, terdapat tokoh sepuh di wilayah setempat. Adi Prayitno (65), dapat menceritakan kisah tutur turun-temurun tentang keberadaan bangunan tersebut.

Nama Tiban menurut Adi Prayitno, berhubungan dengan kehadiran bangunan yang secara tiba-tiba. Tidak dibangun di tempat tersebut melainkan merupakan perpindahan dari tempat lain secara mistis. Karena ukurannya yang kecil yakni 4×4 meter, warga setempat menyebutnya Langgar, sebuah tempat ibadah bagi warga muslim yang berukuran lebih kecil dari Masjid.

Adi Prayitno mengisahkan, masjid yang juga disebut Langgar Bale Kambang itu dibangun pada masa Sunan Pandanaran atau sering disebut Sunan Bayat. Cerita lisan dimulai dari sebuah peristiwa ibadah shalat Jum’at yang dipimpin murid Sunan Pandanaran yang bernama Kyai Amat Metaram. Saat bertugas menjadi imam shalat, Kyai Amat Metaram melakukan kesalahan.

“Kyai Metaram lantas dihukum, tangannya dimasukkan ke cairan yang digunakan untuk membatik. Jari dan telapak tangannya berwarna hitam tak dapat dibersihkan,” tutur Adi Prayitno.

Kyai Amat Metaram juga diminta pergi dari wilayah Bayat. Dirinya diminta pergi ke arah tenggara. Dengan diberi bekal sebuh gentong wadah air untuk bersuci (wudhu), ia diminta menempati alas atau hutan bernama Wonosari. Saat ini, Wonosari merupakan sebuah padukuhan di sebelah timur Padukuhan Gambarsari.

Komentar

Komentar