Mengenal Kelompok Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Di Gunungkidul (2)

Dwi Cahyo Hudoyono, ketua MLKI Gunungkidul, ia merupakan salah satu ketua paguyuban, yaitu organisasi Mardi Santosaning Budhi. KH/ Kandar
Dwi Cahyo Hudoyono, ketua MLKI Gunungkidul, ia merupakan salah satu ketua paguyuban, yaitu organisasi Mardi Santosaning Budhi. KH/ Kandar

PANGGANG, (KH)— Masih mengenai paguyuban penghayat atau Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) di Gunungkidul, salah satu paguyuban yang ada, yakni Mardi Santosaning Budhi (MSB), paguyuban ini memiliki ajaran bagi anggotanya, salah satunya dilaksanakan dengan cara semedi rutin.

Dwi Cahyo Hudoyono, ketua atau guru spiritual MSB Gunungkidul menyampaikan, apabila anggota menganut sebuah agama tertentu, maka ia meminta untuk beribadah sebaik mungkin sesuai perintah agama tersebut, dengan begitu ilmu kebatinan dari MSB akan lebih dengan mudah diterima.

Ajaran MSB yang bersifat rutin yaitu semedi, biasa dilaksanakan pagi, sore serta menjelang tidur. Semedi pagi untuk menjaga aktivitas disiang hari, semedi sore untuk menjaga aktivitas malam, serta semedi menjelang tidur untuk menjaga selama tidur.

“Ritual semedi tidak selalu memerlukan tempat khusus, biasa dilaksanakan antara rentang waktu 5 hingga 30 menit, pagi biasa dilaksanakan setelah bangun tidur, rata-rata setelah terbit matahari, dalam menjalankan semedi kondisinya harus bersih,” terang Dwi.

Kegiatan lain berupa Mirid, yaitu merupakan tindakan menurunkan ilmu kepada murid, dilakukan dengan membaca rapal-rapal atau mantra ilmu kebatinan, pelaksanaannya tiap malam senin dan kamis, selain dihadiri anggota yang kebanyakan berasal dari Desa Girisuko, Panggang, juga ada dari DIY dan Jateng.

Selain itu, ada juga kegiatan pada malam 1 Suro, Rumah Dwi Cahyo biasanya penuh pada malam tersebut. Mengenai pelaksanaan kegiatan itu ia mengaku tak memaksa semua anggota untk hadir. Sebagai ganti kehadiran, untuk menjalin dan memudahkan komunikasi ia mengaku membuat group media sosial dengan sesama anggota.

“Sebagai guru spiritual pada malam tersebut saya menanamkan dan memberikan ajaran kepada anggota, pada intinya jangan sampai berbuat yang tidak baik, mengganggu orang, Negara dan sebagainya, ilmu untuk melatih diri agar banyak bersyukur, banyak sabar, dan pasrah kepada Tuhan,” urainya.

Kegiatan tersebut juga sebagai instropeksi, dan kontrol perilaku. Pengakuannya, selama ini seluruh anggota dalam hal bersikap dan bertindak selalu baik, dampak positif yang lain misalnya dilihat dari segi ekonomi, hubungan sosial kemasyarakatan anggota MSB juga cukup baik, atau sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing.

Sebagai makhluk sosial yang berbudaya yang hidup di tengah masyarakat maka ia pun berupaya selalu mengajak untuk dapat berbaur dengan masyarakat, agar terhindar dari konflik yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Meski telah menjadi anggota, ia mempersilahkan kepada anggota untuk memilih serta mengikuti ajaran agama modern yang dianut.

Ajaran MSB, ia yakin tidak bertentangan dengan agama-agama yang diakui oleh Negara, keberadaannya justru untuk memperkuat keyakinan agama tersebut untuk mendorong laku kehidupan agar tidak menyimpang sebagaimana diperintahkan agama-agama secara umum.

Ajaran MSB bersifat memberikan dukungan kepada agama apapun, ia menyarankan untuk beribadah sebaik mungkin sesuai agamanya, sebab ada pengaruh apabila seseorang menjalankan ibadah agamanya secara baik maka dalam mendapat ajaran ilmu paguyuban juga lebih mudah, Upaya Mirid yang dilakukan Dwi dalam mentransformasi ilmu menjadi  tidak berat.

Kemudian saat ditanya mengenai kepemilikan pusaka-puskaka itu ia mengaku untuk sekedar menjaga dan melestarikannya saja agar keberadaannya tidak punah, MSB tidak memandang pusaka sebagai benda yang memiliki kekuatan tertentu tetapi sebagai bentuk penghargaan atas karya seseorang yang telah membuat.

“Membuat pusaka tidak semudah membuat pisau dapur, kira-kira begitu, selain itu untuk menilai seni dari sebuah karya pusaka,” jawab Dwi menganalogikan mengenai kepemilikannya berbagai benda pusaka di rumahnya.

Ia pun menekankan agar lebih percaya kepada Yang Maha Kuasa bukan kepada benda tersebut. Pensiunan guru ini menandaskan apabila ada ajaran yang menyimpang maka perlu dihindari.

Ia mengisahkan, ia tahu akan adanya MSB dari orang tuanya, lantas kemudian ia memutuskan mengikuti serta meneruskan jejak tersebut karena memiliki tujuan agar paguyuban dan ilmu yang dimiliki dapat dipertahankan agar tidak punah. (Kandar)

Artikel sebelumnya, ( Bagian 1)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar