Menakar Jejak Peradaban di Song Blendrong dan Song Bentar

Song Blendrong di Kanigoro Ponjong. KH/WG
Song Blendrong di Kanigoro Ponjong. KH/WG

KABARHANDAYANI,– Para arkeolog juga sejarawan menyebutkan, Song Blendrong dan Song Bentar di Ponjong merupakan salah satu pusat hunian manusia prasejarah Pegunungan Selatan di antara ratusan hunian lainnya. Tentu klaim tersebut berdasar artefak-artefak yang ditemukan. Lantas diuji umurnya. Dikira-kira dengan kaidah akademik. Tentu yang mengira para ahli di bidangnya secara serius. Sementara, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang serius. Hanya tulisan sambil lalu. Karena itu diberi judul ‘menakar’, atau ‘membayangkan’, atau ‘meng-ira-ira’, agar setiap pembaca secara merdeka juga bisa membayangkan sendiri, dan membuat tafsir sendiri, serta mengambil makna sendiri.

Hunian kuno itu di Jaman Batu ditandai dengan alat-alat dari batu. Suatu era ketika manusia Pra-sejarah menghuni gunung-gunung Pegunungan Seribu, di tepian Bengawan Solo Purba yang bermuara di Sadeng, juga di tepian Sungai Oya nan gembur subur. Sejarah, kata prasejarah: ‘prae‘ itu sebelum, dan ‘historia‘, bukan ‘histeria‘, sekali lagi bukan ‘histeria‘, ‘ditandai dengan pengenalan tulisan’. Tulisan tentang pengurutan peristiwa-peristiwa di masa lalu, secara objektif, dan berpola sebab-akibat. Suatu era yang belum dicatat dalam sejarah. Itu ilmu sejarahnya.

Istilah ini, prasejarah, dilahirkan dan disebarkan melalui ‘mesin ilmu pengetahuan‘ Eropa oleh para ‘kolektor’ (dan bukan ‘kolekdol’ lho, bukan mengoleksi untuk mereka jual) benda-benda yang mereka peroleh dari masyarakat yang mereka sebut ‘primitif’. Para pendukung ideologi Victorian yang menempatkan leluhur manusia beradab selevel dengan primata (kera). Karena dalam kategori ilmu, dalam klasifikasi ilmiah, tak memiliki kelas manusia-kera yang tak berbudaya tinggi sama sekali.

Adanya kisah persilangan (hibrid) manusia dengan kera, seperti Hanu-man di Kiskendha misalnya, atau Maesa Sura, atau Lembu Sura itu hanya makhluk-makhluk imajinatif orang-orang keturunan bangsa primitif. Untuk memenuhi hidup mereka yang longgar dan miskin. ‘Barang-barang’ (baca: hal-hal) yang diperoleh dari bangsa ‘primitif’. Bukankah, ‘primate‘ berarti ‘yang pertama dan mulia’, meskipun sekelas ‘kera’?

Kethek. (Wo, kethek ki! Ada misuh seperti ini kan?). Volume otak kethek fantastis, menyamai manusia. Di jaman yang mereka kategorikan Pos-Sejarah ini, benda-benda prasejarah dan sejarah mereka muliakan di luar Nusantara. Di balai lelang internasional. Tentu bukan dijadikan komoditas barang antik. Mereka jaga. Keturunan bangsa primitif? Tidak.

Dan tentu bukan embrio ilmu pengetahuan dunia, ketika Wallace, Raffles, dan teman-temannya meneliti Nusantara. Memang Nusantara tak masuk akal, paling-paling ya cuma enak buat wisata. Jadi tak mungkinlah dijadikan dasar ilmu pengetahuan modern yang sudah mulia. Artinya, ke-kera-an dari Nusantara mereka angkat ke level yang tinggi, sejajar dengan kemuliaan mereka. Bangsa primitif hendaknya belajar kepada orang modern yang mulia. Bahkan, bukan orang keturunan Eropa saja yang berpikiran-bertindak mulia seperti ini.

Para sejarawan menambahkan, masa Kutai, sekitar abad 4, baru dikategorikan era sejarah. Sebelum masa ini, Nusantara disebut masih masa prasejarah. (Memang sejarawan adalah orang-orang pandai. Lulusan perguruan-perguruan elit yang diimpikan untuk berilmu, berintelek. Bukan perguruan tak jelas dan tak ber-strata seperti yang penulis lakoni). Masa ini adalah masanya Dewatacengkar, sang pemakan daging. Raksasa pembunuh. Manusia carnivor menakutkan. Dan biasanya era kegelapan, katastropi, ragnarok, seperti ini masuk wilayah arkeologi. Kadang sejarah. Kadang geografi. Ada pembagian-wilayah antara arkeologi, sejarah, dan geografi. Itu terang para ahli.

Nah, setelah penulis ndremimil omong-omongan dengan para batu di mulut Song Blendrong dan Bentar yang mirip mulut naga, juga para batu kapur lembut yang telah diwadahi karung-karung, yang sebentar nanti diambil oleh sebuah truk, untuk bahan obat juga pupuk, mereka mengatakan, bahwa manusia senangnya ‘tumpang-paruk‘, senangnya ‘tumpang-tindih‘, gemar menumpang sesuatu, menumpangi sesuatu, menumpangkan sesuatu, gila ‘menindihi‘ sesuatu, menindih dengan sesuatu, menindihkan sesuatu pada sesuatu dengan sesuatu berdasar suatu pola.

Memang, ini pikiran warisan. Padahal mereka hendak mengabarkan sesuatu, mengomongkan sesuatu. Dengan bahasa masing-masing, untuk tujuan, kepentingan, masing-masing, tentang suatu kenyataan. Nah, para batu bilang, “leluhur itu setiap akan mewartakan ilmu kepada anak-cucunya, memang ditindihi sesuatu, ditindihkan pada sesuatu, ditumpangi sesuatu.” Sama seperti motif orang modern (manusia jaman sejarah), juga manusia pos-modern, senangnya menumpangkan, menindihi, sesuatu dengan suatu motif.

Bedanya, leluhur menginginkan anak-cucunya melihat segala hal yang ditindih, ditumpangi, itu agar selalu menggunakan nalarnya, akalnya. Sementara, yang terakhir bermotif ‘ngakali‘ yang lain. Agar caranya berakal dengan menindihkan-menumpangkan akal pada sesuatu yang mengandung nalar tertentu diikuti. Secara laten, menjadi satu-satunya nalar tentang suatu kenyataan.

Para bebatu bilang, ‘pra‘ itu dari ‘para’, artinya bisa ‘tua’, ‘kuno’, ‘moyang/embahnya’, ‘yang paling mula’, juga ‘yang paling tinggi’. ‘Pra’ bisa bermakna ‘awal’, ‘purwa’. Prasejarah adalah sejarahnya ras manusia awal. Ada yang ukuran tubuhnya raksasa (tinggi besar; biasanya para raksasa dan manusia langit/dewa), ada yang sedang, ada yang cebol seperti hominid. Ada yang bentuknya seperti raksasa (menyeramkan), ada yang seperti manusia sekarang, ada yang hewan, ada yang hibrid hewan-manusia). Bahkan, prasejarah itu paralel dengan penggolongan prasadar, sadar, dan taksadar dalam psikologi. Prasejarah itu ‘kesadaran purwa/kuno’. Sejarah itu ketika manusia mencapai puncak kesadaran, berupa pencerahan, narasi-narasi besar, juga kemajuan (modernisme). Pos-sejarah itu posmo, penuh pendar-pendar remeh, yang terpecah-belah, yang nihil.

Dan sejarah leluhur Gunungkidul memang tidak benar-benar dituliskan. Seperti pengertian Eropa tentang tulisan, atau sejarah tulisan. Tapi dituturkan. Ada yang dituturkan dengan tulisan-gambar, goresan, gambar, bentuk-geometri, pundhen berundak, pohon raksasa, dst. Ini tulisan yang sangat jelas, cetha, sastra cetha.

Susah membayangkan para manusia ceruk goa (Song Blendrong, Bentar, dsb.), manusia bantaran Kali Oya, yang mampu menciptakan sistem kebudayaan bernilai tinggi (religi, seni, organisasi sosial, iptek, dst.) tanpa menguasai kebahasaan atau aksara. Sungguh memalukan jika menyebut manusia prasejarah yang pandai berbahasa dengan sebutan ‘belum mengenal’ tulisan.

Pembuatan Pupuk di Song Blendrong di Kanigoro Ponjong. KH/WG
Pembuatan Pupuk di Song Blendrong di Kanigoro Ponjong. KH/WG

Pilihan tak menulis seperti definisi tulisan Eropa, itu bukan karena tidak mengenal budaya tulis. Itu hanya masalah pilihan saja, disesuaikan dengan kebutuhan, dengan sistem ilmu pengetahuan pada tempat-waktu tertentu (the here-the now). Mereka tak begitu membutuhkan tulisan-tulisan di papirus, kayu, batu, apalagi tiruan kayu semacam kertas. Mereka mewariskan sangkan-paran tulisan itu sendiri.

Manik-manik, peti kubur batu, pundhen-berundak, cincin, arit, mangkok, gerabah, tugu batu, pemilihan tempat hunian untuk bercocok tanam, dst. adalah produk iptek. Pemahaman yang eskatologis, buntas, tentang ‘tetek’ (bengek) ilmu pengetahuan inilah, disertai penguasaan ilmu alkimia, yang membuktikan bahwa manusia prasejarah berbudaya tinggi, canggih.

Kontras dengan pencapaian manusia modern yang ‘sok-sokan’ (seperti penulis): beranggapan bahwa dirinya lebih berbudaya, beradab, dibanding yang lain. Namun perilakunya merongrong eksistensi yang lain. Ya, merongrong, Rong. Justru tempat hunian purwa (baca: purba), yang istilahnya telah mengalami pemelencengan makna ini, seperti banyak istilah lain, seperti ‘song’ inilah yang merupakan tempat manusia ‘nge-rong‘: berlindung di suatu tempat yang aman.

Song adalah ‘rong’; lubang di pinggir gunung, jurang, dst., yang masuk (tak terlalu masuk memanjang seperti definisi goa), yang cukup cahaya, yang terkadang sengaja dibuat, yang akhirnya manusia modern meng-imitasinya, yang digunakan sebagai tempat ‘ngeyub‘, tempat berbudaya. Dari makanan, rumah-tangga, hingga seni, hingga spiritualitas. Di dalam mulut alam.

Ini capaian budaya luar biasa. Simbol kebesaran ras manusia. Song itu salah satu prototipe-nya payung, selain pohon raksasa yang rindang. Payung itu melindungi, ‘ngeyubi‘, dari panas, juga hujan. Namun tetap cukup cahaya, udara. Pandangan manusia di dalamnya tentang lingkungannya cukup luas, tak seperti manusia goa-nya Platon atau Ashabul Kahfi-nya kitab-kitab.

Song Bentar, Ponjong. KH/WG
Song Bentar, Ponjong. KH/WG

Song itu juga semacam ‘songkok’, tudung untuk melindungi sesuatu (di dalam song ditemukan kerangka manusia dan produk budayanya), juga untuk mengumpulkan sesuatu; menangkap sesuatu. Mengumpulkan penggal-penggal bacaan tentang alam, kemudian diramu di dalam song. Kelak, terutama bagi generasi berikutnya, akan diingat-ingat, dan diwujudkan produk megalitik, sebagai kebesaran ras manusia.

Akhirnya, lambang kebesaran suatu penguasa adalah ‘songsong‘, payung kebesaran raja, yang bermakna ‘ngesongi‘ (melindungi), ‘ngeyubi‘ (meneduhi). Bukan malah ‘songar‘ (sombong, mulutnya menganga seperti song karena merasa dirinya luar-biasa). Sesongaran, istilah ini tepat untuk menggambarkan perilaku yang menganggap diri sebagai anak-cucu manusia prasejarah, yang menyebut diri sebagai manusia sejarah, yang beradab, berbudaya tinggi. Manusia saat ini yang sok-sokan pejuang a-narki, tapi di saat bersamaan sebenarnya  tokoh-tokoh yang tidak dikehendaki oleh diri sendiri itu, yang menjelma anarkisme baru. Manusia baru yang ‘mbesemake payung, mbesemake songsong‘, meruntuhkan peradabannya sendiri.

Pada suatu waktu, dari ceruk yang ‘bentar’, merekah, terbelah di Ponjong itu, ‘nyamut-nyamut‘ terdengar ‘bendrong‘, tabuh-tabuhan kayu-batu yang ‘ngeyubi‘.

[KH/WG]

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar