Melacak Jejak Tsunami di Pantai Selatan Gunungkidul

oleh
PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM sedang melacak jejak endapan tsunami di Pantai Kukup. Dok: Wibowo.

TANJUNGSARI, (KH),– Endapan pasir setebal 5 – 25 cm dalam kedalaman 128 cm sejarak sekitar 100 meter di daratan dari garis pantai Kukup mengindikasikan adanya peristiwa tsunami di masa lampau. Berdasarkan temuan awal para peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, unsur-unsur organik pada endapan tersebut menunjukkan jejak tsunami pada kisaran 640 tahun yang lalu.

Sejak hari Minggu lalu (11/3/18), para peneliti dari PVMBG Badan Geologi Nasional tersebut telah melakukan penelitian di Pantai Kukup dan Pantai Sepanjang. Penelitian lapangan di Gunungkidul ini menjadi bagian dari penelitian besar mereka untuk mengetahui peristiwa tsunami di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa di masa lampau.

Dalam pelaksanaannya, tim PVMBG telah melakukan penggalian sejumlah titik di Pantai Kukup dan Pantai Sepanjang. Pada area daratan sekitar 100 meter dari garis pantai mereka melakukan penggalian, penelitian material sedimen bahan organik akibat tsunami, sekaligus melakukan pengukuran-pengukuran yang diperlukan.

Hasil penggalian di Pantai Kukup, tim menemukan unsur-unsur organik dalam endapan berupa pasir halus pada kedalaman sekitar 128 cm. Ketebalan endapan berkisar antara 5-25 cm. Kenampakan endapan pasir halus sudah bercampur dengan tanah liat tersebut mengindikasikan adanya sisa-sisa pasir pantai yang terbawa arus tsunami pada masa lampau. Hasil hitungan awal yang dilakukan tim peneliti, dengan penurunan tanah rata-rata sebesar 2 cm/tahun, maka unsur-unsur organik pasir halus tersebut diduga berumur sekitar 640 tahun lalu.

Berdasarkan penjelasan Imun Maimunah, salah satu anggota tim peneliti, penelitian ini akan berlanjut dengan proses penelitian terhadap unsur-unsur organik yang ditemukan di Australia guna memastikan terjadinya waktu tsunami di masa lampau.

Ia juga menjelaskan, hasil penelitian ini nantinya akan dapat digunakan sebagai acuan bagi pemerintah daerah di sepanjang kawasan pantai selatan Jawa dalam menyusun rencana mitigasi bencana tsunami yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Selain melakukan penelitian lapangan di wilayah Gunungkidul, tim juga melakukan penelitian serupa di wilayah Pantai Pangandaran Tasikmalaya, Pantai wilayah Purworejo, dan di Lombok. (Wibowo).