Mbah Gembong; Leluhur Warga Desa Wiladeg Karangmojo

Makam Mbah/ Eyang Gembong Kertayuda di pemakaman Ekoloyo, Wiladeg, Karangmojo. KH/ Kandar
Makam Eyang Gembong Kertayuda di pemakaman Ekoloyo Wiladeg Karangmojo. KH/ Kandar

KARANGMOJO, (KH)— Ada banyak desa di Gunungkidul yang menyimpan cerita tentang awal mula atau cikal bakal keberadaan sebuah desa. Perjalanan historis dalam bauran dengan mitologi para tokoh yang melakukan babat alas mendirikan desa sebagian besar masih diingat para sesepuh desa dan ditularkan dalam bentuk cerita tutur. Karena itu, KH terus berupaya mendokumentasikan kisah-kisah babat alas berdirinya perdesaan tersebut dalam serial historia dan mitologi perdesaan Gunungkidul.

Kali ini, cerita rakyat yang berhasil dihimpun KH datang dari Desa Wiladeg Kecamatan Karangmojo. Bagi sebagian besar warga Desa Wiladeg, nama Mbah Gembong tidak asing lagi. Ia diyakini sebagai leluhur yang dihormati sebagai pendiri desa.

Sebagaimana disampaikan Kepala Desa Wiladeg Kaniyo, Mbah Gembong dikenal ada pada masa keruntuhan Kerajaan Majapahit. Seperti pada umumnya, dia merupakan prajurit kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke wilayah yang kini disebut Gunungkidul, kemudian menghuni wilayah yang sekarang disebut sebagai Desa Wiladeg.

Berdasar cerita yang ia terima, leluhur masyarakat Desa WIladeg bernama Eyang Kertayuda ini memelihara anak harimau yang masih kecil. Hewan tersebut ditolong atau diperolehnya saat terperosok ke parit atau sungai. Kemudian dipelihara hingga besar, sehingga ia mendapat panggilan Mbah Gembong.

Sebagai pengingat atas ketokohannya, sebelum pelaksanaan penanaman padi oleh petani di desa setempat terlebih dahulu dilaksanakan tradisi ritual bersih sungai yang dikenal dengan nama acara Bersih Kali Banteng pada hari Jumat Legi. Kali Banteng adalah sebuah anak sungai sekaligus mata air yang berada di Padukuhan Nglampar, Desa Wiladeg, Kecamatan Karangmojo. Di lokasi tersebut terdapat situs yang dipercaya sebagai peninggalan budaya Majapahit berupa patung atau arca Banteng.

“Bagi masyarakat umum atau siapa saja yang bersedia, atau mempunyai hajat sedekah, membawa masakan beserta ingkung untuk dikendurikan lalu di makan secara bersama-sama di kawasan Kali Banteng,” terang Kaniyo beberapa waktu lalu.

Lanjutnya, setelah tradisi bersih kali dilanjutkan musim tanam. Lalu ketika musim panen tiba sebelum pelaksanaan tradisi syukur berupa bersih desa atau rasulan. Sore hari sebelum pelaksanaan rasulan pada hari Jum’at Kliwon itu, perangkat desa dan tokoh warga mengadakan ziarah ke makam Mbah Gembong di pemakaman Ekoloyo.

Sementara itu, Ketua Dewan Budaya Desa Wiladeg, Gayus Maryono (65) lebih panjang menguraikan, menurut beberapa sumber, Mbah Gembong merupakan pendatang dari Jawa Timur. Tidak berbeda dengan penuturan Kaniyo, ada kemungkinan dia merupakan prajurit dari Majapahit. Lantas karena gegernya Pajang kemudian diikuti runtuhnya Majapahit diperkiraan dia melarikan ke wilayah Gunungkidul yang diikuti beberapa teman. Nama asli Kertayuda sendiri karena dia merupakan pimpinan sebuah pasukan.

Kemudian nama panggilan Gembong muncul ada beberapa versi. Pertama, Gembong yang bermakna tokoh, orang penting, atau pemimpin suatu sekumpulan orang, atau benggolan, pelopor, pemrakarsa dan lain sebagainya. Lalu versi lain panggilan Gembong karena ia pernah memelihara anak macan.

Ulas Gayus, sebagian tentara Majapahit yang lari dan singgah di Gunungkidul termasuk Mbah Gembong tersebut, ia bersama temannya Ki Rau, kemudian membuka lahan untuk mendirikan permukiman, dengan titik awal pertama dari sumber mata air di Kali Banteng. Selain tempat sebagai tempat tinggal Mbah Gembong juga membuka persawahan untuk pertanian.

Sebelum dibuka sebagai permukiman, Desa Wiladeg masih berupa hutan. Jenis pohon terbanyak yakni pohon Wilada, maka desa ini dikemudian waktu dinamakan Desa Wiladeg. Apabila ditelusur lebih lanjut pada saat ini, jenis jenis pohon itu sebenarnya merupakan pohon Elo.

“Ketika datang, Mbah Gembong tidak sendirian. Banyak teman dan saudara yang ikut, salah satu jejak yang ditengarai merupakan peninggalannya berada di Kali Banteng. Di situ terdapat situs yang disebut sebagian warga berupa arca Banteng,” papar Gayus.

Arca di Situs Kali Banteng, berupa Arca Lembu Andini. KH/ Kandar
Arca di Situs Kali Banteng, berupa Arca Lembu Andini. KH/ Kandar

Tetapi, lebih jauh disampaikan, dirinya dan sebagian masyarakat yang lain menyebutnya arca Lembu Andini. Lembu Andini adalah kendaraan Batara Siwa. Menurut beberapa sumber, asal usul namanya sebenarnya Nandini (Sanskerta: “yang menyenangkan”) adalah seekor lembu betina. Lembu ini dipakai sebagai wahana (kendaraan) Batara Siwa. Lembu Nandini dikenal mempunyai sifat tak kenal takut.

Nama lain Nandini yang dikenal di Indonesia adalah (H)Andini. Namanya juga sering digunakan sebagai nama anak perempuan di dalam suku Jawa. Nama “Andini” yang dipakai di suku Jawa mempunyai arti yaitu “penurut”. Figur lembu Nandini banyak dijadikan arca pada percandian Hindu di Jawa, terutama dari periode Kerajaan Medang Mataram, khususnya pada percandian yang memuja Dewa Siwa.

“Di tempat tersebut terdapat juga arca serta Lingga dan Yoni yang melambangkan kemakmuran sekarang hanya sebagian saja yang masih ada. Berdasar bukti-bukti tersebut, Mbah Gembong yang datang dari Majapahit memiliki dan membawa Keyakinan Hindu,” jelas Gayus panjang lebar.

Seakan sudah menjadi ciri khas orang-orang Majapahit zaman dahulu, saat proses pembukaan kawasan saat pertama kali, mencakup permulaan adanya peradaban sekaligus penamaan wilayah baru tersebut berdasar situasi, keadaan, dan peristiwa atau ciri khas lokasi tersebut. Misalnya saja penggunaan nama-nama pohon, seperti halnya nama kerajaan Majapahit, yang banyak disebut berasal dari nama pohon Mojo yang memiliki buah yang rasanya pahit menjadi Majapahit.

Demikian juga disekitar Wiladeg ini, selain pohon Wilada menjadi nama Desa Wiladeg, ada juga nama tempat yang tidak jauh dari situ yang memiliki banyak pohon kelapa, sehingga menjadi wilayah bernama Krambil Dhuwur, nama salah satu dusun atau padukuhan. Lalu tepat di sebelahnya ada banyak pohon nangka, sehingga menjadi tempat bernama Karangnangka, kemudian tempat lain ada banyak pohon Ringin maka tempat tersebut disebut Ngringin, dan seterusnya. Diyakini penamaan itu telah ada sejak zaman Mbah Gembong.

Senada dengan Kaniyo, Maryono menerangkan, peringatan atau tradisi warisan leluhur yang masih lestari hingga saat ini ada Bersih Kali Banteng. Setelah bersih kali selesai kemudian dilaksanakan makan bersama diawali dengan kenduri bersama, setelah bersih kali dimulailah penanaman padi, lantas selepas panen diadakan upacara Bersih Desa atau disebut pula sebagai Rasulan yang diadakan tiap hari Jum’at Kliwon. Hari tersebut diyakini sebagai hari kelahiran Mbah Gembong Kertayuda. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar