Makna Kemerdekaan RI Bagi Sang Pendidik Anak Bangsa

oleh
pendidik-kemerdekaan2
Pelaksanaan upacara bendera peringatan HUT RI Ke-71. momentum hari kemerdekaan selalu dirirngi pengharapan kepada bangsa ini agar memerdekakan semua rakyatnya. KH/ S.Yanto

WONOSARI, (KH)— Seorang pendidik memiliki harapan tersendiri pada momentum ulang tahun kemerdekaan RI tahun ini. Tak hanya harapan di berbagai wacana perbaikan bidang pendidikan, tapi mereka para guru seperti khususnya di Gunungkidul berharap anak bangsa yang telah mereka didik bisa menjadi individu-individu yang benar-benar memberikan manfaat pada bangsa dan negara.

Tak sedikit pula rasa kecewa juga dirasakan para pendidik. Kekecewaan itu muncul karena kemerdekaan belum bisa dirasakan oleh semua lapisan warga Indonesia.

Di usia kemerdekan Indonesia yang telah mencapai 71 tahun, Yan Rangga D, SPd, seorang guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan masih menyayangkan berbagai program pemerintah yang diawali dengan ide cemerlang namun tak terealisasi dengan baik ketika sampai di masyarakat paling bawah, atau disebut akar rumput. Menurutnya, program tersebut sering berubah arah dan tujuan karena berbagai kondisi dan kepentingan.

Ia menyayangkan keadaan itu, karena hal tersebut menunjukkan proses pendidikan selama ini belum mampu menumbuhkan sifat nasionalisme pada anak bangsa. Namun Yan Rangga yakin, dibalik kekurangan-kekurangan itu masih ada harapan perubahan yang lebih baik dengan dukungan masih adannya tokoh dengan kepribadian yang jujur dan memiliki nasionalisme tinggi.

Sementara Hari Setiawan, S Kom menyatakan, sebagai pendidik yang selalu menasehati dan memotivasi muridnya untuk mencintai bangsa dan negara, masih merasa perlu adanya perubahan mengenai kondisi perekonomian negara.

“Kemerdekaan ini milik semua warga Indonesia. Bukan hanya milik PNS, TNI, Polri, pengusaha, atau birokrasi tertentu. Jadi saya berharap kemerdekaan yang sesungguhnya bisa dirasakan semua lapisan masyarakat dari segi kemakmuran ekonomi,” ujar Hari, Rabu (17/8/2016).

Harapan besar Hari juga merujuk pada besarnya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Sebagai seorang guru PNS ia merasa tak bisa berbuat apa-apa kecuali menggantungkan harapan pada pemerintah agar sumber daya alam Indonesia benar-benar dimanfaatkan dan diperuntukkan bagi masyarakat seperti yang tertulis dalam undang-undang.

Sebagai PNS, Hari menyadari telah selayaknya mensyukuri atas rejeki dan pekerjaan tetap yang telah ia rasakan selama ini. Maka dari itu ia berharap agar seluruh warga Indonesia bisa merasakan hal yang sama sebagaimana dirinya.

“Kita berharap agar pemerintah bisa menyeimbangkan hal ini, sehingga dalam masyarakat tidak muncul dikotomi yang tentu saja akan mengurangi rasa nasionalisme itu sendiri,” lanjutnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Tanti Anggraini, SPd. Wanita yang kesehariannya bekerja sebagai guru honorer ini mengungkapkan bahwa kemerdekaan yang seutuhnya belum bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Menurutnya, kemerdekaan saat ini baru dinikmati oleh sekelompok orang-orang yang memiliki kekuasaan, jabatan, atau memiliki pekerjaan layak. Dalam hal ini, golongan profesi seperti dirinya sebagai guru honorer belum bisa dikatakan merdeka.

“Negara merdeka itu tidak sebatas pada bebas dari penjajah saja. Merdeka itu baru terwujud bila semua rakyat telah merasakan hidup makmur, cinta kepada tanah air serta memiliki rasa nasionalisme tinggi,” ujar Tanti. (S.Yanto)

Komentar

Komentar