Mahasiswa UNY Dampingi Ibu- Ibu Padukuhan Sureng Bikin Olahan Kacang Gimbal

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ibu-ibu Anggota HOMIKAGI .

PURWODADI, (KH),– Pertanian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari warga Dusun Sureng, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Baik perempuan maupun laki-laki semua turut serta dalam kegiatan pertanian tersebut. Secara umum laki-laki lebih dominan aktif berperan.

Dalam aspek lain, kaum laki-laki juga lebih memiliki fungsi menonjol dalam kegiatan perekonomian. Sebagian diantaranya tergabung ke dalam kelompok sadar wisata di tingkat padukuhan.

Sementara perempuan memiliki tugas-tugas pendukung aktivitas rumah tangga yang selama ini masih sering dianggap minor. Beberapa diantaranya ibu-ibu mengirim makanan, atau biasa disebut dengan Ngentun. Pekerjaan lainnya yakni buruh panen dan mencabut rumput. Selain itu, sebagian perempuan memiliki aktivitas mengikuti kegiatan PKK di tingkat padukuhan. Tak dipungkiri, Di Padukuhan Sureng sumbangsih perempuan dalam kemajuan wilayah dalam sekup kecil (padukuhan) masih dianggap minim. Pandangan Konco Wingking masih tersemat, menempatkan perempuan pada sektor rumah tangga saja, sehingga produktivitasnya terhadap perekonomian keluarga masih dianggap rendah.

Menghendaki adanya perubahan, beberapa ibu-ibu di padukuhan setempat berinisiatif memulai kegiatan produktif penunjang perekonomian keluarga. Mendapat dampingan dari mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam program kreativitas mahasiswa, sebuah produk olahan lokal berhasil dibuat, yakni Kacang Gimbal Homikagi (Home Industry Kacang Gimbal).

Inisiatif ibu-ibu petani tersebut muncul karena menginginkan adanya peningkatan nilai jual salah satu hasil pertanian di wilayah setempat yakni kacang tanah. Cita-cita timbulnya kemandirian dan perbaikan perekonomian kaum ibu menjadi alasan pembentukan kelompok. Ibu-ibu dapat belajar manajemen pengelolaan kelompok usaha bersama (KUBE) yang meliputi dasar-dasar kewirausahaan, keuangan, pemasaran, pengemasan, dan kemitraan. Selain itu, juga diberikan pelatihan-pelatihan memasak kacang gimbal sehingga terjadi peningkatan keterampilan dan pengetahuan.

Kelima mahasiswa; Hana Wahyuni (Pend. Luar Sekolah), Enyf Fahria (Tata Boga), Devi Ellok Widaningsih (Ilmu Sejarah), Rini Yuliana (Pend. Luar Sekolah) dan Anggit Sobari (Pend. Luar Sekolah) secara intensif mendampingi dan mengupayakan perkembangan kelompok Homikagi.

Salah satu mahasiswa, Hana Wahyuni, mengutarakan, Kacang tanah merupakan komoditas pertanian yang banyak dijumpai di daerah Tepus. Sebelumnya ibu-ibu di Dusun Sureng hanya menjual kacang dalam bentuk mentah ke pasar sekitar sehingga harganya murah. Kacang tanah kering harganya Rp. 8.000 – 10.000 per kg. Sementara kacang tanah basah harganya Rp. 4.000 – 5.000 per kg. Bahkan jika musim panen raya harga kacang tanah basah dapat anjlok menyentuh Rp. 1.500 per kg.

“Bagi keluarga yang hanya mengandalkan hasil pertanian, rata-rata penghasilan perbulan kurang dari Rp. 500.000. Keadaan ini membuat masyarakat mengalami keterbatasan ekonomi,” ungkap Hana.

Kegiatan pendampingan diawali pada tanggal 27 Maret 2017 lalu. Antusiasme sebanyak 21 ibu-ibu cukup baik. Mereka berkumpul di Balai Padukuhan Sureng 1 membahas rencana kegiatan yang akan dilakukan. Dalam kesempatan yang sama mereka juga mengutarakan kesulitan yang selama ini dihadapi yaitu dalam hal pemasaran.

Hana memaparkan, rencana kegiatan yang akan dilakukan kelompok usaha meliputi proses produksi, pengemasan dan pemasaran. Proses produksi biasanyha dilakukan seminggu sekali. Sementara pengemasan dibuat dengan berbagai ukuran menggunakan plastik yang ditempel label. Sedangkan pemasaran dilakukan melalui kerjasama dengan toko-toko sekitar dan pusat oleh-oleh di Gunung Kidul.

Pendamping lain, Enyf Fahria menambahkan, Pendekatan yang digunakan yaitu cooperative learning yang menekankan keaktifan warga belajar dalam mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan. Selain itu juga ada experiental learning yakni membekali ibu-ibu dengan pengalaman kunjungan/ studi banding. Pendekatan yang digunakan di akhir yaitu learning by project dimana ibu-ibu diberikan kebebasan untuk merencanakan sampai melakukan usahanya secara mandiri dengan difasilitasi kelompok mahasiswa. Kegiatan ini menjadikan ibu-ibu sebagai subyek yang aktif dan mahasiswa sebagai mitra kerja.

Enyf merinci, kegiatan-kegiatan yang dilakukan yaitu mencakup pertemuan awal, praktik memasak 1, penugasan, praktik memasak 2, diskusi kewirausahaan, kunjungan pameran, brain storming, learning by project, dan peresmian.  Pada mulanya dilakukan pre test untuk mengetahui kemampuan awal ibu-ibu. Setelah itu, dilakukan praktik memasak yang mengajarkan resep olahan kacang gimbal.

“Ibu-ibu berhasil mempraktekkan resep tersebut meskipun masih terdapat kekurangan. Di akhir praktik kemudian diberikan penugasan untuk mematangkan kemampuan memasak kacang gimbal sekaligus dijadikan lomba antar RT,” terangnya.

Lebih lanjut disampaikan, kemudian pada praktik ke dua dilakukan pemilihan juara dan pemberian perbaikan memasak dari praktik pertama serta evaluasi pembelajaran untuk mengetahui tingkat pemahaman ibu-ibu.

Setelah kemampuan dasar memasak ibu-ibu di bentuk kemudian dilanjutkan peningkatan kemampuan wirausaha yaitu melalui diskusi bersama. Tidak hanya teori saja, kelompok Homikagi juga diajak untuk melihat langsung kelompok usaha yang sudah berhasil pada pameran Hari Jadi Gunungkidul tahun 2017. Dari kunjungan tersebut ibu-ibu mampu belajar mandiri dan mendapat bahan diskusi baru dalam menyusun usaha yang sedang dirintis.

Tantangan selanjutnya, diakhir perbincagan Enyf menyebut, ibu-ibu harus berani melakukan produksi sampai pemasaran secara mandiri (learning by project). Hal ini menjadi bukti bahawa ibu-ibu memiliki kemauan dan semangat perubahan yang tinggi sehingga mampu memberikan perubahan dalam hal pengetahuan dan ekonomi. (Kandar)

Komentar

Komentar