Magang Chef Di Jepang, Anak Peserta PKH Ini Bergaji Rp. 10 Juta

oleh
Nurul Anisa Putri saat magang di Jepang. foto: istimewa.

SAPTOSARI, (KH),– Asal usul seseorang tak menjadi penentu prestasi hidup dikemudian hari. Tidak pula taraf ekonomi yang mapan menjadi jaminan. Pencapaian keberhasilan hak semua orang, tepatnya, bagi yang tekun bekerja keras dan gigih memperjuangkan cita-cita.

Nurul Anisa Putri, remaja dari Desa Jetis, Kecamatan Saptosari ini buktinya. Meski tinggal di kampung serta lahir dari keluarga pas-pasan dirinya mampu merintis karir sesuai harapan yang digantugkan. Maret ini, merupakan bulan ke tujuh ia berada di Jepang. Anis, panggilan akrabnya, sedang magang sebagai Chef di sebuah restoran.

Kesempatan magang di Negeri Matahari Terbit itu diperoleh Anis dengan kerja keras. Anis bertekad membalas jasa orang tuannya, Mulyadi dan Sutini yang berjibaku membiayai pendidikannya. Meski ia sendiri tahu, segala hal yang dilakukan tak mampu mengimbangi jerih payah orang tuannya.

Saat dihubungi, mahasiswa jurusan Perhotelan dan Pariwisata ini mengatakan, saat pulang nanti dirinya ingin segera merampungkan kuliah.

“Setelah itu saya ingin bekerja di hotel yang ada di Bali. Sembari saya juga menunggu jika ada panggilan ke Jepang lagi,” katanya melalui pesan WA.

Dirinya juga mengaku akan meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang. Sebab, jika nanti kesempatan ke dua kembali ke Negeri Sakura ada, dapat semakin memperlancar pekerjaannya.

“Saya ingin menjadi seorang Executive Chef di hotel. Suatu saat nanti saya juga ingin memiliki wirausaha sendiri sebagai bekal saat tua nanti,” tutur Anis.

Terpisah, Sutini mengaku bangga dengan pencapaian Anis. Sebagai keluarga penerima manfaat PKH (Program Keluarga Harapan) hal tersebut merupakan lompatan besar bagi keluarganya. Dirinya tahu, memang parameter kesuksesan setiap orang berbeda-beda, namun baginya, mampu mengantarkan anak mengenyam pendidikan perguruan tinggi menjadi prestasi yang amat luar biasa.

Sebagaimana diketahui, Ayah Anis bekerja sebagai sopir. Sementara seorang Sutini merupakan ibu rumah tangga. Demi biaya pendidikan sang anak di perguruan tinggi, mereka pun memaksa agar terbiasa hidup dengan kondisi sangat sederhana. Mereka memilih selalu menunda kebutuhan keluarga yang lain demi pendidikan si buah hati.

Saat ini perasaan lega mulai mereka rasakan. Sebab, hasil magang Anis selain cukup untuk biaya menuntaskan kuliah, sebagian dapat mereka terima untuk kebutuhan hidup. Sewaktu mendapat kiriman uang dari Anis mereka mengaku sempat kaget. Karena, jumlahnya di luar dugaan mereka selama ini.

Anis sempat berkabar kepada orang tua, dalam setiap bulan ia mendapat gaji sebesar 80.000 Yen atau sekitar Rp. 10 jutaan.

“Katanya ingin jadi Chef professional. Selaku orang tua saya hanya bisa mendoakan,” ujar Sutini polos.

Menurut Sutini, harapan anaknya seperti terbuka saat dinyatakan lolos seleksi mendapat kesempatan magang di Jepang. Semenjak saat itu, lelah membanting tulang, seolah mandi keringat demi biaya kuliah Anis seperti lunas terbayar.

Sementara itu, pendamping PKH Desa Jetis, Kecamatan Saptosari, Hartini turut merasa senang salah satu anggota PKH yang ia dampingi perlahan-lahan mengalami perbaikan ekonomi. Dirinya merasa, motivasi, dukungan, dan semangat yang ditularkan dalam setiap Family Development Session (FDS) untuk mengantarkan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH agar semakin berdaya dinilai berhasil.

“Jika sudah tepat waktunya akan di luluskan dari PKH. Memang jika sudah masuk keluarga sejahtera akan di graduasi,” jelas Hartini. (Kandar)

Komentar

Komentar