Luweng Blimbing Pertanda Erosi Semangat Bertani

oleh
Luweng Blimbing di Lembang Karst Serpeng Pacarejo Semanu. Dok: KH/Jjw

Dari mana atau kenapa diberi nama Luweng Blimbing, belum diperoleh informasi. Apakah dulu di sekitarnya ada banyak pohon blimbing atau bentuk fisiknya yang menyerupai bilah-bilah buah belimbing, juga belum diperoleh ceritanya.

Yang jelas, Luweng Blimbing pada awalnya merupakan ledokan jalan air hujan menuju perut bumi di kawasan Lembah Karst Serpeng Desa Pacarejo Semanu. Di sebelah timur luweng ini juga terdapat lembah besar berbatu kapur yang juga menjadi sungai besar yang menyalurkan air ke perut bumi, namanya Luweng Wot Lemah.

Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi hujan begitu lama ketika badai tropis bulan Januari lalu telah menjadikan ceruk lembah ini menjadi tampungan air hujan raksasa. Karakter tanah dan batuan karst memang porous, beberapa hari kemudian air seketika masuk ke perut bumi termasuk sedimen tanahnya, kemudian diikuti longsornya tanah di sisi ceruk sehingga diameter luweng ini menganga menjadi semakin besar.

Masyarakat sempat heboh, tempat ini sempat menjadi lokasi wisata dadakan “nonton luweng” saat air masih menggenanginya. Masih tersisa jejak tapak para pengunjung, jejak tapak roda sepeda motor, juga lapak-lapak bekas warung dadakan yang kini ditinggalkan begitu saja. Uang parkir motor para “wisatawan” yang dikutip Karang Taruna setempat dalam beberapa hari katanya mencapai jutaan Rupiah.

Kini, tempat itu menjadi sepi kembali. Sesekali terlihat para petani setempat yang menggarap ladangnya atau mencari rumput atau tebon untuk pakan ternak. Beberapa anak muda masih ada yang dolan dan menonton luweng ini.

Tersisa longsoran yang memperlihatkan lapis-lapis tanah gembur dan subur untuk pertanian yang perlahan-lahan terkikis aliran air. Betapa hidup dan kehidupan Gunungkidul sangat bergantung pada lapis-lapis tipis tanah subur di atas bebatuan gamping ini.

Sayangnya, di jaman kini rasa-rasanya semakin sulit mendapati warga muda yang setia mengolah tanah subur namun tipis di atas bebatuan ini. Semua lebih suka berbondong-bondong ikut hiruk pikuk segala rupa sihir atas nama pariwisata.

Masih tidak percaya? Semakin langka anak muda yang mau berpeluh keringat ngarit pari atau nandur kacang atau kedele. Semakin langka mereka-mereka yang masih mau ndandani galengan, nata watu gawe beteng penjaga erosi tanah.

Memang lebih enak dan lebih mentereng menjual karcis wisata atau menjaga parkiran motor warga yang berbondong-bondong dadakan melihat munculnya luweng dan sejenisnya. Apalagi sambil menenteng handphone atau handy-talky. (Jjwidiasta).

Akar-akar jati yang tak lagi mencengkeram tanah. Dok: KH/Jjw.
Gerusan air, lapis tanah, batu kapur mengajarkan bagaimana manusia harus berjuang dalam mempertahankan kehidupan. Dok: KH/Jjw.

Komentar

Komentar