Lumbung Kawruh

oleh
Perpustakaan Lumbung Kawruh; Dusun Ngurak-urak Desa Petir Kecamatan Rongkop
Perpustakaan Lumbung Kawruh; Dusun Ngurak-urak Desa Petir Kecamatan Rongkop

Memang, kawruh yang dimaksud dalam Lumbung Kawruh adalah segala jenis kawruh, termasuk kawruh di bidang pertanian. Sebut saja Mbah Jarwa dan Mbah Waso, dua di antara sesepuh Ngurak-urak. Beliau berdua adalah petani. Menyambut musim rendheng tahun ini mereka sudah selesai ngawu-awu gabah, apalagi karena musim kemarau tahun ini agak panjang. Mbah Jarwa menuturkan bahwa ilmu pengetahuan dan kepercayaan yang hidup di Ngurak-urak dan sekitarnya begini: jika musim kemarau terlalu panjang seperti tahun ini, nanti jika turun hujan para among tani tidak sempat membuat kowakan disebabkan karena curah hujan yang banyak. Sehingga, ngawu-awu dilakukan lebih dulu. “Ngge ngawekani tenagane tiyang riki,” Mbah Jarwa memberi keterangan. Rata-rata, jika kelak turun hujan dan hujannya nerus, hasil olah tani lebih hebat yang diawu-awu (sebelum hujan benih sudah ditanam) dibandingkan dengan yang tidak. Wawasan umum yang berkembang di wilayah Ngurak-urak, “Yen sampun jawah ngedra, winih ingkang sampun wonten ing salebeting siti kantun thukul. Nek sing dereng, mangkeh malah repot. Repote nggih niku wau, ajeng kowak boten onten wektu karana jawah, sing kantun thukul sampun sae.”

Mbah Jarwa melanjutkan, selain gabah, beberapa benih yang diawu-awu adalah benguk, cipir, kara serta gudhe. Seperti diketahui bersama oleh masyarakat Desa Petir bahwa gudhe merupakan tanaman khas yang digunakan untuk bahan olahan sesajian bongko-gudhe kala Upacara Sadranan Mbah Jobeh berlangsung. Khusus untuk benih jagung, among-tani Ngurak-urak memiliki ilmu: jika telah datang hujan lebat dan ketinggalan 3 hari benih jagung tidak segera ditanam, maka hasilnya kurang baik. Secara kosok bali dengan gabah, penanaman palawija seperti jagung, kacang, dan kedelai ‘harus’ menunggu datangnya hujan hingga pasiten (tanah garapan) dalam kondisi jaat atau teles tenan (benar-benar basah). Gambaran jaat itu: tanah ketika dibacuk dalam-dalam (menggunakan gathul atau pacul) tak lagi ditemui tanah kering. Jika telah demikian, maka jagung, kacang, dan kedelai siap (dan harus segera) ditanam.

Salah satu karya cukil kayu oleh anak Lumbung Kawruh. KH/WG.
Salah satu karya cukil kayu oleh anak Lumbung Kawruh. KH/WG.

Kawruh di berbagai bidang ilmu semacam itu lah yang dimaksud oleh Ribut sebagai ilmu warisan leluhur Ngurak-urak yang harus dilestarikan, dan pantas untuk dimasukkan dalam wadah yang disebut Lumbung Kawruh. Dengan kehadiran Lumbung Kawruh di Ngurak-urak, Mbah Jarwa sebagai wali para sesepuh berterima kasih genea (kok) para anak-cucu masih mau melestarikan kebudayaan Jawa yang disandingkan dengan kebudayaan modern seperti yang sudah dilaksanakan di Lumbung Kawruh selama ini. Budaya modern itu, “Boten wonten awonipun, mung mawon kedah imbang.” Mbah Jarwa menyodorkan perumpamaan: orang jaman dulu memiliki aji-pameling, orang jaman sekarang memiliki HP. Meskipun Mbah Jarwa tak memiliki aji pameling tetapi memiliki HP, namun keduanya pantas untuk dilestarikan diselaraskan dengan kebutuhan jaman.

Sebagai bentuk urun pula, maka Lumbung Kawruh beberapa waktu lalu mengadakan acara “Sedekah Nada”, ngiras-pantes (sekaligus) nggebrakke (meresmikan dan mendoakan) kelahiran Lumbung Kawruh. Isi acaranya adalah sedekah berbagai seni pertunjukan dan nggebrakke (meresmikan) kelahiran Lumbung Kawruh. Acara diadakan sebagai wadah (lumbung) bagi siapa saja, baik anggota Lumbung Kawruh maupun kawan-kawan dari luar Lumbung Kawruh, untuk mempertunjukkan kebolehannya. Acara diisi dengan berbagai pertunjukan tarian, sintren, band, kendang tunggal, dan lain-lain, yang semuanya sebagai bentuk urun kawan-kawan jejaringnya. Terlaksananya acara “Sedekah Nada” dan Nggebrakke Lumbung Kawruh berkat dukungan kawan-kawannya dan warga Ngurak-urak. Semua bergotong royong sambat-sinambatan. “Aku duwe pring siji, aku duwe kayu siji,” dan sebagainya. Dengan adanya acara “Sedekah Nada” yang secara sukarela dihadiri dan didukung oleh kawan-kawan komunitas, terang Ribut, artinya mereka dalam ikatan saudara atau keluarga.

Semboyan Lumbung Kawruh: Belajar, Bermain, Tawa. KH/WG.
Semboyan Lumbung Kawruh: Belajar, Bermain, Tawa. KH/WG.

Pada hari “Sedekah Nada” dan “Nggebrakke” itu teman-teman Ribut seperti Cuil (Tangerang) dan Lisa (Bantul) mengajari anak-anak muda seni grafiti dan mural. Kelompok Kroni mengajari membuat gelang dari benang; membuat gantungan kunci dari photo-wood. Fredy dan Bagus mengajari cukil kayu. Band Kolang-kaling serta Resan Blues dari Karangmojo ikut mengisi acara. Intinya, lewat “Sedekah Nada” yang climen (sederhana), Ribut ingin nguri-uri kabudayan. Jika tidak melakukan aksi budaya sekarang ini, meskipun kecil skalanya, menurutnya kelak anak-anak Ngurak-urak akan kelangan enggok.

Mosok gur arak dadi apik wae ndadak ditutup-tutupi, disekal-sekal, ben ketok nek ora apik. Apa sing takkarepke, yaiku anggonku arak gawe apik iku men lurus men lancar sakabehe.

Acara “Sedekah Nada” dan Nggebrakke Lumbung Kawruh memang dimaksudkan untuk nguri-uri adat-tradisi yang ada dalam kehidupan kulawarga Ngurak-urak, utamanya berkenaan dengan labuh labet leluhur. Kehadiran Lumbung Kawruh di Ngurak-urak oleh Ribut dihubungkan dengan kisah kepahlawanan para sesepuh dan leluhur Ngurak-urak. Baginya, para sesepuh dan leluhur adalah pahlawan yang memperjuangkan kehidupan mereka di Dusun Ngurak-urak sejak awal dulu. Para sesepuh dan leluhur adalah tokoh yang telah babad alas babad dalan demi lahirnya Ngurak-urak. Terlebih jika dirunut lebih jauh lagi, para sesepuh dan leluhur ini terkoneksi dengan para tokoh di sejarah-legenda Desa Petir dan desa-desa di sekitarnya. Menurutnya, pahlawan bukan hanya para pejuang-awal kemerdekaan Indonesia. Para pahlawan baginya termasuk para leluhur yang telah berjuang mendirikan dusun Ngurak-urak sebelum kelahirannya dan keluarganya sekarang ini.

Komentar

Komentar