Lumbung Kawruh

oleh
Perpustakaan Lumbung Kawruh; Dusun Ngurak-urak Desa Petir Kecamatan Rongkop
Perpustakaan Lumbung Kawruh; Dusun Ngurak-urak Desa Petir Kecamatan Rongkop

Berawal dari pengalaman batin Ribut yang sepaham dengan kawannya, yaitu Denok (Karawang), ia terinspirasi mendirikan Lumbung Kawruh. Sejarahnya dulu, Denok, dengan sepeda-baca-kelilingnya, keraya-raya bersepeda onthel dari Karawang membawa buku-buku bacaan dan berakhir di Ngurak-urak; tempat tinggal Ribut. Beberapa koleksi buku yang dibawa Denok ini lah sebagai pemula buku-buku yang ada di perpustakaan Lumbung Kawruh. Ribut memiliki keyakinan bahwa semua buku mengandung hal-hal baik dan menyimpan serta menularkan energi bagi kehadiran buku-buku lain. Ternyata seiring berjalannya waktu, koleksi buku-buku di Lumbung Kawruh semakin bertambah atas kontribusi kawan-kawannya. Banyak kawan yang datang untuk mendonasikan buku. Beraneka macam buku di Lumbung Kawruh dibaca oleh para anak, pemuda, bahkan orang tua. Bagaimana pun kehadiran buku dalam bentuk cetak-kertas membantu para warga yang membutuhkan informasi dan ilmu pengetahuan (kawruh).

Ribut, yang masih intens menemani pemuda-pemudi Ngurak-urak berkesenian (sablon) cukil kayu hingga sekarang, menerangkan bahwa maksud kata kawruh dalam “Lumbung Kawruh” adalah ilmu pengetahuan tentang siapa saja dan apa saja, terutama yang berhubungan dengan kebudayaan Jawa dan ‘kebudayaan desa’, bisa tentang dolanan rakyat, tentang pepohonan (resan), tentang leluhur dan sejarah dusun, tentang olah pertanian, dan sebagainya dan sebagainya.

Ia bercerita bahwa jika kita sering pergi ke sana ke sini akan mendapatkan kawruh. Kawruh yang didapat tak hanya digunakan untuk diri sendiri. Intinya, kawruh itu bisa ditularkan kepada siapa saja. Ribut sadar bahwa dirinya tak bisa memberi banyak hal kepada orang-orang di sekitarnya. Yang ia-punya hanya pengalaman dan perjalanan ke banyak tempat dan banyak pandangan, yang ini ia anggap sebagai ‘modal ilmu’. Ia tidak sedang ngguroni. Di Lumbung Kawruh, tidak ada guru tidak murid. Yang ada adalah sinau sareng atau sareng-sareng sinau. Kecenderungan orang “yang tahu” itu ngguroni. Ribut takut menjadi rumangsa isa (merasa bisa) dibanding yang lain. Hal itu akan membahayakan dirinya sendiri. Ribut lebih memilih untuk isa ngrumangsani (bisa merasa). Semua manusia di hadapan Gusti sama menurutnya. “Ora enek sing dhuwur ora enek sing endhek,” Ribut menerangkan keyakinannya. Yang tua harus momong yang muda. Yang muda harus menghormati yang tua. Semua yang sinau bareng di Lumbung Kawruh sama rata sama rasa.

Penggagas Lumbung Kawruh, Ribut Eugh, dan simboknya, Wartiyem. KH/WG.
Penggagas Lumbung Kawruh, Ribut Eugh, dan simboknya, Wartiyem. KH/WG.

Lumbung Kawruh tuwuh (tumbuh) dari prentuling manah Ribut sendiri. Kebetulan dia dulu punya uni atau ujar: saya ingin memiliki wadhah komunitas bernama Lumbung Kawruh. Kemudian Ribut mendiskusikan nama dan krenteg-nya mendirikan sebuah komunitas dengan orang yang ia-percayai: Mas Parsa (swargi), sekaligus dengan bapaknya: Trisno Rejo (swargi). “Ha nek kuwi ki sing mbok-karepe turna kuwi isa migunani kanggo liyan, ngapa kok ora,” begini swargi-bapaknya pernah mendukung keinginannya. Sementara oleh Ribut Mas Parsa dianggap sebagai tokoh yang memegang teguh kawruh Jawa termasuk di dalamnya ilmu tentang unggah-ungguh bebrayan agung, tentang bagaimana hidup di dunia, serta tentang bagaimana bersinergi dengan alam. Ribut merasa cocok dengan Mas Parsa sebagai teman mbat-mbatan kawruh. Mereka berdua (Mas Parsa dan bapaknya) mengatakan: sarujuk, sehati. Ribut teringat, dulu pernah bersama Mas Parsa mengadakan pentas reyog di (bekas) tanahnya simbah. Pentas reyog yang diadakan merupakan upaya ‘menghidupkan kembali’ seni reyog yang sempat padam.

Ribut, dengan berfilsafat, menerangkan  bahwa kata lumbung dalam Lumbung Kawruh itu ia-maksudkan sebagai suatu panggon atau papan (tempat) untuk menyimpan, termasuk kesenian. Lumbung biasanya identik dengan papan untuk menyimpan pangan, tetapi yang disimpan dan diwadahi kali ini adalah kawruh. Meskipun pangan termasuk kawruh.  Kawruh bermakna ilmu pengetahuan (lahir dan batin). Suatu saat jika ada orang yang membutuhkan ilmu pengetahuan lahir-batin (kawruh), maka bisa mengambilnya dari Lumbung Kawruh. Di dalam Lumbung Kawruh semua orang bisa ngekeki (memberi) atau bisa njaluk (meminta).

Pangan yang seharusnya tidak dihabiskan waktu sekarang kemudian disimpan di dalam lumbung; bisa digunakan untuk cadangan pangan esok hari. Dalam Lumbung Kawruh, pangan bisa diganti dengan kawruh. Misalnya hari lalu Ribut memeroleh kawruh, maka kawruh akan ia-masukkan ke dalam lumbung. Kelak ia atau orang-orang bisa mengambilnya dari Lumbung Kawruh jika membutuhkan. “Kapan wae aku butuh, kapan wae putuku butuh, isa njupuk ska kono,” Ribut menguraikan makna Lumbung Kawruh bagi dirinya dan bagi siapa saja.

Mbok Wartiyem, ibunya, memberi tanggapan tentang kelahiran Lumbung Kawruh, “Tiyang sepuh namung nurut, boten saged ngrewangi napa-napa. Kula nyengkuyung lair-batin, ning nggih mung cara thok.” Mbok Wartiyem merasa gembira sekarang rumahnya menjelma pasinaon dan anak-anak dapat menggunakannya sebagai tempat belajar dan tempat bertemu. Banyak anak belajar aneka ilmu di rumahnya. “Kula dikancani anak putu latihan-latihan, maca buku, seneng raosipun,” si simbok mengungkapkan kebahagiannya. Ribut, yang anak yatim dan sekarang tinggal menemani simboknya itu, sempat mengutarakan keresahannya di bidang pertanian. Ia dan beberapa kawan serta saudaranya adalah among-tani; keturunan among-tani. Mbok Wartiyem pun among-tani. Mbok Wartiyem tidak memiliki lahan. Ia hanya nyilik (menyewa) sekedhok (satu petak). Lahan pertanian sewa ia-garap sendiri. Dan jelang masa tanam tahun ini kebanyakan among-tani seperti Mbok Wartiyem sudah ngawu-awu (menyebar benih), sambil ngelon-loni menunggu hujan yang belum juga datang.

Komentar

Komentar