Lima Fakta Menarik dari Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari Total. KH/Natgeo-Indonesia.
Gerhana Matahari Total. KH/Natgeo-Indonesia.

KABARHANDAYANI — Rabu tanggal 9 Maret 2016 akan terjadi fenomena alam langka, yaitu Gerhana Matahari Total. Warga Gunungkidul barangkali akan terkenang pada peristiwa Gerhana Matahari Total pada tahun 80-an dulu. Waktu itu, pemerintah justru melarang warga untuk keluar rumah, karena waktu itu rumornya kalau melihat gerhana matahari secara langsung bisa berbahaya, bisa mengamati kebutaan.

Waktu itu sekolah-sekolah dan kantor diliburkan, masyarakat menyaksikan fenomena langka tersebut lewat siaran TVRI. Masih dalam ingatan, saat detik-detik gerhana matahari berlangsung, penduduk bergerak tanpa komando langsung menabuh kentongan dan lesung secara bertalu-talu. Suasana semakin menjadi mistis, karena gelap dan yang terdengar hanya bunyi lesung dan kentongan yang ditabuh itu.

Fenomena alam gerhana matahari total pada 9 Maret mendatang nampaknya akan berubah. Peristiwa ini akan menyedot perhatian masyarakat dunia. Gerhana Matahari Total (GMT) hanya dapat diamati dari daerah yang dilintasi bayangan umbra bulan. Indonesia sangat beruntung karena menjadi negara yang wilayahnya paling banyak dilintasi GMT. Sebelum menyaksikan fenomena langit tersebut, mari simak beberapa hal menarik seputar Gerhana Matahari Total.

1. Apa yang terjadi saat gerhana matahari total?

Gerhana akan dimulai saat bulan perlahan menutupi piringan matahari. Semakin lama semakin besar area piringan matahari yang ditutupi bulan. Sesaat sebelum memasuki fase total, sinar matahari terakhir akan bersinar melewati lembah-lembah di permukaan bulan.

Fase total, seluruh permukaan matahari tertutupi bulan, sehingga orang dapat melihat bagian korona matahari menjulur dari bagian tepi piringan matahari. Saat totalitas, keadaan sekitar akan gelap seperti malam dengan bulan purnama. Langit di daerah cakrawala akan berwarna layaknya sore hari.

2. GMT di Indonesia

Gerhana Matahari Total di Indonesia paling dekat adalah tanggal 9 Maret 2016. Sebelumnya, gerhana matahari total yang melintasi Indonesia terjadi pada tanggal 24 Oktober 1995. Di tahun 1980-1990, terjadi 3 gerhana total yakni 11 Juni 1983, 22 November 1984 dan 18 maret 1988. Setelah 9 Maret 2016, gerhana matahari total berikutnya akan terjadi tanggal 20 April 2042 dan 12 September 2053.

Pada tanggal 20 April 2023 dan 25 november 2049, Indonesia akan dilewati gerhana hibrida (gerhana matahari cincin dan total yang terjadi bersamaan dalam satu gerhana), dan sebagian wilayah Indonesia berkesempatan melihat gerhana matahari total.

Selama 2 abad atau dari tahun 1901-2100 (abad 20 dan 21), Indonesia dilintasi oleh 14 Gerhana Matahari Total termasuk di dalamnya gerhana hibrida.

3. Jangan melihat langsung ke arah matahari, kecuali saat gerhana total

Melihat matahari secara langsung bisa membahayakan mata. Sebab, paparan cahaya dengan intensitas tinggi seperti cahaya matahari dalam waktu lama akan menembus mata dan merusak lapian retina mata yang berisi syaraf sensitif. Retina tidak memiliki sensor sakit sehingga saat kita menatap langsung, kita cenderung mengabaikan dan tidak menyadari bahwa mata kita sedang berada dalam keadaan berbahaya.

Saat gerhana, selama matahari masih tampak, dilarang melihat secara langsung tanpa filter. Tapi, saat matahari tertutup sempurna, pengamat bisa menyaksikan gerhana matahari total tanpa filter.

Ketika totalitas, mata beradaptasi dengan gelap dan pupil terbuka penuh. Tapi ketika totalitas berakhir dan sinar matahari kembali muncul, pupil tidak cukup cepat menutup sehingga cahaya matahari yang tampak akan merusak atau membakar kornea mata.

Kerusakan pada mata terjadi ketika pengamat melihat ke matahari tanpa filter. Kerusakan berupa pengelihatan kabur dapat dialami selama beberapa jam hingga beberapa minggu, namun kerusakan permanen dan kebutaan bisa saja terjadi.

4. Cara aman melihat gerhana matahari

Untuk bisa menyaksikan gerhana matahari dengan aman, gunakan kacamata gerhana maupun teleskop yang sudah dilengkapi filter. Guna filter adalah untuk menyaring sebagian besar cahaya matahari, sehingga cahaya yang diterima mata tidak berbahaya.

Selain kacamata gerhana dan teleskop, pengamat juga bisa melakukan proyeksi lubang jarum untuk mengamati gerhana matahari sebagian. Saat gerhana total, sila lihat tanpa penyaring. Saat Bulan meninggalkan matahari, kenakan kembali kacamata gerhana atau teleskop yang sudah dilengkapi filter.

5. Pengaruh GMT pada Bumi

Saat bulan menutupi matahari, temperatur lokasi yang dilintasi gerhana di Bumi akan turun sesaat selama GMT berlangsung. Penurunan sekitar 3º Celsius. Pada saat temperatur turun, uap air jadi lebih mudah berkumpul sehingga pembentukan awan menguat.

Saat GMT terjadi, hewan akan berperilaku seakan malam tiba. Karena itu, hewan malam akan bersiap-siap ke luar dan hewan yang berkeliaran di siang hari akan bersiap tidur.

Untuk jangka pendek dan jangka panjang, tidak ada pengaruh apapun dari Gerhana Matahari total.

(Redaksi KH. Sumber: Natgeo Indonesia)

 

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar