Libur Tahun Baru, Okupansi Hotel Naik Hingga 100 Persen

oleh
Wisatawan menikmati fasilitas di Hotel Queen Of The South di Purwosari. KH/ Kandar.

PURWOSARI, (KH),– Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk Gunungkidul, Karnila Sari mengatakan, lonjakan okupansi hotel dan penginapan di Gunungkidul cukup tinggi. Hal tersebut terjadi menjelang akhir libur panjang tahun baru beberapa waktu lalu.

Capaian kenaikan tersebut mencapai puncak hingga 100 persen antara tanggal 27-31 Desember 2017. Kondisi tersebut terjadi disemua hotel dan penginapan yang tergabung dalam anggota PHRI. Seperti pada umumnya, meningkatnya tingkat hunian diiringi pula dengan meningkatnya tarif sewa hotel.

“Kamar hotel mulai penuh dalam waktu yang tidak bersamaan, hal ini dipengaruhi kapasitas masing-masing penginapan,” terangnya Senin, (02/1/2018).

Menurutnya, hotel dengan kapasitas kamar yang jauh lebih sedikit akan menolak tamu lebih awal dibanding penginapan yang memiliki kamar yang jauh lebih banyak. Terkait kenaikan tarif, Karnila menyebut mencapai 50 hingga 75 persen.

Senada dengan ketua PHRI, Public Relation ‘Queen Of The South’ resort, di Girijati, Purwosari, R. Putri mengungkapkan, satu-satunya hotel berbintang di Gunungkidul ini dalam menghadapi libur panjang menerapkan tarif high season sejak tanggal 23 Desember 2017.

“Sejak high season dibuka, tingkat hunian mencapai 75 persen. Selain tamu baru diantaranya merupakan tamu langganan yang sudah booking sejak tujuh bulan lalu,” ungkap Putri.

Kemudian, 59 kamar yang ada semuanya terisi atau penuh dari tanggal 28 Desember. Pihaknya menerangkan, prosentase kenaikan 4 tipe kamar yang disediakan jumlahnya hampir sama. Rata-rata kenaikan antara 50 hingga 75 persen.

Untuk kamar kelas regular harga sebelumnya berkisar Rp. 1 juta, naik menjadi Rp. 1,5 juta per malam, tipe superior area yang dekat dengan laut harga normal sebelumnya Rp. 1,3 juta naik menjadi Rp. 1,7 hingga Rp. 2 juta. Tipe Family room dari Rp. 1,8 juta naik menjadi Rp. 2,7 juta per malam.

“Sedangkan untuk kelas president suite dari Rp. 12 juta, naik menjadi Rp. 15 hingga Rp. 20 juta,” rinci Putri.

Menurutnya, jumlah hotel di Gunungkidul dengan kualitas menengah keatas masih kurang. Hal tersebut terbukti apabila hari minggu hampir selalu saja ada tamu hotel yang ditolak karena telah penuh.

Hal lain disampaikan Putri, untuk mengantisipasi kekurangan sumber daya tenaga karena kesibukan pelayanan meningkat seiring bertembah banyaknya tamu, pihaknya memberdayakan pemuda lokal asal Kecamatan Purwosari.

“80 persen karyawan berasal dari Purwosari, hal ini memudahkan kami jika terjadi peningkatan aktifitas pelayanan. Sebab, mereka siap jika sewaktu-waktu diajak lembur karena rumahnya dekat. Kemudahan lain yakni saat kami mencari tambahan tenaga yang bersifat insindental,” paparnya. (Kandar)