Lembu

oleh
Si blengoh. Ingon-ingon lembu rajakaya para among tani. KH/Wg.
Si blengoh. Ingon-ingon lembu rajakaya para among tani. KH/Wg.

Suara lembu ‘(a)mbengoh’: “nguooooh…..!”

Dulu, lembu adalah pasangan-pelengkap-hidup manusia. Namun sifatnya ‘awuk’: samar-samar. Mereka ‘wuk’ (kewanitaan/angka 0), among tani (jalu/angka 1).

Jika Bima berpasangan dengan Sang Guru Sejatinya, Drona/Bayu, atau jika ibu-ibu rumah-tangga jaman sekarang berpasangan dengan ‘guru-kehidupan’ berupa sinetron “candra-nandhini”, sejajar dengan dua hal ini, maka among-tani subsisten di desa-desa di Gunungkidul berpasangan dengan nafas (guru/bayu) juga. Sato-kewan ‘ingon-ingon’ yang disebut sapi/lembu; Lembu (Andhini).

Sementara Simbok saya, bisa saya katakan: hampir saban hari, berpasangan dengan Blengoh; lembu yang dicintainya itu. Ia mengelusnya di waktu tertentu. Memeluknya, menciumnya dengan pipi. Membincang sesuatu dengannya: “Wis, ndang dipangan, ra sah kakehan umyek!” Kadang Simbok marah-marah kepadanya; suatu ketika Si Blengoh sudah diberi ‘pakan’ hijau-dedaunan e lha kok tetap “nguah-nguoh”: “Njur njalukmu ki apa? Dhasar menus (baca: manusia)!”; sambil memukulkan sisi ‘arit’ yang datar dan tidak-tajam ke kepala Blengoh; mungkin sebagai bentuk ‘sih-tresna’, atau kekesalan-kekesalan kecil karena Simbok merasa telah ‘abot-repot’ mencarikannya makanan namun ia tak mau memakan; bukan kemarahan sesungguhnya.

Demi pasangannya ini, Simbok harus melonggarkan waktu untuk ‘golek-pakan’ dedaunan hijau di ‘brubuh’ pekarangan rumah atau kebonan atau di alas/tegalan (pada waktu pagi hari jika ‘embun’ telah ‘asat’ atau sore hari jelang pelaksanaan ritual ‘makani-kewan’) lantas di sore hari mempersembahkannya untuk Si Blengoh.

Si Blengoh ‘ngawuk-awuk’; merasakan makan enak.

Blengoh dan kulawangsanya, kulawangsa lembu, mewarnai kehidupan masyarakat tani subsisten pedesaan seperti Simbok saya. Sapi/lembu/maesa amat dekat dengan kehidupan manusia. Sapi/lembu adalah ‘anak’ kulawangsa tani di desa. Hanya saja penamaannya memang ‘peteng’: tidak diakui. Pada awalnya, sapi/lembu/maesa disejajarkan dengan nilai kemanusiaan seorang manusia, seberapa ‘aji’ si manusia itu. Nama-dirinya menggunakan nama sato-kewan lembu: “lembusura”, “maesasura”, “maesajenar”.

Komentar

Komentar