Legowo: Mata Boleh Terbatas, Tapi Pikiran Jangan!

oleh
Legowo, penyandang tuna netra yang gigih menjalani hidup. KH/ Kandar.

GUNUNGKIDUL, (KH),– Memiliki semangat baja. Demikian kiranya ungkapan yang pas disematkan pada Legowo (49) penyandang tuna netra yang tinggal di Yogyakarta ini. Dirinya gigih, selalu berusaha memperbaiki keadaan, meski memiliki keterbatasan.

Saat ditemui beberapa waktu lalu, dirinya berkisah bagaimana perjuangan yang dilakukan demi hidup lumrah sebagaimana orang dengan kondisi fisik normal pada umumnya. Awalnya, lelaki kelahiran Wiladeg, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul ini tak memiliki masalah dengan kesehatannya.

Perjalanan hidup membawanya menjadi karyawan di sebuah perusahaan spare-part sepeda motor di Tangerang selepas lulus SMEA Wonosari tahun 1989. Legowo masih ingat persis, pada Mei 1990, dirinya jatuh sakit. Oleh dokter didiagnosa sakit typus.

Saat sakit, indera penglihatannya menjadi rabun. Dengan menjalani pengobatan, ia sembuh dan kembali bekerja. Namun pada tahun 1994 mau tidak mau Legowo harus berhenti bekerja. Ia pulang kampung ke Wiladeg, karena sakit mata semakin menjadi.

Meski berbagai upaya pengobatan mata ditempuh, Legowo hanya bisa membedakan terang dan gelap. Belakangan diketahui dirinya mengalami infeksi saraf retina.

“Tahun 1996 saya tidak bisa melihat, hanya terang dan gelap. Praktis tidak ada pekerjaan yang dapat saya lakukan,” kenang Legowo.

Iba melihat kondisinya, salah satu kakaknya membelikan freezer. Harapannya, agar Legowo memiliki kesibukan bikin es lilin untuk dijual. Cukup lama ia menjalani kesibukan sebagai pembuat es lilin. Legowo merasa tidak betah dengan kondisi tersebut.

Legowo bertanya kepada diri sendiri, bagaimana kelak bisa mandiri membiayai hidup? Bagaimana jika suatu saat Tuhan mengijinkannya menikah dan mengayomi keluarga? Tak berhenti disitu, segenap pertanyaan lain turut membayanginya. Lantas dirinya berfikir dan bertekad bulat bahwa harus ada perubahan pada dirinya.

Tahun 2002, Legowo mengutarakan niat kepada keluarga ingin mengikuti kursus pijat. Hal tersebut disambut suka cita seluruh keluarga. Ternyata, sudah lama keluarganya ingin menawarkan kursus pijat, akan tetapi mereka takut membuat Legowo tersinggung.

Atas bantuan keluarga, Legowo kemudian masuk ke panti sosial tempat kursus di wilayah Yogyakarta. Karena tidak mengalami tuna netra sejak kecil, kecakapan membaca huruf Braille pada tahap pendahuluan kursus pijat dapat dilalui dengan cepat.

“Kursus yang seharusnya membutuhkan waktu tiga tahun, mampu saya selesaikan dua tahun saja. Sebelum lulus saya memperoleh pengalaman, saya dipercaya mewakili DIY mengikuti Paralimpiade di Palembang,” tutur Legowo.

Kemudian dengan bekal kemampuan pijat shiatsu atau terapi yang dipadukan dengan teknik pijat mengatasi lelah, mulai 5 Januari 2005 Legowo membuka panti pijat di Yogyakarta. Semenjak dibuka berangsur-angsur banyak yang datang menggunakan jasanya.

“Pengunjung per hari rata-rata ada sekitar 7 orang. Rata-rata pendapatan (harian) antara Rp 150 hungga 200 ribu ,” terangnya.

Hingga saat ini ,dirinya dibantu tiga rekan sesama penyandang tuna netra untuk melayani pelanggan. Memiliki usaha dibidang jasa, Legowo merasa perlu melakukan promosi. Sering dirinya nongkrong di warung makan atau angkringan. Hal tersebut dilakukan agar orang lain mengenalnya, sekaligus mengenalkan usaha yang dijalankan.

Dalam setiap perbincangan di warung ‘nasi kucing’, Legowo terkadang tak luput menjadi bahan candaan. Olok-olok yang terlontar sering menyinggung kondisinya yang tak mampu melihat. Akan tetapi dirinya tak pernah menunjukkan reaksi marah. Justru dirinya membalas dengan lelucon.

“Terkadang ada yang bertanya, diejek kok tidak marah?. Saya tegaskan, saya marah pun tetap tak dapat melihat, sama saja. Maka ngapain marah segala,” tandas Legowo.

Menjalani hari-hari sebagai tuna netra tidaklah mudah. Sering ia mengalami jatuh, masuk selokan, dan menubruk mobil, lantas ditertawakan. Namun sedikitpun tak membuat diri Legowo meratapi kesedihan. Dirinya mengaku dapat menerima kenyataan dengan lapang.

“Meratapi keadaan tak akan merubah apapun. Maka harus tegar, tetap terus bergerak bagaimanapun caranya,” ujar Legowo penuh semangat.

Suatu ketika dirinya pernah menjumpai teman sesama tuna netra yang putus asa dengan kondisi yang dialami. Legowo bersikeras membantu temannya agar bangun dari keterpurukan hidup. Salah satu motto hidup sebagai pegangan yang disampaikan ke temannya berbunyi “mata boleh terbatas, tetapi pikiran jangan”.

Artinya, meski tak mampu melihat dengan mata, tetapi jangan berhenti berfikir untuk maju. Pikiran jangan hanya berhenti dan berkutat pada penyesalan. Dirinya bersyukur, motivasi yang diberikan berhasil, sehingga saat ini temannya tersebut menjadi guru musik di sebuah lembaga kursus musik.

Untuk memudahkan aktivitasnya, saat ini Legowo sedang belajar Orientasi Mobilitas (OM), yakni bepergian secara mandiri. Lagi-lagi dirinya sangat pecaya diri kelak dapat melakukannya. “Yang tuna netra sejak lahir saja bisa, maka saya juga harus bisa,” tukasnya.

Legowo menjalani hidup bahagia bersama keluarganya. Dari istri yang dikenal saat kursus pijat Legowo telah dikaruniai dua orang anak. Yang pertama kelas V SD, sementara yang ke dua kelas 1 SD.

Di tengah kesibukan mengurus usaha pijat refleksi, ia juga aktif terlibat dalam upaya pemberdayaan penyandang disabilitas di Yogyakarta maupun di Gunungkidul. (Kandar)

Komentar

Komentar