Legenda Gunung Bagus Desa Giring Paliyan

Jalan setapak naik menuju Pasarean Gunung Bagus. KH/ Kandar.

PALIYAN, (KH),– Gunung Bagus adalah nama sebuah perbukitan dengan tutupan lahan berupa wilayah kehutanan yang berada di Desa Giring Kecamatan Paliyan. Nama Gunung Bagus diyakini oleh masyarakat setempat sebagai sebuah petilasan seorang tokoh pada jaman dulu yang bersemedi sampai akhir hayat dan jasadnya dimakamkan di tempat tersebut. Secara fisik,  kawasan Gunung Bagus terletak di RPH (Resor Pemangkuan Hutan) Giring Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunungkidul. Tepatnya berada beberapa ratus meter di sebelah selatan Balai Desa Giring.

Hasil observasi lapangan menunjukkan, di puncak bukit tersebut terdapat bangunan berupa makam atau petilasan sehingga kawasan juga biasa disebut Pasarean Gunung Bagus. Di pasarean terdapat tiga nisan yang berada di dalam sebuah bangunan rumah dengan luas 8 x 10 meter persegi.

Pada masing-masing nisan terdapat papan nama. Nisan yang di tengah bertuliskan Jaka Tarub, sementara nisan di sebelah timur bertuliskan Bondan Gejawan dan nisan di sebelah barat bertuliskan Dewi Nawangsih.

KH berupaya menggali keterangan, bagaimana sebenarnya kisah tentang petilasan atau pesarean Gunung Bagus ini. Berdasarkan petunjuk Endri Sutrisno juru rawat petilasan tersebut, KH dipertemukan dengan Karsiyo, petugas RPH Giring yang mengetahui seluk-beluk kisah Pesarean Gunung Bagus.

Karsiyo, petugas RPH Giring yang memiliki nama tua Endro ini memaparkan kisah terkait dengan Pesarean Gunung Bagus. Menurut penjelasannya, satu dari tiga makam atau petilasan tersebut adalah Bondan Gejawan merupakan putra raja Mataram Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana ke II. Ia menjelaskan, Bondan Gejawan memiliki nama asli Raden Bagus Santiko.

Lebih lanjut Endro menceritakan, Raden Bagus Santiko setelah meninggal dinamakan Bondan Gejawan, sebab ia adalah sosok pria yang sangat tampan. Bondan bermakna tampan atau nama yang baik disematkan bagi anak laki-laki. Sedangkan Gejawan dapat diartikan Jawa atau yang memiliki maksud asal usulnya dari Jawa.

Endro melanjutkan penjelasan, saat masih tinggal di Surakarta Bagus Santiko menderita penyakit kulit/ cacar yang menular. Untuk menghindari penularan penyakit yang semakin meluas, pihak kerajaan menghendaki agar Raden Bagus Santiko pergi dari kerajaan.

Kemudian, agar penyakit kulitnya sembuh, maka Bagus Santiko harus menjalani ritual bersemedi, tapa brata atau menyendiri sebagai bentuk laku prihatin. Maka kemudian, mengembaralah ia didampingi beberapa abdi atau kinang pengasuh. Pengembaraan Bagus Santiko pada akhirnya sampai di sebuah hutan di wilayah Desa Giring. Di sebuah puncak bukit yang masih dikelilingi hutan lebat itulah Bagus Santiko melakukan semedi.

Raden Bagus Santiko menjalani semedi sampai menemui ajal. Setelah kepergiannya, selain perubahan penyebutan namanya menjadi Bondan Gejawan, maka kawasan bukit yang digunakan untuk bersemedi lambat laun dinamakan Gunung Bagus.

Sementara itu, Endro juga menuturkan, dua nisan lainnya di komplek tersebut diyakini sebagai petilasan Jaka Tarub dan Dewi Nawangsih. Dewi Nawangsih merupakan anak dari Jaka Tarub. Menurut Endro, cerita mengenai Jaka Tarub dan Dewi Nawangsih tersebut merupakan kisah yang lebih lampau. Menurut Endro, kedua tokoh tersebut diyakini lebih dahulu menghuni kawasan tersebut, sehingga dibuatkan nisan atau petilasan di tempat tersebut juga.

Seperti legenda Jaka Tarub yang umum didengar, Endro menjelaskan bahwa Jaka Tarub yang dibuatkan nisan di tempat ini adalah seorang tokoh atau pemuda yang gagah dan memiliki kesaktian. Pada suatu ketika, ia melihat 7 bidadari dari khayangan sedang mandi di sungai bernama Kali Gowang. Ia memang sengaja memilih salah satu bidadari untuk dijadikan istri.

Jaka Tarub tahu bahwa rimong atau selendang bidadari merupakan salah kekuatan untuk dapat kembali terbang ke khayangan. Lantas Jaka Tarub mencuri selendang milik Nawang Wulan, bidadari pilihannya. Seusai mandi, para bidadari kembali terbang ke khayangan.

“Tinggalah Nawang Wulan seorang diri kebingungan mencari selendang. Nawang Wulang kemudian menangis sembari menyumpah,” sambung Endro.

Sumpah atau janji Nawang Wulan berbunyi “Siapa saja yang dapat menolong dirinya, jika ia perempuan maka akan dijadikan saudara, namun jika laki-laki maka akan dijadikan suami”. Kemudian Jaka Tarub muncul dengan memberikan kain jarit yang dapat mengantar Nawang Wulan kembali ke khayangan.

Cerita berlanjut, setelah itu, hiduplah keduanya sebagai pasangan suami istri. Keduanya memiliki anak bernama Nawangsih. Selama berumah tangga, banyak kesaktian-kesaktian Nawang Wulan yang dipakai guna menyelesaikan aneka pekerjaan atau kebutuhan.

Misalnya saja, lanjut Endro, ketika hendak makan, Nawang Wulan cukup mengambil sebulir padi saja dari lumbung, lantas dimasak. Dari sebulir padi tersebut dapat berubah menjadi nasi satu bakul.

Pada suatu ketika, Jaka Tarub melanggar ketentuan atau permintaan Nawang Wulan. Saat menanak nasi seperti biasa, Nawang Wulan hanya memasukkan satu bulir padi saja ke dalam kerucut penanak. Ia berpesan kepada Jaka Tarub ketika hendak ditinggal ke sungai untuk mandi. Pesan berbunyi, “jangan sekali-kali membuka tutup penanak nasi sebelum Nawang Wulan pulang dan membuka sendiri tutup tersebut”.

“Karena rasa ingin tahu dan penasaran yang kuat, maka dibukalah tutup penanak nasi tersebut. Akhirnya bukan nasi sebakul yang dilihat tetapi berupa bulir padi biasa, masih sama ketika saat dimasukkan,” ungkap Endro melanjutkan cerita.

Setelah pulang, Nawang Wulan kaget dan menyatakan sangat yakin bahwa tutup penanak nasi telah dibuka. Karena masih berupa bulir padi lantas Nawang Wulan meminta kepada Jaka Tarub agar dibuatkan lesung atau lumpang untuk menumbuk padi.

Beberapa ratus meter di sebelah utara Gunung Bagus terdapat situs atau warisan budaya berupa Watu yang disebut Batu Lumpang. Watu Lumpang dan Lesung tidak jauh dari aliran Kali Gowang. Oleh sebagian penduduk setempat, batu tersebut disebut sebagai peninggalan Jaka Tarub.

Watu atau Batu Lumpang dan Lesung, diyakini sebagian warga sebagai peninggalan Jaka Tarub. KH/ Kandar.

Penelusuran KH terhadap beberapa literatur terkait menunjukkan, Watu Lumpang dan Lesung tersebut adalah sebuah Yoni dengan tiga Lingga, sebab ditemukan bentuk cerat dan tiga lubang pada permukaan lumpang tersebut. Terdapat pula sumber lain yang menyebutkan, batuan tersebut diidentifikasi berasal dari masa prasejarah yang merupakan sarkofagus atau peti kubur kuno. Hingga saat ini belum ada penelitian yang memastikan apa nama dan fungsi dari batuan tersebut.

Kondisi Watu Lumpang di sebelah utara Gunung Bagus sampai saat ini sangat terawat. Sebuah Cungkup telah dibuat agar Watu Lumpang terhindar dari cuaca panas dan hujan. Oleh sebagian masyarakat, Watu Lumpang dimanfaatkan untuk semedi atau berdoa. Hal ini terbukti dengan adanya bunga dan kemenyan di sekitar Watu Lumpang.

Menyambung kisah tentang persediaan padi di lumbung cepat habis lantaran ditumbuk lalu diolah atau dimasak. Endro melanjutkan penjelasan, ketika Nawang Wulan mengambil padi, ia menemukan selendang yang hilang di bawah tumpukan padi yang hampir habis. Ia lantas menyimpulkan bahwa Jaka Tarub sengaja menyembunyikannya.

Kemudian Nawang Wulan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jaka Tarub. Sebelum kembali ke khayangan, Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub agar menjaga dan merawat Nawangsih.

Endro menuturkan, petilasan Dewi Nawangsih dan Jaka Tarub saat ini berada dalam satu bangunan bersama petilasan Bondan Gejawan.

Observasi lapangan yang dilakukan KH mendapati, pada tembok bangunan di bagian luar terdapat prasasti pemugaran petilasan Gunung Bagus tampaknya dilakukan pada tahun 1999 lalu. Pada prasasti tersebut terdapat dua tokoh yang membubuhkan tanda tangan, yaitu R. Dirjo Handoko Kusumo dan KRT. Onggodiprojo. Dari Endro tidak diperoleh keterangan lanjut perihal kedua tokoh yang telah merenovasi petisalan Gunung Bagus. Terdapat tulisan Yogyakarta di bawah tanda tangan dan nama yang terakhir disebutkan di atas.

Juru jaga pasarean Gunung Bagus, Endi Sutrisno mengaku, ada banyak warga yang datang di Gunung Bagus pada malam-malam tertentu, seperti Jum’at Kliwon, Selasa Kliwon dan Jum’at Legi. Dalam ruangan cungkup tersebut, selain tiga batu nisan yang terbungkus kain kafan terdapat dua patung harimau.

Endi menambahkan, berdasar keterangan tokoh supranatural, kawasan Gunung Bagus ditunggu oleh makhluk halus harimau dan ular. Patung harimau lawas yang sebelumnya hanya berjumlah satu mengalami rusak pada beberapa bagian, sehingga oleh salah satu pengujung dicarikan pengganti.

Endi Sutrisno, juru rawat Pasarean Gunung Bagus berada di dalam bangunan makam. KH/ Kandar.

“Banyak warga berdoa memohon perbaikan wirausaha, agar mudah mendapat jodoh atau terkait prestasi pekerjaan. Meski bukan juru kunci, terkadang saya diminta menyampaikan permohonan tersebut,” terang Endi.

Bangunan pelindung makam saat ini kondisinya cukup memprihatinkan, bagian atap dan pilar mengalami rapuh. Endi berinisiatif memberikan dua tiang penyangga di bagian tengah agar tidak roboh. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar