Legenda Goa Lawa, Goa Prasejarah di Ponjong

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Goa Lawa di Ponjong memiliki pintu dan ruang yang besar. KH

PONJONG, (KH)— Di Kabupaten Gunungkidul banyak terdapat cagar budaya masa prasejarah. Tinggalan masa itu umumnya berupa menhir, sarkofagus (peti kubur batu), serta tulang dan rangka manusia purba.

Temuan-temuan tersebut banyak ditemui di sepanjang sekitar Sungai Oya, sungai terbesar di Kabupaten Gunungkidul. selain itu juga terdapat di goa-goa berukuran besar. Salah satu goa prasejarah dengan bukti temuan fosil berada di Padukuhan Sladi, Desa Umbulrejo, Kecamatan Ponjong, yang bernama Goa Lawa.

Goa Lawa dikenal oleh sebagian masyarakat menjadi tempat semedi Mbah Ugrojoyo. Ia memiliki saudara, Mbah Walik namanya. Berdasar penuturan Sukiman Siswo Sugando, tokoh sepuh di Ponjong, keduanya merupakan tokoh lokal sebagai panutan warga.

Sebelum bertapa, Ugrojoyo disuruh oleh ayahnya, Rogolelo untuk mencari Mbah Walik yang dibawa lari orang. Konon Mbah Walik memiliki paras yang cantik. Bertahun-tahun mencari tidak juga berhasil menemukan. Barulah keduannya dipertemukan tidak jauh dari desa setelah Mbah Walik pulang dengan sendirinya.

Di sebelah utara desa, dalam perjalanan pulang keduannya berhenti, Mbah Ugrojoyo meminta Mbah Walik untuk sementara waktu menunggu di sebuah tempat. Mbah Ugrojoyo hendak menyampaikan kabar terkait pertemuannya kepada orang tua terlebih dahulu, baru kemudian menjemput Mbah Walik. Tidak diketahui apa alasannya, Mbah Ugrojoyo ternyata tidak pulang ke desa tetapi memilih menuju Goa Lawa.

“Menanti tak kunjung dijemput Mbah Walik bergegas menyusul. Ia mengikuti jejak yang ternyata tidak menyusuri jalan setapak. Melalui tanda semak belukar yang ranting dan dahannya patah akhirnya Mbah Walik juga sampai di Goa Lawa,” tutur mantan dalang wayang kulit senior ini.

Setelah bertemu keduanya berbincang, Mbah Ugrojoyo sengaja tidak pulang ke desa karena hendak bersemedi di Goa Lawa. Demikian juga Mbah Walik, ia menyatakan ingin ikut bersemedi bersama, namun ditolak. Apabila ingin bersemedi dipersilahklan menempati goa lain, dengan alasan karena ia berjenis kelamin perempuan. Dipilihlah Goa Beton, goa yang memiliki sumber air.

“Puluhan tahun berlalu keduanya tidak diketahui keberadaannya. Masyarakat menduga mereka meninggal di tempat semedi masing-masing, bersama nyawa, raganya juga sirna. Keduannya menjadi makhluk halus penunggu goa,”.

Pada suatu ketika, berdasar riwayat ada warga yang kerasukan. Dalam kondisi kerasukan warga bertutur kata mengaku sebagai Mbah Ugrojoyo yang sejatinya masih ada. Malah ia dinobatkan sebagai tumenggung di dunia lain.

Semenjak saat itulah warga sekitar setiap satu tahun sekali melakukan upacara peringatan dengan menggelar pertunjukan atau ritual berupa pementasan wayang kulit di halaman goa. Hal tersebut bertujuan untuk ‘ngirim’ Mbah Ugrojoyo agar tetap terjalin hubungan yang harmoni.

Kegiatan tersebut berangsur-angsur mati, dan kini sudah tidak ada lagi. Goa Lawa, lanjut Sukiman juga menjadi tempat pilihan untuk dikunjungi sejak pada zaman kerajaan hingga era kemerdekaan. Disebut Sukiman, Sultan Agung pernah berkunjung. Bahkan Bung Karno hingga Bung Hatta juga sempat singgah melihat Goa Lawa.

Berdasar bentuk fisiknya, Goa Lawa merupakan goa yang relatif besar. Goa yang menghadap ke arah barat ini juga memiliki lubang besar di bagian atap sehingga intensitas cahaya dan sirkulasi udara cukup bagus.

Di depan goa terdapat bekas danau purba, dan akan berubah menjadi telaga pada musim penghujan. Di dalam goa terdapat wadah atau bak bentukan alam yang berfungsi sebagai penampung air. Air berasal dari akumulasi tetesan stalagtit dan air bawah permukaan tanah atau dasar goa.

“Goa Lawa pernah di survey tim PTKA jurusan Arkeologi FIB UGM. Waktu itu ditemukan beberapa artefak dari fragmen tulang, keramik, serpih, batu rijang, gerabah, dan sejumlah fosil kayu,” kata Kepala Bidang Pelestarian Warisan dan Nilai Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Ir Winarsih belum lama ini.

Belakangan, sambung Winarsih, Goa Lawa kerap dijadikan tempat penambangan oleh warga sekitar. Di dalam goa banyak terdapat kandungan phospat dan guano yang dapat dijadikan pupuk organik.  Pupuk tersebut sangat baik bagi perkembangan  tanaman buah dan sayur.

“Beberapa bagian goa mengalami kerusakan serius akibat penambangan,” imbuh Winarsih. (Kandar)

Komentar

Komentar